Timang-Timang IPO RANS Milik Raffi Ahmad–Nagita, Potensi Cuan atau Value Trap?

RANS Entertainment
RANS Entertainment adalah perusahaan hiburan dan gaya hidup terintegrasi yang didirikan Raffi Ahmad dan Nagita Slavina.
6/7/2026, 09.03 WIB

Rencana penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) PT RANS Entertainmen Indonesia Tbk (RANS) tak sepenuhnya disambut antusias oleh pelaku pasar. Perusahaan media dan hiburan milik pasangan Raffi Ahmad dan Nagita Slavina itu disorot terkait sejumlah bisnisnya yang tak berjalan hingga dikaitkan dengan potensi menjadi jalan keluar atau exit liquidity para pemegang saham perusahaan. 

RANS menetapkan harga IPO batas atas Rp 170 per saham dari rentang Rp 135 - Rp 170 per lembar saham. RANS menunjuk Trimegah Sekuritas Indonesia sebagai penjamin pelaksana emisi efek dan direncanakan melantai di BEI pada 10 Juli 2026. 

Tak hanya itu, RANS menawarkan sebanyak 2,52 miliar saham baru atau setara 20,02% dari modal ditempatkan dan disetor setelah IPO. Saham tersebut ditawarkan dengan harga Rp 170 per saham, sehingga RANS berpotensi menghimpun dana Rp 429,25 miliar dari aksi IPO.

Di balik rencana aksi korporasi itu, investor juga perlu mencermati kondisi operasional sejumlah entitas anak usaha perseroan. Berdasarkan prospektus, terdapat tujuh anak usaha RANS hingga saat ini tercatat tidak beroperasi.

Perusahaan-perusahaan tersebut bergerak di berbagai bidang, mulai dari restoran, penyelenggara acara (event organizer), klub olahraga digital, taman rekreasi dan konservasi, hingga jasa dan perdagangan. Misalnya PT Rans Keluarga Bersama, PT Rans Olahraga Digital, PT Rans Karnaval Internasional, PT Rans Karnaval Indonesia, PT Rans Boga Indonesia (RBI), PT Manusia Masa Depan, dan PT Rans Surya Aktivasi. Sebagian besar didirikan pada periode 2021–2022. 

Kinerja Keuangan Tahun Buku 2025

Seiring dengan rencana IPO, kinerja keuangan RANS Entertainmen Indonesia babak belur sepanjang 2025. Pendapatan perseroan merosot 13,91% secara tahunan menjadi Rp 353,37 miliar, dari Rp 410,49 miliar pada 2024.

Penurunan tersebut dipicu merosotnya pendapatan dari segmen brand ambassador dan talent management yang anjlok 51,55% menjadi Rp 51,92 miliar. Selain itu, pendapatan dari penjualan produk makanan, minuman, dan kecantikan berbasis intellectual property (IP) juga turun 12,69% menjadi Rp 107 miliar. Perseroan juga tidak lagi memperoleh kontribusi dari segmen olahraga setelah melepas anak usaha PT Rans Prestisius Klub Sepakbola pada 2024.

Sejalan dengan penurunan pendapatan, laba bersih RANS ikut merosot 41,6% menjadi Rp 56,68 miliar pada 2025, dari Rp 97,07 miliar pada tahun sebelumnya.

Perseroan menjelaskan penurunan laba tersebut dipengaruhi oleh tingginya basis perbandingan pada 2024 yang ditopang keuntungan nonberulang (non-recurring) sebesar Rp 44,94 miliar dari pelepasan entitas anak. Pada periode yang sama, perusahaan juga membukukan rugi dari operasi yang dihentikan sebesar Rp 10,46 miliar.

Rencana IPO Buat Bayar Utang

Apabila menilik rencana usai IPO, RANS berencana menggunakan dana segar itu untuk berbagai kebutuhan strategis perusahaan. Sebagian dana, yakni sekitar 6,98% akan digunakan untuk pelunasan dipercepat pinjaman kepada PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI). 

Selain itu, sekitar 18,64% dialokasikan untuk belanja modal pembangunan wahana bermain dan edukasi Cipungland yang menjadi salah satu proyek pengembangan bisnis. Porsi terbesar lainnya, yakni sekitar 37,61%, akan digunakan sebagai modal kerja untuk penyelenggaraan konser yang menghadirkan artis lokal maupun internasional di berbagai kota di Indonesia. 

Di sisi lain, sekitar 8,15% dana IPO akan dipakai untuk mendirikan perusahaan patungan bersama PT Feedloop Global Teknologi dalam rangka pengembangan bisnis berbasis kecerdasan buatan (AI). Kemudian, sekitar 19,80% dialokasikan untuk mengakuisisi saham PT Rans Kosmetika Indonesia (Slavina). 

Adapun sisa dana yang ada akan disetorkan sebagai tambahan modal kepada entitas anak RNS demi mendukung pengembangan usaha sekaligus memperluas jaringan bisnis perusahaan.

Jejak Pemegang Saham RANS

Merujuk prospektus ringkas IPO RANS, ada sederet nama besar yang menjadi pemegang saham RANS. Sebelum IPO, kepemilikan saham RANS didominasi oleh pendiri perusahaan yaitu Raffi Ahmad. Dia menguasai 7,935 miliar saham atau 78,68%.

Pemegang saham terbesar kedua adalah anak usaha Grup Emtek yaitu PT Indonesia Entertainment Grup dengan kepemilikan 911,5 juta saham atau 9,04%. Yang menarik lainnya adalah Kepala Badan Pengaturan BUMN Dony Oskaria memiliki 345,25 juta saham atau setara 3,42%. 

Diketahui Dony adalah paman dari Nagita Slavina dari jalur keluarga ibunya yaitu Rieta Amilia. Selain ikatan keluarga, Dony juga dikenal memiliki peran sebagai salah satu pendiri (co-founder) perusahaan RANS.

Selain itu, anak bungsu Mantan Presiden RI Joko Widodo yaitu Kaesang Pangarep menggenggam 115,25 juta saham atau 1,14% saham RANS.

Pemilik SahamSebelum IPOSetelah IPO
Jumlah SahamPersentaseJumlah SahamPersentase
Raffi Farid Ahmad7.935.000.00078,68%7.935.000.00062,93%
PT Indonesia Entertainmen Grup911.500.0009,04%911.500.0007,23%
Soultan Ariq Rachman345.500.0003,43%345.500.0002,74%
Dony Oskaria345.250.0003,42%345.250.0002,74%
Sutanto Hartono144.000.0001,43%144.000.0001,14%
Nagita Slavina Mariana Tengker124.750.0001,24%124.750.0000,99%
Kaesang Pangarep115.250.0001,14%115.250.0000,91%
Hikmat Janika86.250.0000,86%86.250.0000,68%
PT Ekonomi Baru Investasi Teknologi76.750.0000,86%76.750.0000,61%
Kepemilikan mayarakat dibawah 5%  2.525.000.00020,02%

Sumber: prospektus perusahaan

Seiring dengan aksi korporasi itu, apakah langkah ini menjadi exit liquidity?

Menurut analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, IPO RANS belum dapat serta-merta dianggap sebagai exit liquidity, apalagi dikaitkan dengan dugaan pencucian uang. 

Menurutnya, penilaian tersebut terlalu jauh selama belum terdapat temuan hukum maupun informasi yang mengarah ke hal tersebut. Ia juga menyebut investor sebaiknya menilai IPO dari aspek struktur penawaran, valuasi, penggunaan dana hasil emisi, hingga fundamental perusahaan.

Elandry menambahkan fokus utama saat ini seharusnya melihat transparansi, penerapan tata kelola perusahaan yang baik, dan kewajaran valuasi emiten. Di sisi lain, kuatnya brand RANS dinilai dapat menjadi daya tarik bagi investor ritel dan berpotensi mendukung pergerakan saham yang positif dalam jangka pendek.

“Brand yang kuat biasanya membantu membentuk market sentiment dan menarik trading interest pada fase awal IPO,” kata Elandry kepada Katadata.co.id, Selasa (23/4). 

Dewan Komisaris

  • Komisaris Utama: Darwin Cyril Noerhadi
  • Komisaris Independen:Ambono Janurianto

Direksi

  • Direktur Utama: Nagita Slavina Mariana Tengker
  • Direktur: Grandy Prajayakti
  • Direktur: Abrar
  • Direktur: Rumunggu Yokonapita

Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali diramaikan gelombang penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO).  Terdapat enam perusahaan yang antre IPO yaitu PT Bach Multi Global Tbk (BACH), PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL), dan PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI). Sementara tiga lainnya adalah PT Niramas Utama Tbk (JELI), PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX), dan PT Rans Entertainmen Indonesia Tbk (RANS). 

Henan Putihrai Sekuritas menilai IPO RANS sebagai IPO yang paling kurang menarik menurut Henan Putihrai Sekuritas. Perseroan membukukan pendapatan Rp 353 miliar atau turun 14%, dengan laba sekitar Rp 57 miliar, ROE sekitar 17%, dan PER 30–38 kali.  Kapitalisasi pasar RANS diperkirakan sekitar Rp 1,70–Rp 2,14 triliun. Selain pertumbuhan pendapatan yang menurun, RANS juga dinilai memiliki risiko key-man yang bergantung pada figur Raffi Ahmad dan Nagita Slavina.

 
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nur Hana Putri Nabila