Geliat BTN (BBTN) Genjot Investasi Properti dengan Lelang Rumah Bekas dan KPR

ANTARA FOTO/Andry Denisah/nym.
Foto udara alat berat meratakan jalan di salah satu kompleks perumahan bersubsidi di Kendari, Sulawesi Tenggara, Kamis (16/4/2026). PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) mencatat realisasi penyaluran Kredit Program Perumahan (KPP) hingga Maret 2026 telah mencapai total plafon sekitar Rp2,17 triliun dan menjangkau lebih dari 3.291 debitur.
Penulis: Karunia Putri
25/5/2026, 15.03 WIB

Emiten perbankan pelat merah PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) menawarkan skema pembiayaan rumah bekas (second) dengan bunga mulai 5% fixed selama lima tahun. Program ini ditujukan untuk memperluas akses masyarakat memiliki hunian maupun berinvestasi properti sekaligus mendukung program tiga juta rumah pemerintah.

Senior Executive Vice President (SEVP) Assets Management BBTN Benjamen Sihombing mengatakan BBTN sudah menyiapkan sekitar 10.000 unit rumah second melalui program Lelang Akbar BTN 2026. Kata dia, properti yang dilelang ditawarkan dengan harga kompetitif, bahkan bisa mencapai 40% di bawah harga pasar.

“Melalui Lelang Akbar BTN 2026, kami ingin membuka akses yang lebih luas kepada masyarakat untuk memiliki rumah dengan harga kompetitif sekaligus memperkuat ekosistem transaksi properti second yang lebih sehat, transparan, dan mudah diakses masyarakat di Indonesia,” ujar Benjamen dalam acara Lelang Akbar BTN 2026 di Jakarta, Senin (25/5).

Adapun BBTN menargetkan sekitar 35% hingga 45% dari total unit yang ditawarkan dapat terjual tahun ini. Perseroan menilai angka tersebut sudah cukup besar untuk mendorong perputaran ekonomi sekaligus mempercepat pemulihan aset bank.

Untuk mendukung pembelian rumah lelang, BBTN menghadirkan produk KPR BTN Maju dengan bunga mulai 5% fixed selama lima tahun, uang muka mulai 1%, serta tenor hingga 30 tahun.

Benjamen mengatakan rumah second dan aset lelang kini semakin diminati masyarakat karena menawarkan harga lebih terjangkau dengan lokasi yang umumnya sudah berkembang dan memiliki fasilitas lengkap.

Berdasarkan demografinya, properti lelang BBTN paling banyak berada di Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan.

“Tapi yang paling kental itu ada di Jawa Barat. Karena Jawa Barat ini kan sebetulnya kalau kita lihat adalah penyangga utama properti. Jadi kami justru di Jawa Barat saking gedenya itu, bahkan [ada] 2 wilayah [lelang] kita buat di sana, Jabar 1 dan Jabar 2 ,” ujar dia.

Selain itu, BBTN juga mencatat mayoritas pembeli rumah lelang berasal dari kelompok usia di bawah 45 tahun atau generasi milenial. Menurut Benjamen, tren tersebut menunjukkan mulai meningkatnya minat generasi muda untuk berinvestasi properti.

Dia memandang minat tersebut didorong karena harga rumah yang lebih murah sekitar 20% hingga 40% dibanding harga pasar. Juga lokasi properti lelang yang umumnya sudah berada di kawasan matang dengan fasilitas lengkap seperti rumah sakit dan pasar.

Property Expert Panangian Simanungkalit menilai pasar properti residensial berpotensi bangkit dalam beberapa tahun ke depan, terutama didorong meningkatnya partisipasi masyarakat dalam membeli rumah.

“Ini menjadi momentum yang baik untuk membeli dan berinvestasi properti,” kata Panangian.

Sementara itu, Direktur Lelang Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) Syukriah mengatakan jenis aset yang paling banyak dilelang secara nasional masih didominasi tanah dan bangunan, disusul ruko dan perkebunan.

Menurut dia, sepanjang 2025 frekuensi lelang melalui KPKNL di seluruh Indonesia mencapai sekitar 1,5 juta transaksi dengan tingkat penjualan sekitar 30%.

Syukriah menilai program pembiayaan BTN dengan bunga 5% dapat memperluas akses masyarakat menjadi investor properti, khususnya investor pemula.

“Program ini selaras dengan target pemerintah dalam pemenuhan hunian masyarakat melalui program tiga juta rumah,” ujar Syukriah.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Karunia Putri