Indeks Wall Street Loyo Tertekan Aksi Jual Saham Sektor AI

Unsplash.com
Ilustrasi bursa Wall Street, New York Stock Exchange, Amerika Serikat
8/7/2026, 06.34 WIB

Indeks bursa Wall Street di Amerika Serikat ditutup turun pada perdagangan Selasa (7/7) waktu setempat. Koreksi dipicu aksi jual investor terhadap saham-saham berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di tengah kenaikan harga minyak dunia.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 130,76 poin atau 0,25% ke level 52.925,15, setelah sempat mencetak rekor tertinggi intraday. Sementara itu, Nasdaq Composite merosot 1,16% menjadi 25.818,69 dan S&P 500 turun 0,45% ke level 7.503,85.

Direktur Riset FBB Capital Partners Mike Bailey mengatakan, ekspektasi investor terhadap sektor AI saat ini telah melampaui kemampuan fundamental perusahaan untuk memenuhinya.

"Ekspektasi sudah sangat tinggi, tetapi fundamental perusahaan kesulitan memenuhi tuntutan tersebut. Itulah yang mendorong pelemahan pasar hari ini," kata Bailey dikutip dari CNBC, Rabu (8/7). Dia memperkirakan rotasi dana dari saham AI ke sektor lain masih akan berlanjut.

Saham Micron memimpin pelemahan dengan turun 4,7%. Saham KLA, Marvell Technology, Broadcom dan AMD juga ditutup di zona merah. Adapun ETF semikonduktor VanEck Semiconductor ETF (SMH) anjlok lebih dari 3%.

Di tengah tekanan pada sektor AI, investor beralih ke saham sektor kesehatan, keuangan dan perusahaan teknologi berkapitalisasi besar. Saham Eli Lilly naik hampir 3%, sementara JPMorgan Chase dan Microsoft turut menguat. 

Sentimen pasar turut dibayangi kenaikan harga minyak setelah Iran menyerang kapal pengangkut gas alam cair (LNG) milik Qatar di dekat Selat Hormuz.

Harga minyak mentah Brent naik 3% dan ditutup di US$ 74,16 per barel, sedangkan minyak West Texas Intermediate (WTI) menguat hampir 3% menjadi US$ 70,44 per barel.

Harga minyak bahkan melanjutkan kenaikan setelah penutupan perdagangan menyusul keputusan AS mencabut pengecualian yang sebelumnya mengizinkan penjualan minyak Iran.

Tekanan terhadap saham AI lebih dulu terlihat di kawasan Asia. Indeks Kospi Korea Selatan anjlok hampir 5% setelah saham produsen cip Samsung Electronics merosot hampir 7%. 

Meskipun Samsung membukukan lonjakan laba kuartal kedua, investor lebih mencermati kekhawatiran terhadap belanja dan permintaan yang masih lemah. Di Eropa, indeks Stoxx 600 ditutup turun sekitar 0,7%.

Analis Vital Knowledge Adam Crisafulli menilai reaksi pasar terhadap laporan keuangan Samsung mencerminkan tingginya ekspektasi investor menjelang musim laporan keuangan kuartal kedua.

Menurut dia, laba perusahaan kemungkinan tetap tumbuh kuat secara absolut. Namun, berbeda dengan kuartal pertama, ekspektasi pasar kini jauh lebih tinggi seiring kenaikan indeks S&P 500 sekitar 1.000 poin sejak musim laporan keuangan sebelumnya. 

Kondisi tersebut membuat perusahaan harus membukukan kinerja yang jauh lebih baik untuk memenuhi harapan investor.

Tekanan terhadap saham AI juga dipicu laporan Reuters yang menyebut perusahaan rintisan asal Cina, DeepSeek, tengah mengembangkan cip AI sendiri.  Langkah itu berpotensi mengurangi ketergantungan perusahaan terhadap pasokan semikonduktor dari Nvidia maupun Samsung.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Karunia Putri