Tak Hanya Bango, Unilever Indonesia (UNVR) Disebut Juga Bakal Lepas Royco

royco.co.id
Produk bumbu penyedap masakan Royco (ilustrasi).
31/7/2026, 19.50 WIB

PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) disebut berencana untuk mendivestasi penyedap rasa bermerek Royco. Isu tersebut melanjutkan kabar sebelumnya yang mengatakan raksasa FMCG (fast moving consumer goods) itu hendak melepas bisnis kecap merek Bango.

Berdasarkan riset BRI Danareksa Sekuritas, proses pemisahan segmen foods & refreshment (F&R) masih berjalan sesuai rencana. Dalam transaksi yang diusulkan dengan McCormick, merek Bango dan Royco tetap menjadi bagian dari portofolio yang akan dialihkan.

Analis BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Christy Halim dan Sabela Nur Amalina, tetap merekomendasikan beli untuk saham UNVR, meski menurunkan target harga menjadi Rp 2.200 per saham. Dalam risetnya, BRIDS melakukan penyesuaian tipis terhadap proyeksi laba perseroan, yakni naik 0,7% untuk Tahun Buku 2026 dan turun 3,6% untuk 2027.

Kendati demikian, BRIDS masih memperkirakan pendapatan Unilever Indonesia akan tumbuh 5,8% dan laba bersih meningkat 12,9% pada 2026. “Unilever tetap berkomitmen untuk mendistribusikan 100% laba bersih dari divestasi Sariwangi kepada pemegang saham pada FY26,” tulis Christy dan Sabela dalam risetnya, dikutip pada Jumat (31/7).

BRIDS juga mempertahankan target price to earnings (PE) sebesar 19,8 kali untuk proyeksi laba Tahun Buku 2026 atau sekitar 0,5 standar deviasi di bawah rata-rata tiga tahun. Saat ini, saham UNVR diperdagangkan pada PE 14,9 kali berdasarkan proyeksi laba Tahun Buku 2026 atau sekitar 1 standar deviasi di bawah rata-rata tiga tahun.

BRIDS juga mengidentifikasi sejumlah risiko yang dapat memengaruhi kinerja UNVR, misalnya potensi cuaca ekstrem El Niño, ketegangan geopolitik berkepanjangan yang dapat meningkatkan biaya logistik dan bahan baku, dan lemahnya permintaan konsumen.

Katadata telah meminta konfirmasi kepada tim komunikasi UNVR. Namun belum ada jawaban dari mereka hingga berita ini ditayangkan.

Sebelumnya, pada kuartal pertama 2026, McCormick & Company dan Unilever Plc menandatangani perjanjian untuk menggabungkan bisnis McCormick dengan bisnis makanan Unilever (Unilever Foods). Transaksi tersebut mengecualikan bisnis makanan Unilever di India dan sejumlah bisnis lain yang telah ditetapkan sebagai excluded businesses.

Aksi korporasi jumbo itu ditargetkan dapat menjadi pemimpin global di industri bumbu dan penyedap rasa dengan proyeksi pendapatan gabungan sekitar US$ 20 miliar pada Tahun Fiskal 2025. Berdasarkan kesepakatan tersebut, setelah transaksi rampung, Unilever dan para pemegang sahamnya akan menerima kepemilikan setara 65% dari saham perusahaan hasil penggabungan yang telah terdilusi penuh atau sekitar US$ 29,1 miliar berdasarkan harga rata-rata tertimbang saham McCormick selama satu bulan. 

Selain itu, Unilever juga akan memperoleh pembayaran tunai sekitar US$ 15,7 miliar, dengan penyesuaian tertentu pada saat penutupan transaksi.

Transaksi tersebut menempatkan nilai perusahaan bisnis Unilever Foods sekitar US$ 44,8 miliar atau setara 13,8 kali EBITDA Tahun Fiskal 2025. Sementara itu, nilai perusahaan McCormick diperkirakan mencapai US$ 21 miliar, dengan valuasi yang sama sebesar 13,8 kali EBITDA.

Setelah transaksi rampung, pemegang saham Unilever diperkirakan menguasai 55,1% saham perusahaan gabungan, pemegang saham McCormick memiliki 35%, sedangkan Unilever akan mempertahankan kepemilikan langsung sekitar 9,9%.

McCormick dan Unilever menilai penggabungan tersebut akan menyatukan portofolio merek global di kategori rempah-rempah, bumbu, penyedap rasa, bahan bantu memasak, saus, dan pelengkap makanan. Lalu, ke depannya Unilever global akan mengandalkan pertumbuhan dari bisnis kecantikan, kesehatan, perawatan pribadi, dan kebutuhan rumah tangga.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nur Hana Putri Nabila