Target Ambisius BEI: 1.100 Emiten dan Market Cap Rp 30 Ribu Triliun pada 2030

Katadata/Fauza Syahputra
Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik.
29/6/2026, 15.24 WIB

Bursa Efek Indonesia (BEI) menargetkan jumlah perusahaan yang tercatat di pasar modal bisa mencapai 1.100 emiten dengan total market cap alias kapitalisasi pasar Rp 30.000 triliun pada 2030.  Saat ini, emiten yang tercatat di BEI hingga Juni 2026 berjumlah 957 perusahaan terbuka. 

Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik mengatakan, otoritas BEI telah menetapkan sejumlah target yang ingin dicapai hingga empat tahun ke depan. Selain soal jumlah emiten dan market cap, pihaknya juga ingin mewujudkan rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) mencapai Rp 31 triliun pada 2030.

Selain itu, kata Jeffrey, BEI juga menargetkan jumlah investor pasar modal mencapai 35 juta pada tahun itu. Di bawah kepemimpinannya, pasar modal RI juga membidik rasio kapitalisasi pasar terhadap produk domestik bruto (PDB/GDP) berada di atas 83%.

“Di Tahun 2030, kami yakini tidak mudah. Tetapi ini adalah apa yang harus kita capai, yang ingin kita capai untuk pasar modal Indonesia ke depan, bagaimana bisa membawa BEI menjadi 10 bursa besar di dunia,” ucap Jeffrey dalam konferensi pers secara virtual, Senin (29/6). 

Dia menuturkan, berdasarkan kapitalisasi pasar dan rata-rata nilai transaksi harian, posisi BEI saat ini masing-masing berada di peringkat ke-19 dan ke-17 di dunia. Demi mencapai target pada 2030, BEI telah menyiapkan empat pilar utama strategi.

Pilar pertama adalah mendorong pertumbuhan bisnis berbasis transaksi. Kedua, mengembangkan sumber pendapatan dari bisnis nontransaksi. Ketiga, meningkatkan kuantitas sekaligus kualitas perusahaan tercatat. Sementara pilar keempat adalah memperluas inklusivitas agar seluruh segmen investor di pasar modal Indonesia dapat berpartisipasi.

Menurut Jeffrey, seluruh strategi tersebut harus ditopang oleh peran utama BEI sebagai penyelenggara infrastruktur pasar modal. Oleh karena itu, pencapaian target tersebut memerlukan dukungan infrastruktur perdagangan, sistem pengawasan, serta infrastruktur pendukung lainnya agar operasional BEI dapat berjalan secara optimal.

Jeffrey mengatakan, visi BEI tetap menjadi bursa yang kompetitif dengan kredibilitas berstandar dunia. Demi mewujudkan itu, BEI mengusung misi membangun infrastruktur pasar keuangan yang tepercaya dan kredibel guna menciptakan pasar yang teratur, wajar, efisien, serta dapat diakses oleh seluruh pemangku kepentingan melalui pengembangan produk dan layanan yang inovatif.

Kinerja Keuangan BEI pada Tahun 2025

Sejalan dengan pertumbuhan aktivitas pasar modal, BEI membukukan kinerja keuangan yang positif. Pendapatan konsolidasi meningkat  29,8% menjadi Rp 3 ,66 triliun, dengan faktor utama pendorong peningkatan RNTH menjadi Rp 18,07 triliun adalah pertumbuhan jasa transaksi efek yang mencapai 41% serta jasa kliring sebesar 41,3%.

Perseroan juga terus melakukan diversifikasi sumber pendapatan melalui jasa informasi, pendapatan investasi, dan kontribusi anak usaha, sehingga pendapatan nontransaksi meningkat 14,6%. Sementara pendapatan lainnya tumbuh 17%. Di sisi lain, jumlah beban meningkat 17,1% menjadi Rp 2,37 triliun, terutama akibat meningkatnya kontribusi tahunan kepada OJK seiring bertambahnya aktivitas transaksi pasar modal.

Dengan kinerja tersebut, laba bersih BEI tumbuh 59,4% menjadi Rp 1,07 triliun dan merupakan laba bersih tertinggi sepanjang sejarah bursa nasional. Total aset meningkat 32% menjadi Rp 14,78 triliun, sedangkan ekuitas tumbuh 14% menjadi Rp 9,45 triliun.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nur Hana Putri Nabila