IHSG Berpeluang Lanjut Naik, Saham BBCA, ELSA hingga HMSP Dijagokan Analis
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diramal masih berpeluang naik pada perdagangan hari ini, Rabu (8/7). Seiring dengan itu, analis merekomendasikan saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Elnusa Tbk (ELSA) hingga PT H.M Sampoerna Tbk (HMSP).
Merujuk riset BRI Danareksa Sekuritas, IHSG diperkirakan akan melanjutkan penguatan dengan support Rp 5.734 dan resistance Rp 6.000.
“Keberhasilan menembus level Rp 6.000 akan menjadi konfirmasi awal berlanjutnya momentum rebound,” tulis BRI Danareksa Sekuritas dalam risetnya dikutip Rabu (8/7).
Support merupakan area harga saham tertentu yang diyakini sebagai titik terendah pada satu waktu. Saat menyentuh support, harga umumnya akan kembali naik karena peningkatan pembelian.
Sedangkan resistance adalah tingkat harga saham tertentu yang dinilai sebagai titik tertinggi. Setelah saham menyentuh level ini, biasanya akan ada aksi jual cukup besar sehingga laju kenaikan harga tertahan.
Dalam risetnya BRI Danareksa mengatakan pasar hari ini akan mencermati rilis Indeks Keyakinan Konsumen Indonesia dan FOMC Minutes yang akan menjadi petunjuk arah kebijakan The Fed sekaligus memengaruhi pergerakan Rupiah dan arus dana asing.
Untuk perdagangan hari ini, BRI Danareksa merekomendasikan saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan target ke Rp 6.400-6.650, PT Elnusa Tbk (ELSA) dengan target ke Rp 610-630 dan PT DMS Propertindo Tbk (KOTA) dengan target ke Rp 106-116
Sementara itu Phintraco Sekuritas memandang IHSG akan bergerak konsolidasi. Menurut analisis Phintraco, IHSG ditutup di atas level MA20 dan MACD masih menunjukkan minat beli.
Namun beberapa sentimen negatif diperkirakan berpotensi memicu terjadinya profit taking. Sehingga diperkirakan IHSG berpotensi bergerak mixed pada kisaran Rp 5.900-6.000.
Dari dalam negeri, cadangan devisa Indonesia naik menjadi US$ 145,6 miliar pada Juni 2026 dari US$ 144,9 miliar pada Mei. Kenaikan tersebut didorong oleh penerimaan pajak dan jasa yang mampu menutup pembayaran utang luar negeri pemerintah serta kebutuhan stabilisasi nilai tukar rupiah oleh Bank Indonesia.
Posisi cadangan devisa itu setara dengan 5,5 bulan impor atau 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.
Di sisi lain, Phintraco menilai proyeksi pelebaran defisit APBN berpotensi menjadi sentimen negatif bagi pasar. Hingga semester I 2026, defisit APBN tercatat Rp 196,5 triliun atau setara 0,76% terhadap produk domestik bruto (PDB).
Namun pemerintah memperkirakan defisit APBN sepanjang 2026 mencapai Rp 734,3 triliun atau 2,85% dari PDB, lebih tinggi dibandingkan target awal sebesar Rp 689,1 triliun atau 2,68% dari PDB.
Meski pemerintah memproyeksikan penerimaan pajak tumbuh 20,5%, belanja negara diperkirakan mencapai Rp 3.942,4 triliun atau 102,6% dari pagu APBN.
Makanya Phintraco merekomendasikan saham PT H.M Sampoerna Tbk (HMSP), PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN), Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO), PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI)