Membaca Arah Transformasi Bisnis Emiten Grup Sinar Mas (DSSA) ke Ekosistem AI

PT Dian Swastatika Tbk (DSSA)
PT Dian Swastatika Tbk (DSSA) mengadakan rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) di Jakarta, Selasa (9/6/2026) lalu.
Penulis: Karunia Putri
Editor: Ahmad Islamy
22/7/2026, 13.39 WIB

Ledakan penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai mengubah peta bisnis PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA). Emiten milik Grup Sinar Mas yang sebelumnya dikenal sebagai pemain batu bara itu mulai memperluas bisnis ke infrastruktur digital, dari pusat data (data center), telekomunikasi hingga pengembangan ekosistem AI.

Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Wilbert Arifin mengatakan, jika melihat peluangnya, khusus untuk bisnis AI saat ini memang belum menjadi penggerak utama kinerja keuangan perseroan. Berdasarkan data laporan keuangan kuartal I 2026, pendapatan DSSA masih ditopang dari penjualan batu bara senilai US$ 601,2  miliar atau setara Rp 10,21 triliun.

"Mungkin memang yang justru lebih punya relevansi ke AI itu lebih ke commodity, karena itu bahan baku yang diperlukan untuk data center dan lain-lain," kata Wilbert kepada Katadata.co.id, Selasa (21/7).

Menurut dia, manfaat booming AI saat ini belum dirasakan perusahaan lantaran DSSA baru mulai masuk ke rantai pasok pembangunan pusat data dan penyedia infrastruktur. DSSA saat ini masih membangun fondasi bisnis digitalnya, termasuk ekosistem AI yang mengintegrasikan energi terbarukan, pusat data berskala hyperscale, serta konektivitas digital.

Presiden Direktur DSSA, L Krisnan Cahya menuturkan, pertumbuhan ekonomi digital, penetrasi internet dan percepatan transformasi digital mendorong kebutuhan terhadap infrastruktur digital yang semakin terintegrasi. Menurut dia, keunggulan perusahaan tidak lagi ditentukan oleh satu layanan, melainkan kemampuan menghadirkan ekosistem digital secara menyeluruh, mulai dari konektivitas hingga layanan berbasis teknologi.

“Melalui investasi pada energi rendah karbon, konektivitas digital, pusat data, komputasi berbasis AI, dan teknologi masa depan lainnya, DSSA berkomitmen memperkuat daya saing sekaligus mendukung transformasi digital dan transisi energi di Indonesia,” ujarnya.

Strategi diversifikasi tersebut mulai tercermin pada kinerja segmen digital perseroan. Pada kuartal pertama 2026, pendapatan dari bisnis infrastruktur digital dan teknologi mencapai US$ 69,1 juta, naik 50% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$ 46,1 juta. Sementara itu pendapatan dari sektor energi terbarukan juga meningkat menjadi US$ 35,72 ribu dari US$ 28,62 ribu secara tahunan.

Pertumbuhan pendapatan juga ditopang dari merger PT Eka Mas Republik (MyRepublic Indonesia) dan PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) menjadi PT Ekamas Mora Republik (MoraRepublic). Entitas baru tersebut kini mengoperasikan jaringan serat optik lebih dari 166 ribu km, menjangkau sekitar 12,7 juta homepass, serta melayani lebih dari dua juta pelanggan ritel dan lebih dari 17 ribu pelanggan bisnis.

Di sisi pusat data, DSSA melalui PT SMPlus Digital Investama (SM+) mempercepat pengembangan fasilitas yang dirancang untuk mendukung kebutuhan komputasi AI. Setelah menyelesaikan tahap topping off pusat data SMX01 di Jakarta pada Mei 2026, perseroan menargetkan fasilitas berstandar Tier IV dengan kapasitas lebih dari 18 megawatt itu mulai beroperasi pada kuartal keempat 2026.

Selain itu, SM+ juga mengembangkan 25 edge data center untuk mendukung komputasi berlatensi rendah yang dibutuhkan sektor telekomunikasi, bisnis hingga aplikasi AI.

Ekosistem tersebut diperkuat melalui pembentukan PT Brilian Teknologi Sejahtera, perusahaan patungan DSSA dengan perusahaan teknologi asal Cina, iFLYTEK. Kerja sama itu difokuskan pada pengembangan solusi machine learning dan AI bagi berbagai sektor industri.

Langkah serius menjajaki bisnis pusat data lainnya dilakukan DSSA dengan mengakuisisi PT Bali Media Telekomunikasi (BMT), perusahaan yang memiliki 24,57% saham PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL). Melalui transaksi senilai sekitar Rp 4 triliun tersebut, DSSA memperoleh kepemilikan tidak langsung di EXCL sekaligus memperkuat bisnis telekomunikasi sebagai salah satu mesin pertumbuhan jangka panjang.

Tak berhenti di situ, DSSA juga baru saja mencaplok perusahaan telekomunikasi PT Ketrosden Triasmitra Tbk (KETR). Pengambilalihan 994,44 juta saham itu dilakukan perusahaan terafiliasi Grup Sinar Mas yaitu PT Inti Mas Bangun Sejahtera (IMBS). Ke depan, DSSA akan menjadi pemegang manfaat akhir KETR. 

KETR adalah perusahaan yang bergerak di bidang infrastruktur jaringan telekomunikasi, jasa pemeliharaan dan pengelolaan kabel komunikasi serta penyedia sistem komunikasi kabel serat optik laut dan darat.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Karunia Putri