Indeks Wall Street Loyo Tertekan Harga Minyak, Nasdaq Turun 0,5%
Indeks bursa Wall Street di Amerika Serikat ditutup turun pada perdagangan Rabu (23/7), tertekan lonjakan harga minyak di tengah antisipasi investor pada gelombang terbaru laporan kinerja keuangan emiten.
Indeks S&P 500 turun 0,14% ke level 7.498,96. Nasdaq Composite berkurang 0,57% menjadi 25.690,90, sedangkan Dow Jones Industrial Average terkoreksi tipis 6,06 poin atau 0,01% ke level 52.218,58.
Lonjakan harga minyak menjadi perhatian utama pelaku pasar karena dikhawatirkan mempertahankan tekanan inflasi. Kondisi ini berpotensi mendorong bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), kembali menaikkan suku bunga.
"Inflasi jelas masih tinggi, dan saya rasa tidak banyak yang bisa dilakukan The Fed untuk mengatasinya," kata Senior Portfolio Manager Globalt Investments Thomas Martin, dikutip dari CNBC, Kamis (24/7).
Menurut Martin, ketidakpastian arah suku bunga menjadi faktor yang paling membebani pasar saat ini. Harga minyak mentah Brent naik sekitar 3,4% dan ditutup di US$ 94,07 per barel, level tertinggi dalam lebih dari satu bulan.
Harga Brent bahkan sempat menembus US$ 95 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat sekitar 3% menjadi US$ 86,83 per barel.
Kenaikan harga minyak dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik setelah Amerika Serikat melancarkan serangan berturut-turut terhadap Iran. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio juga mengatakan Iran tidak serius dalam perundingan.
"Jika mereka serius, kami juga serius. Jika tidak, kami akan melakukan apa pun yang diperlukan untuk melindungi kepentingan kami dan kepentingan sekutu kami," kata Rubio.
Rubio juga mengatakan militer AS akan terus melindungi jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi, ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga juga berubah. Hingga Rabu sore waktu setempat, kontrak berjangka suku bunga The Fed menunjukkan peluang kenaikan suku bunga bulan ini mencapai hampir 34%, naik dari sekitar 10% sepekan sebelumnya.
Selain perkembangan geopolitik, investor juga menantikan laporan keuangan sejumlah perusahaan besar, seperti ServiceNow, IBM, Tesla, Texas Instruments dan Alphabet.
Pelaku pasar akan mencermati perkembangan transaksi di bisnis kecerdasan buatan (AI), permintaan layanan komputasi awan (cloud), anggaran teknologi perusahaan serta prospek bisnis pada paruh kedua tahun ini.
Investor juga ingin memastikan apakah tingginya permintaan terhadap infrastruktur dan perangkat lunak AI masih mampu menopang valuasi saham-saham teknologi.
Martin mengatakan, perhatian investor akan tertuju pada kinerja perusahaan hyperscaler atau penyedia infrastruktur komputasi awan berskala besar yang menjadi motor utama belanja AI.
Di tingkat emiten, saham Super Micro Computer melonjak hampir 20% setelah produsen server tersebut memproyeksikan margin laba kuartal keempat tahun fiskal di atas ekspektasi analis. Perseroan juga mengungkapkan telah mengantongi pesanan baru senilai lebih dari US$ 60 miliar selama periode tersebut.
Sementara itu, saham AT&T naik 3,5% setelah perusahaan telekomunikasi tersebut membukukan laba kuartal kedua yang melampaui ekspektasi pasar.