Danantara Ungkap Progres Merger GIAA dan Pelita, Mampu Jadi Pemain Regional?

Katadata/Arief Kamaludin
Aktifitas penerbangan pesawat Garuda Indonesia di Bandara Soekarno Hatta, Rabu, (02/04).
Penulis: Karunia Putri
Editor: Agustiyanti
24/7/2026, 12.45 WIB

Badan Pengelola Badan Investasi Daya Anagata mengungkapkan progres penggabungan atau merger antara dua maskapai pelat merah, PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) dan Pelita Air. Garuda Group diharapkan dapat menguasai pasar regional usai merger rampung.

Kepada Badan Pengaturan (BP) BUMN sekaligus Chief Operating Officer Danantara Dony Oskaria menjelaskan,  Pelita Air akan dilebur dalam Garuda Group. Mayoritas atau 99,997% saham Pelita Air saat ini  dimiliki oleh PT Pertamina , sedangkan sisanya oleh Pertamina Pedeve. 

"Perusahaan-perusahaan ini nanti dengan mereka bersatu, akan memiliki kemampuan untuk bersaing ke depannya dan menguasai industri,” ujar Dony dalam keterangan resminya dikutip Jumat (24/5).

Dony mengatakan, telah membahas masterplan merger tersebut dengan jajaran direksi Pelita pada Kamis (23/7). Penggabungan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat holding maskapai nasional dengan meningkatkan kualitas layanan secara menyeluruh, mulai dari layanan sebelum penerbangan (pre-flight), saat penerbangan (in-flight), hingga setelah penerbangan (post-flight).

Danantara meyakini integrasi tersebut akan memperkuat posisi Garuda Group, tidak hanya di pasar domestik tetapi juga di kawasan regional.

Rencana merger kedua maskapai plat merah ini terus mundur dari waktu yang sebelumnya ditargetkan. Pada update terakhir yang diterima Katadata.co.id, Danantara menargetkan merger terjadi pada semester pertama 2026, dan sempat mundur menjadikuartal pertama 2026. Namun hingga hari ini, Jumat (24/7), pemerintah masih melakukan pembahasan terkait aksi tersebut.

Managing Director Danantara Indonesia Rohan Hafas sebelumnya menjelaskan, holdingisasi Garuda Indonesia, Citilink dan Pelita Air bertujuan meningkatkan efisiensi operasional melalui integrasi ekosistem bisnis.

Dalam skema tersebut, ketiga maskapai akan menggunakan sistem pemesanan terpadu, program loyalitas yang terintegrasi seperti GarudaMiles, hingga sistem registrasi penumpang yang sama. Integrasi itu juga memungkinkan pengelolaan kapasitas kursi yang lebih fleksibel antar-maskapai dalam satu grup.

Dengan sistem tersebut, penumpang Garuda Indonesia yang terdampak overbooking dapat langsung dialihkan ke penerbangan Citilink atau Pelita Air tanpa harus dipindahkan ke maskapai di luar grup, seperti Lion Air atau Batik Air.

Selain meningkatkan layanan, holdingisasi juga diharapkan memperbesar armada Garuda Group dan mengoptimalkan rute-rute yang selama ini dilayani secara bersamaan oleh Garuda Indonesia, Citilink, dan Pelita Air.

Rohan mencontohkan rute Jakarta-Surabaya yang saat ini dilayani ketiga maskapai tersebut. Menurutnya, apabila tingkat keterisian masing-masing penerbangan hanya sekitar 60%, integrasi dalam satu holding akan membuat pengelolaan kapasitas menjadi lebih efisien sehingga tingkat okupansi penerbangan dapat ditingkatkan.

Adapun rencana merger berlangsung di tengah upaya pemerintah membenahi kinerja Garuda Indonesia yang masih merugi.

Pada kuartal pertama 2026, Garuda mencatat rugi bersih US$ 41,62 juta atau sekitar Rp 707,5 miliar. Padahal, pendapatan perseroan meningkat menjadi US$ 762,35 juta, dari US$ 723,56 juta pada periode yang sama tahun lalu.

Pendapatan tersebut berasal dari penerbangan berjadwal sebesar US$ 648,10 juta, penerbangan tidak berjadwal US$ 24,98 juta, serta pendapatan lainnya senilai US$ 89,27 juta.

Seiring dengan pendapatan Garuda naik, beban usaha GIAA pun tercatat turun dari US$ 718,36 juta dari US$ 713,22 juta secara tahunan.  

Masih merujuk laporan keuangan perusahaan,jumlah karyawan Garuda Indonesia dan entitas anak pada 31 Maret 2026 berkurang menjadi total 10.724 dibandingkan posisi akhir 2026 sebanyak 10.852. Namun, pengurangan karyawan itu disebut sebagai siklus normal lantaran adanya pegawai yang pensiun dan berhenti.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Karunia Putri