Polisi Ajukan Tambahan Anggaran Jadi Rp 184 T, Alasan Efek Rupiah Melemah

ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin/bar
Personel polisi berjaga saat unjuk rasa mahasiswa di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Jumat (12/6/2026).
Penulis: Andi M. Arief
Editor: Yuliawati
17/6/2026, 13.05 WIB

Wakil Kepala Kepolisian RI Dedi Prasetyo mengatakan penguatan Dolar Amerika Serikat terhadap rupiah dan harga bahan bakar bensin telah mendongkrak kebutuhan anggaran tahun depan.

Dedi memaparkan anggaran yang dibutuhkan penegak hukum pada tahun depan naik Rp 5,48 triliun dari Rp 178,69 triliun menjadi Rp 184,18 triliun. Dedi menyampaikan peningkatan tersebut merupakan hasil rasionalisasi terhadap kenaikan BBM dan pelemahan kurs.

"Kalau dibandingkan dengan pagu indikatif 2027, masih ada kekurangan anggaran Rp 66,1 triliun untuk memenuhi kebutuhan tersebut," kata Dedi dalam rapat kerja dengan Komisi II DPR, Rabu (17/6).

Bank Indonesia mendata nilai tukar rupiah telah menembus Rp 18.000 per Dolar Amerika Serikat hampir sepekan pada 4 Juni 2026 sampai 9 Juni 2026. Rupiah tercatat pada posisi terlemah 8 Juni 2026 atau di level Rp 18.171 per Dolar Amerika Serikat.

Kepala Center of Macroeconomics and Finance INDEF, Rizal Taufikurahman, mengatakan sekitar 70% bahan baku industri manufaktur di Indonesia masih berasal dari impor. Karena itu, pelemahan kurs rupiah akan langsung berdampak pada kenaikan biaya pembelian bahan baku, komponen, mesin, hingga biaya logistik dan energi.

"Level rupiah yang menembus Rp 18.000 per dolar AS sudah menjadi alarm serius bagi dunia usaha," ujar Rizal kepada Katadata.co.id, Senin (8/6).

Sementara itu, PT Pertamina telah menaikkan harga Pertamax dari sebelumnya Rp12.300 ke Rp16.250/liter. Bensin Pertamax Green juga naik dari Rp12.900/liter ke Rp17.000/liter. Langkah ini dilakukan karena harga minyak global yang kian mahal imbas konflik geopolitik.

Selain Pertamina, bensin nonsubsidi dari pemain lain seperti BP-AKR dan Vivo juga mengalami kenaikan di Juni ini. BP 92 dan Revvo 92 yang tadinya dipatok Rp12.390 menjadi Rp16.670/liter. Sementara BP Ultimate 95 dan Revvo 95 juga berubah dari Rp12.930 ke Rp17.240/liter,

“Penyesuaian pada harga BBM nonsubsidi ini dilakukan dengan mempertimbangkan dinamika geopolitik global dan harga minyak yang berlaku di pasar internasional, dengan tetap mempertimbangkan daya beli masyarakat,” kata Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri melalui instagram resmi Pertamina, 11 Juni lalu.

Merujuk data Investing, harga minyak Brent per 16 Juni mencapai US$83,3/barel atau naik 37,1% sejak awal Januari tahun ini. Sementara harga minyak WTI naik ke level US$80,6/barel alias 40,6% sejak awal tahun.

Imbas 59% kebutuhan bensin Indonesia yang masih diimpor pada sepanjang tahun, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar yang turun -6% sejak awal tahun membuat biaya impor membengkak.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Andi M. Arief