Saham emiten nikel milik Harita Group yaitu PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) diproyeksikan akan menadah likuiditas ekstra setelah masuk sebagai konstituen dua indeks utama yakni LQ45 dan IDX80. 

NCKL masuk dalam daftar konstituen baru LQ45 berdasarkan hasil evaluasi berkala Bursa Efek Indonesia (BEI) yang diumumkan pada Senin (27/7). Dalam evaluasi tersebut, BEI juga memasukkan PT Indika Energy Tbk (INDY) ke LQ45, menggantikan PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) dan PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) yang telah didepak dari indeks bergengsi itu. Susunan baru indeks tersebut akan berlaku efektif mulai 3 Agustus hingga 30 Oktober 2026.

Indeks LQ45 merupakan indeks saham yang menghimpun 45 emiten dengan tingkat likuiditas tertinggi di pasar modal Indonesia. Nama LQ45 sendiri merupakan singkatan dari Liquid 45, yang mencerminkan saham-saham dalam daftar ini dipilih  berdasarkan volume perdagangan yang tinggi dan kapitalisasi pasar yang besar.

Investment Specialist Korea Investment Sekuritas Indonesia Azharys Hardian menilai masuknya INDY dan NCKL ke LQ45 menjadi katalis positif karena meningkatkan peluang kedua saham tersebut masuk dalam radar investor institusi.

"Masuknya INDY dan NCKL ke dalam indeks LQ45 menjadi sinyal positif yang secara otomatis memperluas jangkauan kedua emiten ini ke dalam radar investor institusi," ujar Azharys kepada Katadata.co.id, Selasa (28/7).

Menurut dia, perubahan konstituen indeks juga berpotensi memicu passive inflow, yakni arus dana dari reksa dana indeks maupun exchange traded fund (ETF) yang menggunakan LQ45 sebagai acuan investasi. Manajer investasi tersebut umumnya akan melakukan penyesuaian portofolio mengikuti susunan terbaru indeks.

Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama juga memandang dengan masuknya INDY dan NCKL ke LQ45 menjadi sentimen positif karena meningkatkan visibilitas kedua emiten sekaligus membuka peluang masuknya dana pasif dari ETF dan reksa dana berbasis indeks.

Kendati demikian, Elandry mengingatkan dampak tersebut umumnya hanya terasa dalam jangka pendek. Dalam jangka menengah hingga panjang, pergerakan harga saham tetap akan ditentukan oleh fundamental dan kinerja keuangan masing-masing perusahaan.

Untuk INDY, Elandry masih mempertahankan pandangan positif. Menurutnya, transformasi bisnis perseroan dari perusahaan batu bara menjadi grup energi dan hilirisasi mulai menghasilkan diversifikasi pendapatan.

"Di sisi lain, risiko utamanya tetap berasal dari volatilitas harga batu bara global, kebutuhan belanja modal yang tinggi, serta ketidakpastian perkembangan proyek baru," ujarnya.

Prospek Saham NCKL dan Target Harganya

Azharys menilai NCKL memiliki keuntungan lebih besar dibanding emiten lain yang hanya masuk LQ45 karena sekaligus menjadi konstituen IDX80. "Khusus untuk NCKL yang juga berhasil menembus indeks IDX80, tingkat likuiditas sahamnya diproyeksikan akan meningkat," ujarnya.

Dia menjelaskan, konstituen IDX80 menjadi underlying asset yang memenuhi syarat bagi penerbit Waran Terstruktur (Structured Warrants) di Indonesia. Semakin banyak produk investasi yang menggunakan suatu saham sebagai aset acuan. Semakin besar pula potensi peningkatan aktivitas perdagangan saham tersebut.

Selain didorong sentimen indeks, prospek fundamental NCKL juga dinilai masih positif. Azharys mengatakan kinerja perseroan berpotensi membaik pada semester kedua 2026 seiring rampungnya sejumlah proyek strategis pada paruh pertama tahun ini.

Salah satunya adalah proyek Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) dengan kapasitas produksi hingga 65.000 ton feronikel per tahun serta fasilitas produksi kapur tohor yang mendukung efisiensi operasional pabrik High Pressure Acid Leach (HPAL). Kedua fasilitas tersebut diperkirakan mulai memberikan kontribusi terhadap volume penjualan dan margin keuntungan pada semester kedua 2026.

Di sisi lain, investor tetap perlu mencermati sejumlah risiko, terutama fluktuasi harga nikel global serta perkembangan permintaan dari industri kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) yang masih menjadi penentu utama prospek sektor nikel.

KISI memproyeksikan saham INDY direkomendasikan dengan target harga Rp 3.200 per saham, sedangkan target harga NCKL disematkan ke level Rp 1.000 per saham.

Senada dengan Azharys, Elandry mengatakan NCKL juga masih menarik seiring posisinya sebagai salah satu pemain utama dalam ekosistem nikel terintegrasi. Masuknya ke LQ45 dan IDX80 dapat meningkatkan likuiditas perdagangan serta memperluas basis investor institusi.

Sentimen positif berasal dari pertumbuhan volume produksi, hilirisasi nikel yang terus berkembang dan prospek permintaan jangka panjang dari industri baterai kendaraan listrik. Namun investor juga perlu mencermati fluktuasi harga nikel global, potensi oversupply serta perubahan kebijakan di sektor pertambangan yang dapat memengaruhi margin.

Elandry mempertahankan rekomendasi beli untuk kedua saham tersebut dengan target harga akhir tahun INDY di Rp 2.800 dan NCKL di Rp 1.350. 

Meski begitu Meski demikian, Elandry mengingatkan bahwa masuknya suatu saham ke indeks utama sebaiknya dipandang sebagai katalis tambahan, bukan satu-satunya dasar dalam mengambil keputusan investasi. Menurutnya, pergerakan harga saham dalam jangka pendek tetap akan dipengaruhi kondisi pasar secara keseluruhan, sentimen investor, pergerakan harga komoditas serta arus dana asing.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Karunia Putri