Emiten Alat Kesehatan EMMI Bakal Gunakan Dana IPO Bangun Pabrik di Cikupa

Katadata
Emiten penyedia alat kesehatan PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI) resmi mencatatkan saham perdananya di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu (8/7).
Penulis: Karunia Putri
Editor: Ahmad Islamy
8/7/2026, 11.27 WIB

Emiten penyedia alat kesehatan PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI) akan menggunakan dana hasil penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) untuk membangun pabrik baru di Cikupa, Tangerang. Fasilitas tersebut akan memproduksi benang operasi dan berbagai alat kesehatan habis pakai.

Direktur Utama EMMI, Florian Chris Widjaja mengatakan, pembangunan pabrik ditargetkan dimulai pada akhir tahun ini dan diperkirakan rampung pada kuartal ketiga hingga kuartal keempat 2027.

"Targetnya masih di tahun depan sih. Karena kita kalau rencana bangun di akhir tahun ini mungkin satu tahunan untuk jadi ya produksinya," kata Florian seusai IPO EMMI di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (8/7).

Dia menuturkan, pabrik tersebut diproyeksikan memiliki kapasitas produksi hingga 4 juta unit benang operasi per tahun. Namun, pada tahun pertama operasional, perusahaan menargetkan produksi sekitar 1 juta hingga 1,5 juta unit.

Selain benang operasi, pabrik baru itu juga akan memproduksi berbagai alat kesehatan habis pakai lainnya. Namun, Florian belum memerinci jenis produk lain yang akan diproduksi perusahaan.

Perseroan optimistis dapat mencatatkan pertumbuhan kinerja pada tahun ini. Florian menargetkan pendapatan dan laba bersih EMMI tumbuh dua digit dibandingkan tahun sebelumnya.

Untuk mencapai target tersebut, perusahaan akan memperkuat penjualan ke sektor pemerintah, terutama melalui pengadaan Kementerian Kesehatan dan e-katalog. Di saat yang sama, EMMI mulai memasarkan produk benang operasi ke rumah sakit swasta maupun pemerintah.

"Kami juga sudah memperoleh beberapa kontrak baru tahun ini, nilainya nanti kami sampaikan," ujarnya.

Sementara itu, di tengah pelemahan nilai tukar rupiah, Florian menilai dampaknya terhadap kinerja perusahaan relatif terbatas. Pasalnya, sebagian besar bahan baku diimpor dari Cina menggunakan mata uang renminbi (RMB), bukan dolar Amerika Serikat.

Menurut dia, perusahaan juga telah mengunci harga pembelian sejak awal tahun sehingga fluktuasi nilai tukar tidak akan memberikan dampak signifikan terhadap biaya produksi.

EMMI Debut di Bursa, Saham Naik 15%

Hari ini, EMMI resmi mencatatkan saham perdananya di BEI. Perusahaan alat kesehatan itu menjadi emiten kelima yang melantai di BEI pada 2026.

Pada perdagangan perdana, saham EMMI dibuka melonjak 15,96% ke level Rp 545 dari harga penawaran.

Hingga pagi tadi, volume perdagangan saham EMMI tercatat mencapai 300,94 ribu lot dengan nilai transaksi Rp 14,62 juta. Frekuensi perdagangan tercatat sebanyak 20,29 kali.

EMMI menawarkan 522,85 juta saham baru dengan nominal Rp 50 per saham atau mewakili sebanyak-banyaknya 30% dari jumlah modal yang ditempatkan dan disetor penuh. Perusahaan menawarkan harga IPO dalam rentang Rp 446-515 per saham.  

Saat melantai di bursa hari ini, EMMI menetapkan harga IPO sebesar Rp 470 per saham. Dengan begitu, EMMI berpotensi mengantongi dana segar mencapai Rp 245,73 miliar. Dari dana itu, 10% akan dialokasikan untuk program employee stock allocation atau ESA. Perseroan sudah menunjuk PT BRI Danareksa Sekuritas dan PT INA Sekuritas Indonesia sebagai penjamin pelaksana emisi efek. 

Dana yang diperoleh dari IPO akan digunakan untuk memperkuat struktur permodalan, melakukan ekspansi fasilitas produksi, serta mendukung kebutuhan modal kerja perseroan.

"Status perusahaan terbuka akan mendorong kami untuk semakin memperkuat tata kelola, meningkatkan transparansi informasi, dan mempercepat langkah kami dalam membangun ekosistem alat kesehatan yang lebih mandiri di Indonesia," ujar Florian.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Karunia Putri