Menilik Faktor di Balik Susutnya Nilai Transaksi Harian di BEI Jadi Rp 9 Triliun

Katadata/Fauza Syahputra
Layar digital menunjukkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (18/5/2026).
Penulis: Karunia Putri
Editor: Ahmad Islamy
9/7/2026, 13.55 WIB

Nilai transaksi saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) melandai sejak awal Juli 2026. Setelah sepanjang Juni rata-rata transaksi harian sempat mencapai Rp 30 triliun, pada bulan ini nilainya turun menjadi satu digit, yaitu hanya sekitar Rp 9 triliun hingga Rp 11 triliun.

Berdasarkan data BEI, nilai transaksi saham pada sesi pertama perdagangan Kamis (9/7) ini baru mencapai Rp 6,71 triliun. Angka tersebut turun 76% dibandingkan dengan transaksi pada 9 Juni yang mencapai Rp 28,01 triliun. 

Adapun pada awal bulan ini, nilai transaksi harian di BEI tercatat sebesar Rp 10,29 triliun pada 1 Juli; Rp 11,15 triliun pada 2 Juli; Rp 10,54 triliun pada 3 Juli; Rp 9,5 triliun pada 4 Juli; Rp 10,39 triliun pada 7 Juli, dan; Rp 10,55 triliun pada 8 Juli.

Chief Executive Officer (CEO) Sucor Sekuritas, Bernadus Wijaya, menilai lesunya nilai transaksi di bursa terjadi imbas peralihan dana investor ke penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO). Menurut dia, enam IPO yang berlangsung pada pekan ini berhasil menyedot likuiditas dari pasar reguler, terutama dari investor ritel.

"Duitnya itu banyak kesedot di IPO. Di IPO JELI (PT Niramas Utama Tbk) aja waktu itu oversubscribe-nya hampir 300 kali. Sekitar 270 kali dari porsi pooling. Terus yang di PRDL ini oversubscribed 700 kali dari porsi pooling," kata Bernadus ketika ditemui seusai seremoni pencatatan saham PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) di BEI, Kamis (10/7).

Selain faktor IPO, Bernadus mengatakan pelaku pasar juga masih bersikap hati-hati (wait and see) di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik serta penantian terhadap keputusan lembaga pemeringkat global S&P terkait prospek peringkat utang Indonesia.

Menurut Bernadus, jika S&P mempertahankan peringkat kredit Indonesia, meski prospeknya menjadi negatif, sentimen tersebut berpotensi menjadi katalis positif bagi pasar saham. Dia memperkirakan, setelah dana investor kembali dari IPO dan ketidakpastian mereda, aktivitas transaksi di BEI akan kembali meningkat.

Sebelumnya, penyedia indeks global S&P Dow Jones Indices (S&P DJI) memberi sinyal pasar saham Indonesia berpotensi kehilangan status sebagai pasar berkembang atau emerging market dan turun ke pasar perintis atau frontier market. Penurunan itu dapat terjadi apabila masalah transparansi dan likuiditas pasar saham tak kunjung dibenahi.

Sinyal tersebut menguatkan keraguan investor terhadap efektivitas berbagai reformasi yang telah dilakukan pemerintah dan otoritas pasar modal untuk mengatasi keluhan mengenai transparansi, likuiditas, serta minimnya porsi saham yang beredar di publik pada sejumlah emiten berkapitalisasi besar.

Mengutip rilis S&P DJI, Rabu (8/7), pengelola indeks itu memasukkan Indonesia ke dalam daftar negara yang berpotensi mengalami reklasifikasi pasar pada 2027. Lembaga tersebut juga memperingatkan Indonesia dapat dipindahkan ke kategori special measures, bahkan diturunkan ke klasifikasi frontier market jika berbagai persoalan tersebut tetap berlanjut.

"Berdasarkan Metodologi Klasifikasi Negara S&P DJI, jika masalah ini tetap tidak terselesaikan satu tahun kalender sejak tanggal diberlakukannya langkah-langkah khusus, klasifikasi pasar Indonesia akan dinilai pada tinjauan tahunan berikutnya," dikutip dari pengumuman resmi S&P DJI, Rabu (8/7).

Kendati demikian, S&P DJI menyatakan masih terus memantau perkembangan transparansi kepemilikan saham di Indonesia, termasuk implementasi panduan baru yang diterbitkan BEI. Langkah tersebut dinilai sebagai upaya mengatasi kekhawatiran terkait keterbukaan informasi dan dampaknya terhadap likuiditas pasar.

Kapan Transaksi di BEI Bergairah Lagi?

Bernadus menambahkan, investor asing juga masih cenderung menunggu perkembangan kondisi pasar. Sementara itu, investor domestik yang berkontribusi sekitar 70% hingga 75% terhadap nilai transaksi harian BEI, saat ini lebih banyak mengalihkan dana ke pasar IPO. "Semoga nanti setelah RANS beres, kita kembali bergairah," ujarnya.

Hingga akhir tahun ini, Bernadrus mengurangi target IHSG dari Rp 10.000 menjadi Rp 8.000. Hari ini, dia mengatakan support IHSG berada di 5.969 dan potensi balik ke 6.000 ke atas, dengan resistance di level 6.065. 

Support adalah area harga saham tertentu yang diyakini sebagai titik terendah pada satu waktu. Saat menyentuh support, harga umumnya akan kembali naik karena peningkatan pembelian. Sementara resistance adalah tingkat harga saham tertentu yang dinilai sebagai titik tertinggi. Setelah saham menyentuh level ini, biasanya akan ada aksi jual cukup besar sehingga laju kenaikan harga tertahan.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Karunia Putri