Strategi Emiten Ritel MDIY dan RANC Hadapi Kurs Rupiah 18.000 per Dolar AS

Katadata/Hari Widowati
Gerai MR DIY di Plaza Blok M, Jakarta Selatan.
Penulis: Karunia Putri
Editor: Ahmad Islamy
5/6/2026, 13.37 WIB

Pelemahan rupiah yang terus terjadi belakangan ini mendorong sebagian pelaku usaha dalam negeri untuk mengatur ulang strategi bisnis mereka. Hal itu juga berlaku bagi sejumlah emiten ritel modern.

Saat ini, posisi kurs mata uang nasional sudah menembus level Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS).

Pengelola jaringan ritel kebutuhan rumah tangga MR DIY Indonesia, PT Daya Intiguna Yasa Tbk (MDIY), memastikan tidak akan menaikkan harga produk meski nilai tukar rupiah terus merosot. Perseroan menegaskan, keterjangkauan harga tetap menjadi prioritas utama untuk menjaga daya beli masyarakat.

Direktur MDIY Hendra Kurniawan mengatakan, perusahaan berkomitmen menetapkan harga yang sama sebagai upaya menjaga stabilitas harga di tengah ketidakpastian ekonomi dan pelemahan nilai tukar rupiah.

"Kami ingin menegaskan bahwa keterjangkauan harga tetap menjadi prioritas utama MR DIY Indonesia," kata Hendra dalam keterangan resmi, dikutip pada Jumat (5/6).

Menurut dia, komitmen tersebut dihadirkan untuk memberikan kepastian kepada konsumen agar tetap dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan harga yang terjangkau. Produk yang ditawarkan mencakup berbagai kebutuhan rumah tangga hingga perlengkapan usaha.

Dengan jaringan lebih dari 1.300 toko yang tersebar di seluruh Indonesia, MR DIY terus memperluas akses masyarakat terhadap produk kebutuhan sehari-hari yang lengkap, terjangkau, dan mudah dijangkau.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah membuka perdagangan Jumat (5/6) ini di level Rp 18.066 per dolar AS atau melemah 0,08% dibandingkan penutupan sebelumnya.

Hingga pukul 13.25 WIB, rupiah masih berada di level 18.037,65 per dolar AS. Sementara pada perdagangan Kamis (4/6), rupiah ditutup di posisi Rp 18.049 per dolar AS, melemah 0,45% dibandingkan sehari sebelumnya yang berada di level Rp 17.967 per dolar AS.

Di sisi lain, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi tahunan Indonesia pada Mei 2026 mencapai 3,08%, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 1,60%. Meski masih berada dalam target Bank Indonesia sebesar 1,5% hingga 3,5%, kenaikan inflasi tersebut mulai menjadi perhatian pelaku usaha.

Farmers Market (RANC) Mulai Sesuaikan Harga

Berbeda dengan MR DIY, pengelola jaringan Farmers Market yaitu PT Supra Boga Lestari Tbk (RANC) mengaku telah melakukan penyesuaian harga pada sejumlah produk menyusul kenaikan harga dari pemasok.

Direktur RANC Elsa Dian Tiffani mengatakan, sebagian besar vendor telah lebih dulu menaikkan harga, sehingga penyesuaian tidak dapat dihindari.

"Iya, sebagian besar sudah ada penyesuaian karena dari pihak vendor sendiri sudah melakukan penyesuaian harga," kata Elsa seusai paparan publik perusahaan di Jakarta, Rabu (3/6).

Kendati demikian, Elsa menilai pelemahan rupiah tidak sepenuhnya menjadi sentimen negatif bagi bisnis perusahaan. Menurut dia, segmen pelanggan Farmers Market yang didominasi kelompok menengah atas membuat daya beli relatif lebih terjaga.

Ia memperkirakan konsumen menjadi lebih selektif dalam berbelanja. Untuk menjaga penjualan, perusahaan akan memperkuat berbagai program promosi dan aktivitas pemasaran agar pelanggan tetap berbelanja sesuai kebutuhan.

"Kami berharap masyarakat akan lebih banyak makan dan memasak di rumah sehingga tetap berbelanja di Farmers Market," ujarnya.

Di tengah tantangan ekonomi, RANC menargetkan pendapatan sebesar Rp 3,3 triliun pada 2026, meningkat dari realisasi pendapatan tahun 2025 sebesar Rp 2,91 triliun.

Direktur RANC Hady Purnama mengatakan, perusahaan tetap optimistis terhadap prospek bisnis tahun ini dengan fokus pada peningkatan kualitas layanan, ketersediaan produk, serta pengalaman berbelanja pelanggan.

"Strategi bisnis perseroan akan difokuskan pada penguatan kualitas layanan, ketersediaan produk, dan pengalaman berbelanja pelanggan yang didukung program pemasaran dan promosi yang efektif," kata Hady.

Perseroan juga mengalokasikan belanja modal sebesar Rp 130 miliar yang akan digunakan untuk pembukaan gerai baru, renovasi toko, peremajaan peralatan, serta pengembangan teknologi informasi.

Dana investasi tersebut berasal dari kas internal dan fasilitas pembiayaan perbankan. Tahun ini, perusahaan menargetkan membuka empat gerai baru. Tiga gerai telah beroperasi pada kuartal pertama 2026, sementara satu gerai lainnya dijadwalkan dibuka di Jakarta pada Juni 2026.

Meski masih membukukan rugi bersih Rp 53,08 miliar pada 2025, manajemen optimis kinerja perusahaan akan membaik seiring berbagai langkah efisiensi dan ekspansi yang sedang dijalankan.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Karunia Putri