Menilik Strategi Bisnis MAPA dan MAPI: Ekspansi hingga Akuisisi Merek Global

Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA
Gerai Sports Station di kawasan Summarecon Mall Bekasi, Jawa Barat (4/4). Sports Station merupakan salah satu merek ritel yang dikelola Grup MAP.
Penulis: Karunia Putri
Editor: Ahmad Islamy
22/6/2026, 11.53 WIB

Dua emiten ritel di bawah Grup MAP yaitu PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA) dan PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) giat memperluas bisnis sepanjang tahun ini melalui ekspansi jaringan gerai dan akuisisi sejumlah merek internasional. Strategi tersebut didukung oleh meningkatnya konsumsi masyarakat dan tren gaya hidup sehat.

MAPA yang bergerak di bisnis ritel perlengkapan olahraga membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 470,57 miliar pada kuartal pertama 2026. Angka itu naik 38,41% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 339,98 miliar.

Kinerja tersebut ditopang oleh kenaikan pendapatan menjadi Rp 4,95 triliun, tumbuh dari Rp 4,31 triliun pada kuartal pertama 2025. Sebagian besar pendapatan berasal dari penjualan eceran senilai Rp 4,59 triliun, sedangkan penjualan bukan eceran mencapai Rp 362,59 miliar.

Sejalan dengan pertumbuhan bisnisnya, MAPA mempercepat ekspansi di Asia Tenggara. Sepanjang 2026, perusahaan membuka 13 gerai baru di Indonesia, serta masing-masing dua gerai di Filipina, Singapura, Thailand, Vietnam dan Malaysia.

Hingga kuartal pertama 2026, MAPA telah mengoperasikan lebih dari 2.200 gerai di tujuh negara. Indonesia masih menjadi pasar terbesar dengan total 1.843 gerai.

Perseroan menyatakan akan tetap berfokus pada ekspansi yang disiplin dan mempercepat pembukaan gerai di kawasan Asia Tenggara untuk memperkuat pangsa pasar regional.

Pertumbuhan bisnis MAPA sejalan dengan meningkatnya minat masyarakat terhadap gaya hidup sehat. Survei Populix pada Maret 2026 menunjukkan pengeluaran masyarakat untuk olahraga tidak hanya dialokasikan untuk aktivitas seperti keanggotaan pusat kebugaran, tetapi juga untuk membeli perlengkapan olahraga.

Dalam laporannya, Populix menyebut pakaian dan sepatu olahraga menjadi kategori dengan permintaan tertinggi karena kini tidak hanya digunakan untuk berolahraga, tetapi juga sebagai bagian dari gaya hidup sehari-hari.

Sebanyak 72% responden mengaku membeli produk pakaian olahraga dalam satu tahun terakhir, menjadikannya kategori produk olahraga yang paling banyak dibeli.

MAPI Catat Kenaikan Laba 33%

Sementara itu, perusahaan induk Grup MAP, PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI), juga mencatatkan pertumbuhan kinerja pada kuartal pertama 2026. Laba bersih MAPI naik 32,98% menjadi Rp 628,03 miliar, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 472,26 miliar.

Pendapatan perseroan juga naik menjadi Rp 12,29 triliun, dari Rp 9,30 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Hingga kuartal pertama 2026, MAPI mengoperasikan 4.192 gerai ritel dan 55 toko daring yang tersebar di tujuh negara, yakni Indonesia, Filipina, Vietnam, Singapura, Thailand, Malaysia dan Kamboja.

Untuk menjaga pertumbuhan bisnis, MAPI menerapkan sejumlah strategi pada 2026 dan tahun-tahun berikutnya, meliputi ekspansi yang selektif, peningkatan efisiensi operasional, penguatan digitalisasi, pengembangan sumber daya manusia serta peningkatan pengalaman pelanggan.

Selain memperluas jaringan toko, MAPI juga memperkaya portofolio mereknya melalui akuisisi sejumlah brand internasional sepanjang 2025 hingga 2026, di antaranya Kenzo, Guess, ACE dan Hollister.

Konsumsi Rumah Tangga Naik Kuartal I 2026

Prospek industri ritel turut ditopang oleh pertumbuhan ekonomi domestik. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,61% secara tahunan pada kuartal pertama 2026.

Nilai produk domestik bruto (PDB) atas dasar harga konstan meningkat dari Rp 3.264,6 triliun pada kuartal pertama 2025 menjadi Rp 3.447,7 triliun pada periode yang sama tahun ini. Sementara itu, PDB atas dasar harga berlaku mencapai Rp 6.187,2 triliun.

Di sisi permintaan, konsumsi rumah tangga tumbuh 5,52% secara tahunan, menjadi laju pertumbuhan tertinggi sejak akhir 2023 ketika konsumsi sempat berada di bawah 5%.

Meski begitu, konsumsi rumah tangga belum menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan tertinggi justru berasal dari konsumsi pemerintah yang melonjak 21,81% pada kuartal pertama 2026.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Karunia Putri