BEI Ungkap 3 Emiten Bakal IPO pada Juni-Juli 2026, Intip Sektornya

vecteezy.com/ecaterina tolicova
Ilustrasi initial public offering (IPO) atau penawaran umum saham perdana di Bursa Efek Indonesia (BEI).
8/6/2026, 16.20 WIB

Bursa Efek Indonesia (BEI) mengungkapkan hingga saat ini terdapat 12 perusahaan dalam pipeline (antrean) initial public offering (IPO) alias penawaran umum saham perdana. Dari jumlah itu, ada tiga calon emiten yang akan melantai dalam waku dekat.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna mengatakan, satu perusahaan berasal dari sektor consumer non-cyclicals dan telah mengantongi persetujuan prinsip bursa. Sementara dua perusahaan di sektor kesehatan, berpeluang memperoleh persetujuan juga pada bulan ini.

Ketiga calon emiten tersebut menargetkan pencatatan saham di bursa pada akhir Juni hingga awal Juli 2026. “Untuk 9 calon emiten lain statusnya masih dalam proses evaluasi dan penelaahan dokumen,” ungkap Nyoman dalam keterangannya, Senin (8/6).

Dikatakan bahwa jumlah perusahaan yang masuk dalam pipeline IPO di BEI telah berkurang tiga perusahaan. Nyoman menyebut turunnya jumlah calon emiten itu disebabkan adanya revisi laporan keuangan perusahaan yang akan menggunakan laporan keuangan yang baru.

“Ada yang masih membutuhkan kelengkapan dokumen, ada yang belum disetujui,” kata Nyoman dalam keterangannya dikutip Senin (8/6).

Dari total 12 calon emiten yang masuk pipline IPO saat ini, delapan di antaranya adalah perusahaan berskala besar dengan aset di atas Rp 250 miliar. Adapun empat perusahaan lainnya masuk kategori perusahaan menengah dengan total aset antara Rp 50 miliar hingga Rp 250 miliar.

Berdasarkan sektor usahanya, perusahaan yang berada dalam antrean IPO berasal dari berbagai sektor, mulai dari konsumer siklikal, konsumer nonsiklikal, keuangan, kesehatan, infrastruktur hingga teknologi. Sementara itu, sektor material dasar, energi, dan industri belum tercatat dalam pipeline IPO saat ini.

Berikut daftar jumlah emiten yang tengah mengantre IPO berdasarkan sektornya:

  • 3 perusahaan dari sektor konsumer siklal

  • 2 perusahaan dari sektor consumer bukan siklal

  • 1 perusahaan dari sektor finansial

  • 3 perusahaan dari sektor kesehatan

  • 2 perusahaan dari sektor infrastruktur

  • 1 perusahaan dari sektor teknologi

Selain IPO, BEI juga mencatat terdapat 53 emisi dari 36 penerbit efek bersifat utang dan sukuk (EBUS) yang masih berada dalam pipeline hingga 5 Juni 2026. Penerbit tersebut berasal dari berbagai sektor, antara lain material dasar, energi, keuangan, dan infrastruktur.

Di sisi lain, hingga 5 Juni 2026, terdapat empat perusahaan tercatat yang telah merealisasikan aksi korporasi rights issue dengan total nilai mencapai Rp3,89 triliun. Saat ini masih terdapat satu perusahaan dari sektor properti yang berada dalam pipeline rights issue BEI.

Tak Seramai Tahun-Tahun Sebelumnya

Gelombang IPO alias pencatatan saham perdana pada 2026 diperkirakan tidak seramai tahun-tahun sebelumnya. Sejumlah calon emiten memilih menunda IPO pada awal tahun ini.

Plt Direktur Utama BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Fifi Virgantaria mengatakan, salah satu ketakutan calon emiten untuk melantai di BEI adalah terkait dengan aturan baru free float. Selain itu, pemeriksaan terhadap beberapa emiten juga memunculkan kekhawatiran di pasar untuk IPO.

“Soal free float yang harus lebih tinggi dibandingkan sebelumnya, ini kan jadi PR (pekerjaan rumah) bersama juga gitu, sih,” kata Fifi pada Februari lalu.   

Sepinya IPO pada kuartal pertama tahun ini juga sebagai imbas pengumuman MSCI yang membekukan pasar modal RI untuk rebalancing Februari dan Mei 2026. Tak hanya itu, MSCI sebelumnya menyebut kabar terburuknya adalah pasar RI bisa turun kasta ke frontier market alias pasar perintis.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nur Hana Putri Nabila