Membaca Sinyal BTN (BBTN) Buyback Saham hingga Akuisisi Aset Rp 19,92 Triliun

Katadata/Fauza Syahputra
Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu (ketiga kanan), bersama Wakil Direktur Utama Oni Febriarto Rahardjo (kanan), Komisaris Utama Bank BTN Suryo Utomo (keempat kiri) dan Wakil Komisaris Utama Dwi Ary Purnomo (kedua kiri) memimpin Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) di Menara BTN, Jakarta, Rabu (7/1/2026).
24/6/2026, 10.48 WIB

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) memberikan sinyal akan melakukan pembelian kembali saham atau buyback hinga mengumumkan akuisisi dengan target mencapai Rp 19,92 triliun.  

Sinyal itu muncul setelah Badan Daya Anagata Nusantara (Danantara) mendorong BUMN untuk menciptakan nilai bagi pemegang saham di tengah kondisi fundamental perusahaan yang solid. 

Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu mengatakan, perusahaan mempertimbangkan buyback untuk mendukung program kepemilikan saham karyawan seperti bonus berbasis saham maupun stock option. BTN mengkaji opsi tersebut karena porsi saham publik (free float) BBTN saat ini sudah mendekati batas minimum yang dipersyaratkan.

Nixon menilai harga saham BBTN saat ini masih berada di bawah nilai wajarnya (undervalued). 

“Saat ini (buyback saham) belum masuk dalam rencana bisnis bank (RBB), tetapi akan kami coba kaji untuk dimasukkan dalam revisi RBB,” jelas Nixon dalam keterangannya, dikutip Rabu (24/6).

Sebelumnya, Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia, Dony Oskaria, menilai buyback sebagai aksi korporasi wajar, khususnya ketika harga saham dinilai belum mencerminkan fundamental perusahaan. “Daripada investasi di tempat lain, lebih baik kita investasi pada saham perusahaan sendiri apabila memang fundamentalnya kuat,” ujar Dony.

Dia menilai sejumlah BUMN memiliki fundamental bisnis yang kuat, mulai dari sektor perbankan, pertambangan, infrastruktur, hingga berbagai lini usaha lainnya. Dengan kondisi tersebut, perusahaan-perusahaan pelat merah itu dinilai memiliki ruang untuk terus menciptakan nilai tambah bagi pemegang saham. 

Geliat Akuisisi BTN 

Di sisi lain, BTN juga terus memperkuat fundamental bisnis melalui pertumbuhan organik maupun anorganik. Salah satu langkah terbarunya ialah mengakuisisi portofolio aset milik PT Bank SMBC Indonesia Tbk.

Kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK), BTN mengumumkan telah menandatangani dua perjanjian pengalihan kredit pensiunan, prapensiunan, dan karyawan aktif BUMN maupun lembaga pemerintahan dari Bank SMBC Indonesia pada 22 Mei 2026. Transaksi tersebut dilakukan melalui skema Conditional Portfolio Transfer Agreement (CPTA) dan Conditional Loan Asset Transfer Agreement (CLATA).

Melalui CPTA, BTN akan mengakuisisi portofolio pinjaman pensiunan dan prapensiunan peserta Taspen senilai Rp 12,58 triliun. Adapun melalui CLATA, perseroan akan mengambil alih aset pinjaman pensiunan Asabri, dana pensiun lainnya, serta pinjaman karyawan aktif BUMN dan lembaga pemerintah dengan nilai sekitar Rp 7,34 triliun.

Dengan demikian, apabila dikalkulasikan total nilai aset yang akan diakuisisi mencapai Rp 19,92 triliun.

Analis Bahana Sekuritas, Razqi M Kurniawan, menilai akuisisi aset tersebut berpotensi menciptakan nilai tambah yang signifikan bagi BTN tanpa menimbulkan dilusi bagi pemegang saham.

“Akuisisi portofolio tersebut juga dinilai mampu menjawab sejumlah tantangan struktural BTN melalui penambahan aset dengan yield lebih menarik, risiko kredit lebih terkendali, serta profil aset dengan durasi lebih pendek,” ujar Razqi. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nur Hana Putri Nabila