MSCI Mulai Umumkan Status Negara Besok, Ini Proyeksi Analis soal Nasib Pasar RI

MSCI
Ilustrasi logo Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Penulis: Karunia Putri
Editor: Ahmad Islamy
17/6/2026, 10.41 WIB

MSCI segera mengumumkan hasil review untuk dua agenda penting. Lembaga itu dijadwalkan merilis Global Market Accessibility Review pada Kamis (18/6) disusul Annual Market Classification Review pada 23 Juni 2026 waktu Eropa atau Rabu (24/6) dini hari WIB.

Dua keputusan tersebut dinilai akan menjadi penentu arah pasar Indonesia. Dua hal penting yang dinantikan investor adalah apakah MSCI akan mencabut pembekuan (freeze) penambahan konstituen baru ke dalam indeks, termasuk membuka kembali peluang peningkatan foreign inclusion factor (FIF) dan number of shares (NOS). 

Selain itu, pasar juga mencermati apakah Indonesia akan tetap dipertahankan dalam kelompok emerging market (pasar berkembang) atau justru diturunkan menjadi frontier market (pasar perintis).

Berdasarkan pengumuman terakhir MSCI pada 20 April 2026, lembaga itu menyebutkan akan mengevaluasi kembali perlakuan terhadap pasar Indonesia dalam Market Accessibility Review edisi Juni 2026.

Investment Analyst Lead Stockbit Group, Edi Chandren menilai, skenario yang paling positif adalah apabila MSCI mencabut pembekuan atau setidaknya memberikan sinyal kuat bahwa kebijakan tersebut akan segera diakhiri. Langkah itu dinilai akan memperbesar peluang Indonesia mempertahankan status sebagai emerging market.

"Kami memperkirakan hal ini diikuti dengan dipertahankannya status emerging market pada 23 Juni 2026. Market [pasar] berpotensi merespons sangat positif pada skenario ini," kata Edi dalam risetnya yang dikutip Rabu (17/6).

Skenario lain yang juga dipandang positif adalah jika MSCI tetap mempertahankan pembekuan, tetapi memberikan nada optimistis mengenai peningkatan keterbukaan dan transparansi data kepemilikan saham. Dalam kondisi tersebut, sentimen pasar diperkirakan tetap terjaga karena investor akan lebih menyoroti arah kebijakan MSCI dibandingkan keputusan mempertahankan pembekuan.

Sebaliknya, apabila MSCI mempertahankan pembekuan sekaligus memperpanjang masa evaluasi tanpa memberikan sinyal perbaikan terhadap aksesibilitas pasar Indonesia, Edi memperkirakan respons pasar cenderung netral hingga sedikit negatif. Menurut dia, pengumuman klasifikasi pasar pada 23 Juni berpotensi menjadi non event apabila tidak ada perkembangan baru.

Adapun skenario terburuk adalah apabila MSCI memasukkan Indonesia ke dalam frontier market watchlist sebagai langkah awal menuju penurunan status menjadi frontier market

"Namun mengingat perkembangan reformasi dan transparansi data sejauh ini, kami menilai skenario ini memiliki probabilitas yang rendah," ujarnya.

Pandangan serupa disampaikan Analis Panin Sekuritas Cabang Pondok Indah, Elandry Pratama. Menurut dia, peluang Indonesia untuk tetap bertahan sebagai emerging market masih lebih besar dibandingkan kemungkinan diturunkan ke frontier market.

Elandry menilai Indonesia masih memiliki likuiditas dan kapitalisasi pasar yang besar serta memegang peran penting di kawasan Asia Tenggara. Meski MSCI masih memberikan sejumlah catatan mengenai aksesibilitas pasar, faktor-faktor tersebut dinilai menjadi modal kuat bagi Indonesia untuk mempertahankan statusnya.

Ia memperkirakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan bergerak fluktuatif di kisaran 6.150 hingga 6.350 menjelang pengumuman MSCI. Itu dikarenakan investor cenderung menunggu kepastian hasil review.

"Selama tidak ada kejutan negatif, saya melihat sentimen pasar masih relatif terjaga," kata Elandry.

Menurut dia, apabila status Indonesia sebagai emerging market tetap dipertahankan, potensi arus keluar dana asing tidak akan signifikan. Bahkan, kepastian tersebut berpeluang mengurangi ketidakpastian di pasar dan mendorong kembali aliran modal asing ke pasar saham domestik.

Jelang hasil review MSCI, IHSG bergerak melesat dalam beberapa hari ke belakang. Pada perdagangan hari ini, Rabu (17/6), IHSG naik 1,85% ke level 6.370 pukul 9.15 WIB. Volume perdagangan sebanyak 14,92 miliar saham dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp 10.943 dan valuasi sebesar Rp 12,42 triliun.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Karunia Putri