Manuver Emiten Kongsi Prajogo-Hapsoro SINI Jadi Penguasa Batu Bara di Kalimantan

Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA
Aktivitas di tambang batu bara di Balikpapan Barat Kalimantan Timur (19/1).
Penulis: Karunia Putri
22/7/2026, 07.37 WIB

Emiten kongsi dua konglomerat Tanah Air Prajogo Pangestu dan Happy Hapsoro, PT Singaraja Putra Tbk (SINI) bersiap menjadi penguasa tambang batu bara di Kalimantan. Aksi tersebut dimulai usai SINI mengambil alih saham anak usaha tambang Prajogo dari PT Petrosea Tbk (PTRO). 

Lewat transaksi senilai Rp 1,73 triliun itu, SINI mengambil alih 99% saham anak usaha PTRO yaitu PT Kemilau Mulia Sakti (KMS). Nilai transaksi tersebut setara 110,26% dari total aset perseroan sehingga tergolong sebagai transaksi material.

Akuisisi ini memberi SINI akses langsung ke tambang batu bara milik PTRO di Kutai Barat, Kalimantan Timur. KMS menguasai 99% saham PT Cristian Eka Pratama (CEP), pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) Operasi Produksi yang berlaku hingga Juli 2038. Berdasarkan laporan tenaga ahli per 31 Desember 2025, CEP memiliki cadangan batu bara sebesar 69,25 juta ton di area konsesi seluas 4.776 hektare.

Kini, SINI menguasai tambang batu bara di Kalimantan miliknya di Kalimantan Tengah dan milik KMS di wilayah operasi KMS berada di Kalimantan Timur. Dengan perbedaan wilayan tersebut, manajemen SINI menilai akuisisi tersebut dapat meningkatkan standar pembangunan infrastruktur dan efisiensi operasional dalam jangka panjang.

"Secara umum, akuisisi KMS berpotensi memberikan dampak positif terhadap usaha pertambangan batu bara perseroan melalui peningkatan aset, cadangan, kapasitas produksi, dan pertumbuhan laba," tulis manajemen dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), dikutip Rabu (22/7).

Selain menjadi penjual KMS, PTRO saat ini masih menjadi kontraktor pertambangan bagi anak usaha SINI, PT Pasir Bara Prima (PBP), melalui kontrak yang berlaku hingga 2032.

Berdasarkan data kepemilikan saham di Bursa Efek Indonesia per Rabu (22/7),  Hapsoro menggenggan 43,29 juta saham SINI atau setara dengan 9% dari total sahamnya yang beredar.

Dampak Terhadap Kinerja Operasional dan Keuangan SINI

Kendati demikiam, manajemen menjelaskan kontrak tersebut tidak berkaitan dengan transaksi akuisisi. Namun, keberadaan PTRO sebagai mitra operasional dinilai membuka peluang terciptanya kontrak jasa pertambangan yang lebih kompetitif melalui optimalisasi alat berat, sumber daya dan koordinasi operasional.

Manejemen SINI memperkirakan KMS mulai memberikan kontribusi signifikan terhadap kinerja pada 2026. Pendapatan KMS diproyeksikan mencapai US$ 52 juta pada 2026 dan melonjak menjadi US$ 158,97 juta pada 2027. Kontribusinya terhadap pendapatan konsolidasi diperkirakan mencapai 21,4% pada 2026 dan meningkat menjadi 27,06% setahun kemudian.

Dari sisi operasional, produksi batu bara di konsesi KMS ditargetkan meningkat bertahap, dari sekitar 1 juta ton per tahun pada tahap awal menjadi 3,6 juta ton hingga mencapai kapasitas optimal 5 juta ton per tahun. Dengan cadangan yang dimiliki saat ini, umur tambang diperkirakan bertahan hingga 2038, bergantung pada rencana penammbangan, kondisi operasional dan regulasi.

Seiring peningkatan produksi tersebut, SINI juga membidik kenaikan volume penjualan batu bara dibandingkan realisasi 2025 yang mencapai 203.057 metrik ton.

Perseroan menyebut akuisisi ini merupakan bagian dari strategi memperbesar portofolio bisnis batu bara di tengah prospek permintaan yang masih kuat. Menurut manajemen SINI, konsumsi batu bara global masih akan ditopang oleh kebutuhan dari Cina dan India. Sementara di dalam negeri, permintaan diperkirakan tetap tinggi seiring proyeksi pertumbuhan kebutuhan listrik nasional rata-rata 5,3% per tahun dalam RUPTL 2025-2034.

Selain menambah cadangan dan kapasitas produksi, SINI membidik efisiensi melalui integrasi operasional dengan KMS. Perseroan akan mengintegrasikan aspek penjualan, produksi hingga logistik dengan anak usaha tambang yang telah dimiliki untuk meningkatkan efisiensi sekaligus memperkuat daya tawar perusahaan.

Selain itu, SINI mengakuisisi KMS dengan harga di bawah hasil penilaian independen. Berdasarkan valuasi Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) nilai pasar 99% saham KMS mencapai Rp 1,84 triliun. Nilai itu lebih tinggi dibandingkan nilai transaksi sebesar Rp 1,73 triliun.

Dengan begitu perseroan memperoleh aset tersebut sekitar 5,98% lebih murah dari nilai wajarnya. Hal itu memberikan nilai tambah sekaligus memperkuat kinerja keuangan konsolidasi dalam jangka panjang.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Karunia Putri