IHSG Diproyeksikan Naik, Analis Rekomendasikan Saham AMRT, INCO, BRPT, ENRG
Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG diproyeksikan menghijau pada perdagangan saham hari ini, Rabu (3/6).
Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana memperkirakan IHSG masih bergerak dalam fase wave [v] dari wave A pada wave (2) berdasarkan skenario Elliott Wave. Dalam jangka pendek, ia menilai indeks masih berpeluang melanjutkan penguatan dan menguji area 6.362 hingga 6.484.
“Dengan area koreksi terdekat berada di 5,899-6,080,” tulis Herditya dalam risetnya, Rabu (3/6).
MNC Sekuritas menetapkan batas support di 5.996–5.889 dan resistance IHSG di 6.318–6.459.
Support adalah area harga saham tertentu yang diyakini sebagai titik terendah pada satu waktu. Saat menyentuh support, harga umumnya akan kembali naik karena daya beli saham naik.
Sementara resistance merupakan tingkat harga saham tertentu yang dinilai sebagai titik tertinggi. Setelah saham menyentuh level ini, biasanya akan ada aksi jual cukup besar hingga laju kenaikan harga tertahan.
MNC Sekuritas merekomendasikan buy on weakness sejumlah saham. Misalnya PT Barito Pacific Tbk (BRPT) akumulasi beli di rentang Rp 1.750–Rp 1.845 dengan target harga di Rp 2.140–Rp 2.520, sementara level stoploss di bawah Rp 1.600.
Kemudian PT Vale Indonesia Tbk (INCO) direkomendasikan buy on weakness pada area Rp 4.150–Rp 4.370 dengan target harga di Rp 5.025–Rp 5.575, serta stoploss di bawah Rp 4.110.
Sentimen IHSG
Phintraco Sekuritas mencatat IHSG ditutup menguat 1,11% ke level 6.195,43 pada perdagangan Selasa (2/6). Sejalan dengan itu, rupiah juga menguat 0,2% dan ditutup di level Rp 17.830 per dolar AS.
Secara teknikal, Phintraco menilai IHSG masih menunjukkan sinyal positif setelah mampu bertahan di atas level moving average (MA) 5 hari. Selain itu, histogram negatif MACD terus menyempit, sementara Stochastic RSI bergerak menuju area pivot.
“Sehingga diperkirakan IHSG berpotensi menlanjutkan penguatan dengan menguji level 6.220–6.280,” tulis Phintraco Sekuritas dalam analisisnya, Rabu (3/6).
Phintraco Sekuritas menilai tekanan inflasi mulai meningkat setelah inflasi tahunan pada Mei 2026 naik menjadi 3,08% secara tahunan (year on year/YoY) dari 2,42% pada April 2026. Kenaikan terbesar berasal dari kelompok makanan yang mencatat inflasi 4,94% YoY, lebih tinggi dibandingkan 3,06% pada bulan sebelumnya, didorong oleh naiknya harga bahan pokok dan biaya distribusi. Inflasi inti juga meningkat menjadi 2,59% YoY dari 2,44% YoY.
Meski masih berada dalam rentang target Bank Indonesia (BI) sebesar 1,5%-3,5%, Phintraco memperkirakan BI masih berpotensi menaikkan suku bunga acuan apabila inflasi terus menguat dan rupiah mengalami depresiasi lebih lanjut.
Di sisi lain, aktivitas manufaktur menunjukkan perbaikan. Indeks PMI manufaktur Indonesia naik ke level 50 pada Mei 2026 dari 49,1 pada April 2026 dan level terendah dalam 10 bulan.
Kenaikan tersebut mengindikasikan kondisi sektor manufaktur yang relatif stabil. Pesanan baru tercatat meningkat selama dua bulan berturut-turut, meski pesanan ekspor masih tertekan akibat konflik di Timur Tengah.
Dari sektor eksternal, Phintraco mencatat surplus neraca perdagangan Indonesia menyusut menjadi US$ 0,09 miliar pada April 2026 dari US$ 3,32 miliar pada Maret 2026. Capaian tersebut juga lebih rendah dibandingkan surplus US$0,2 miliar pada April 2025 dan menjadi surplus terkecil sejak April 2020.
Penyusutan surplus itu karena impor melonjak 22,5% YoY, terutama ditopang kenaikan impor migas sebesar 85,52%, sementara impor nonmigas tumbuh 14,11%. Pada saat yang sama, ekspor meningkat 21,98% YoY pada April 2026, berbalik dari kontraksi 3,1% pada Maret 2026.
Angka ini menjadi pertumbuhan ekspor tertinggi sejak Agustus 2022. Kenaikan impor migas antara lain dipengaruhi oleh lonjakan harga minyak mentah dunia.
Phintraco Sekuritas merekomendasikan sejumlah saham di antaranya yakni PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR), PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA), dan PT Surya Citra Media Tbk (SCMA).