GOTO Pangkas Target EBITDA Gojek Jadi Rp 1,5 Triliun Imbas Komisi 8%
PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) memangkas target EBITDA yang disesuaikan pada segmen on demand services atau Gojek menjadi sekitar Rp 1,4–1,5 triliun. Adapun target sebelumnya adalah Rp 1,7-1,8 triliun.
Penurunan tersebut imbas dari penerapan komisi aplikasi sebesar 8% yang diterapkan mulai 1 Juli 2026 sesuai Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 532 Tahun 2026. Struktur tersebut berlaku untuk bisnis transportasi roda dua Gojek yang menyumbang sekitar 7% dari pendapatan bersih Grup GOTO.
Direktur Utama Grup GOTO, Hans Patuwo mengatakan, dampak dari perubahan komisi itu akan terlihat pada laporan keuangan kuartal ketiga 2026. Namun, setelah satu bulan berjalan, kondisi bisnis perusahaan menurut dia akan tetap stabil.
“Penyesuaian ini tidak mudah, tetapi kami percaya bisa mengatasi dampaknya,” ucap Hans dalam keterangan resminya, Rabu (29/7).
Sebaliknya, GOTO menaikkan pedoman kinerja EBITDA dari segmen fintech menjadi Rp 1,7-1,8 triliun dari sebelumnya Rp 1,4-1,5 triliun, seiring dengan kinerja bisnis yang terus unggul.
Hans juga mengatakan GOTO tetap mempertahankan panduan EBITDA grup yang disesuaikan untuk sepanjang 2026 di kisaran Rp 3,2 triliun hingga Rp 3,4 triliun. Perusahaan memperkirakan kontribusi dari bisnis on-demand services akan berkurang, sementara bisnis fintech akan berkontribusi lebih besar.
Menurutnya, panduan tersebut didasarkan pada proyeksi awal GOTO dengan mempertimbangkan kondisi saat ini dan dapat berubah sewaktu-waktu.“Hal itu akibat berbagai risiko termasuk ketatnya persaingan pasar dan inflasi biaya, hingga ketidakpastian ekonomi makro serta variabel lainnya yang berada di luar kendali GOTO,” ucap Hans.
Raup Laba Rp 607,49 Miliar hingga Semester I 2026
GOTO membukukan laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 607,49 miliar hingga semester pertama 2026. Torehan itu berbalik positif atau melonjak sekitar 204,7% secara tahunan atau year on year (YoY) dari rugi Rp 580,01 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Berdasarkan laporan keuangannya, pendapatan GOTO juga melonjak 28,4% YoY dari Rp 8,55 triliun menjadi Rp 10,9 triliun hingga Juni 2026. Secara terperinci, segmen on-demand services (Gojek) membukukan EBITDA yang disesuaikan sebesar Rp 464 miliar, meningkat 41% YoY, ditopang oleh pendapatan bersih yang mencapai R p3,6 triliun.
Jumlah pesanan yang diselesaikan tumbuh 3% YoY dan 8% secara kuartalan atau quarter on quarter (qoq). Sementara itu, nilai transaksi bruto (GTV) naik 2% YoY menjadi Rp 16,7 triliun.
Di segmen delivery, margin meningkat menjadi 2,1% dari 1,8% pada periode yang sama tahun lalu. Adapun margin di segmen mobility naik menjadi 5,0% dari 3,0%.
Kemudian pada segmen fintech (GoPay), GOTO membukukan EBITDA yang disesuaikan sebesar Rp 481 miliar atau melonjak 447% secara tahunan. Pendapatan bersih juga meningkat 53% YoY menjadi lebih dari Rp 2,0 triliun.
Jumlah pengguna yang bertransaksi bulanan mencapai 28,8 juta, naik 29% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, jumlah transaksi tumbuh 91% YoY menjadi 2,4 miliar. Nilai kredit Gopay mencatatkan Rp 11 triliun atau naik 58% dibandingkan tahun lalu.