BEI Catat Ada 327 Emiten Belum Penuhi Free Float 15%

ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/tom.
Pengunjung memotret layar yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (25/3/2026).
Penulis: Karunia Putri
Editor: Ahmad Islamy
9/7/2026, 16.32 WIB

Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat masih terdapat 327 emiten yang belum memenuhi ketentuan porsi saham publik (free float) minimum 15% hingga 31 Mei 2026. Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Saidu Solihin mengatakan, jumlah tersebut setara dengan 35,82% dari seluruh emiten yang tercatat di bursa dan relatif tidak berubah dibandingkan posisi 31 Maret 2026 yang mencapai 323 emiten.

"Selanjutnya bursa (BEI) akan memantau kembali pemenuhan free float berdasarkan laporan per 30 Juni 2026, yang wajib disampaikan oleh perusahaan tercatat paling lambat 10 Juli 2026," kata Saidu dalam keterangannya di Jakarta, dikutip pada Kamis (9/7).

Sementara itu, untuk mendorong emiten memenuhi ketentuan tersebut, dia mengatakan BEI telah menyiapkan sejumlah langkah. Upaya tersebut meliputi sosialisasi perubahan Peraturan Nomor I-A; pengiriman pengingat kepada emiten selama masa transisi; publikasi status pemenuhan free float setiap tiga bulan; penyediaan layanan konsultasi (hot desk), hingga; pelatihan bagi emiten dan tim hubungan investor (investor relations). 

Selain itu, bursa juga membentuk satuan tugas (satgas) bersama PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), Asosiasi Emiten Indonesia (AEI), dan Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI) untuk memantau pemenuhan free float. Satgas tersebut menggelar pertemuan perdana pada Juli 2026 dan akan bertemu secara berkala setiap tiga bulan.

Selain itu, BEI akan kembali menggelar Public Expose Live pada September 2026 setelah sebelumnya diikuti delapan emiten dengan free float di bawah 15% pada Juni lalu. Bursa juga berencana menggelar roadshow emiten kepada investor domestik dan global mulai Agustus 2026 guna meningkatkan minat investor dan memperluas kepemilikan saham publik.

Kendati demikian, Saidu belum memerincikan emiten mana saja yang belum memenuhi ketentuan free float tersebut.

Pembaruan Data Emiten HSC

Di sisi lain, Saidun mengatakan BEI sudah memperbarui daftar emiten dengan konsentrasi kepemilikan saham tinggi atau high shareholding concentration (HSC). Per 1 Juli 2026 terdapat 15 emiten dalam daftar tersebut. Namun sehari kemudian, satu emiten yaitu PT Lima Dua Lima Tiga Tbk (LUCY) telah keluar dari daftar sehingga kini tersisa 14 emiten.

Saidu menyatakan, status HSC bukan merupakan bentuk sanksi, melainkan mekanisme pemantauan untuk meningkatkan transparansi pasar. “BEI membuka ruang diskusi dengan Perusahaan Tercatat yang masuk dalam daftar saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi,” kata dia. 

Apabila hasil penilaian menunjukkan kriteria HSC sudah tidak lagi terpenuhi, emiten dapat dikeluarkan dari daftar tersebut.

Sebagai bagian dari upaya meningkatkan transparansi, BEI juga secara rutin memublikasikan daftar HSC, melakukan evaluasi bersama KSEI berdasarkan data kepemilikan saham, serta mendorong emiten meningkatkan free float dan likuiditas saham melalui pembinaan. 

Saat ini, bursa juga tengah melakukan survei terhadap investor institusi domestik dan asing untuk mengevaluasi implementasi reformasi transparansi pasar. Hasil survei tersebut akan menjadi masukan bagi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), BEI, dan KSEI dalam menyempurnakan kebijakan pasar modal ke depan.

Daftar 14 penghuni HSC terbaru, per 9 Juli 2026:

  1. PT Habco Trans Maritima Tbk (HATM), terkonsentrasi 96,09% 
  2. PT Delta Giri Wacana Tbk (DGWG), terkonsentrasi 97,35% 
  3. PT Kota Satu Properti Tbk (SATU), terkonsentrasi 94.27% 
  4. PT Mahkota Group Tbk (MGRO), terkonsentrasi 93,76% 
  5. PT Transcoal Pacific Tbk (TCPI), terkonsentrasi 94.10% 
  6. PT Rockfields Properti Indonesia (ROCK), terkonsentrasi 99,85%  
  7. PT Ifishdeco Tbk (IFSH), terkonsentrasi 99,77%
  8. PT Satria Mega Kencana Tbk (SOTS), terkonsentrasi 98,35%
  9. PT Samator Indo Gas Tbk (AGII), terkonsentrasi 97,75%
  10. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) terkonsentrasi 97,31%
  11. PT Panca Anugrah Wisesa Tbk (MGLV), terkonsentrasi 95,94% 
  12. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), terkonsentrasi 95,76% 
  13. PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO), terkonsentrasi 95,35% 
  14. PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA), terkonsentrasi 95,82%
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Karunia Putri