Adu Kinerja Emiten Grup Salim, INDF, LSIP, BUMI, hingga DCII: Siapa Paling Jago?
Sejumlah emiten yang terafiliasi dengan konglomerat Anthoni Salim telah melaporkan kinerja keuangan mereka sepanjang paruh pertama 2026. Bisnis yang bernaung di bawah Grup Salim itu terbentang di berbagai sektor.
Di segmen makanan dan konsumer, ada PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) dan PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET). Di bidang perkebunan kelapa sawit, Salim memiliki bisnis PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) dan PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP). Kemudian, di sektor teknologi, grup itu memiliki saham di perusahaan PT DCI Indonesia Tbk (DCII).
Selain itu, Salim juga berkongsi dengan konglomerat lainnya di saham tambang seperti PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), PT Amman Mineral Tbk (AMMN), dan PT Medco Energi International Tbk (MEDC).
Di paruh pertama tahun ini, mayoritas bisnis Salim mencatatkan pertumbuhan pendapatan. Lalu, bagaimana perincian kinerja masing-masing emiten itu?
Sektor Makanan dan Ritel
Dua emiten Salim di sektor makanan yang terkenal lewat merek Indomie, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), membukukan penurunan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk. Namun penjualan neto kedua perusahaan mengalami pertumbuhan.
Secara terperinci, INDF membukukan penjualan Rp 65,52 triliun pada semester pertama 2026. Torehan itu melesat 9,49% dibandingkan dengan penjualan INDF pada periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 59,84 triliun.
Dari total penjualan tersebut, penjualan pihak ketiga berkontribusi paling tinggi yaitu Rp 59,97 triliun. Sementara sisanya adalah penjualan pihak berelasi Rp 5,54 triliun.
Seiring dengan naiknya penjualan neto perseroan, beban pokok penjualan juga menebal menjadi Rp 44,14 dari Rp 40,01 triliun secara tahunan. Alhasil, laba bruto perseroan masih tumbuh menjadi Rp 21,38 triliun dari Rp 19,83 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Namun, laba sebelum pajak justru turun 14,6% YoY menjadi Rp 8,71 triliun dari Rp 10,21 triliun. Penurunan tersebut berlanjut ke laba periode berjalan yang menyusut menjadi Rp 6,95 triliun dari Rp 8,10 triliun pada semester pertama 2025.
Perseroan menjelaskan, penurunan laba terutama disebabkan meningkatnya rugi selisih kurs yang belum terealisasi dari aktivitas pendanaan, seiring pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Meskipun laba bersih tertekan, kinerja operasional perusahaan tetap menunjukkan perbaikan. Hal itu tercermin dari core profit yang meningkat 7% menjadi Rp 6,18 triliun dibandingkan Rp 5,78 triliun pada semester pertama tahun lalu.
Anthoni Salim selaku direktur utama perseroan menyatakan, di tengah ketidakpastian global yang terus berlangsung, Indofood membukukan kinerja yang solid pada semester pertama di tahun 2026 ini.
“Kami tetap fokus mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan, menjaga keseimbangan antara pangsa pasar dan tingkat profitabilitas, serta mempertahankan posisi neraca yang sehat," ungkap Anthoni dalam keterangan resmi, dikutip pada Senin (3/8).
Hal serupa juga dialami anak usaha Indofood, ICBP. Perseroan membukukan penjualan neto sebesar Rp 41,86 triliun pada semester pertama 2026, naik 11,32% dibandingkan Rp 37,60 triliun pada semester pertama 2025. Laba usaha ICBP juga naik 8% menjadi Rp 9,15 triliun dari Rp 8,48 triliun, dengan margin laba usaha di level 21,9%.
Namun, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun 33% menjadi Rp 3,70 triliun dari Rp 5,54 triliun pada semester pertama 2025. Penurunan tersebut terutama disebabkan meningkatnya rugi selisih kurs yang belum terealisasi dari aktivitas pembiayaan akibat pelemahan nilai tukar rupiah.
Di sisi lain, core profit ICBP masih meningkat tipis 1% menjadi Rp 5,40 triliun dari Rp 5,37 triliun pada semester pertama tahun lalu. Hal ini menunjukkan kinerja operasional perseroan tetap tumbuh meski laba bersih tertekan oleh faktor nonoperasional.
Sementara itu, emiten Salim yang terkenal dengan merek ritel Indomaret, PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET), membukukan pendapatan dari kontrak dengan pelanggan Rp 871,83 miliar dari Rp 801,37 miliar. Perseroan membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 398,56 miliar dari Rp 540,65 miliar secara YoY.
Pendapatan Perkebunan Sawit Melesat
Di sektor perkebunan kelapa sawit, pundi-pundi rupiah Salim membesar. PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) membukukan pendapatan dari kontrak dengan pelanggan sebesar Rp 9,62 triliun pada semester pertama 2026, meningkat sekitar 2,8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 9,39 triliun.
Kendati beban pokok penjualan ikut meningkat menjadi Rp 7,43 triliun dari Rp 7,12 triliun, SIMP masih mampu membukukan laba bruto sebesar Rp 2,19 triliun. Angka tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan Rp 2,27 triliun pada semester pertama 2025.
Efisiensi operasional mendorong perbaikan laba usaha yang naik 17,5% menjadi Rp 1,77 triliun dari Rp 1,51 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk naik menjadi Rp 873,5 miliar, meningkat 15,7% YoY dibandingkan sebelumnya Rp 755,1 miliar.
Berikutnya, PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) mencatatkan pendapatan sebesar Rp 2,69 triliun, meningkat 15,9% YoY dari Rp 2,32 triliun.
Kenaikan penjualan tersebut ditopang oleh meningkatnya penjualan produk kelapa sawit dan karet. Kendatibeban pokok penjualan ikut naik menjadi Rp 1,83 triliun dari Rp 1,39 triliun, perseroan masih membukukan laba bruto sebesar Rp 862,65 miliar.
Efisiensi biaya operasional turut mendorong perbaikan profitabilitas. Laba usaha LSIP melonjak 28,3% menjadi Rp 918,06 miliar dibandingkan Rp 715,30 miliar pada semester pertama 2025. Laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tumbuh 24,7% YoY menjadi Rp 890,99 miliar dari sebelumnya Rp 714,46 miliar.
Bisnis Tambang Salim
Di bisnis tambang, Salim memiliki perusahaan patungan dengan Grup Bakrie yaitu PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS).
BUMI membukukan pendapatan yang meningkat 27,9% YoY menjadi US$ 866,8 juta (atau setara Rp 1,55 triliun) dari US$ 677,9 juta. Kenaikan pendapatan diikuti beban pokok pendapatan yang naik menjadi US$ 720,8 juta dari US$ 570,9 juta pada periode yang sama tahun lalu.
Laba usaha melonjak 50,3% YoY menjadi US$ 83,1 juta dari US$ 55,3 juta. Sementara margin usaha meningkat menjadi 9,6% dari 8,2% pada periode yang sama tahun lalu. Alhasil, laba sebelum pajak lebih dari dua kali lipat menjadi US$ 104,3 juta, sedangkan laba bersih naik 87,4% menjadi US$ 72,3 juta.
Kinerja yang menjadi hak pemegang saham induk tumbuh lebih tinggi lagi. Laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk melesat 188,4% menjadi US$ 58,9 juta dari US$ 20,4 juta pada semester pertama 2025. Perseroan menyebut kenaikan tersebut turut ditopang kontribusi aset baru di Australia yang belum masuk dalam basis pembanding tahun lalu.
Secara operasional, produksi batu bara meningkat 7,1% YoY menjadi 38,5 juta ton, sedangkan volume penjualan naik lebih tinggi, yakni 11,7% YoY menjadi 38,8 juta ton. Penjualan yang melampaui produksi mencerminkan permintaan yang tetap kuat sehingga persediaan batu bara turun menjadi 1,7 juta ton dari 2,7 juta ton setahun sebelumnya. Di saat yang sama, harga jual rata-rata (FOB) membaik menjadi US$62,9 per ton dari US$61,3 per ton.
Menurut perseroan, pertumbuhan volume produksi dan penjualan, perbaikan harga jual serta peningkatan efisiensi penambangan menjadi faktor utama yang mendorong ekspansi marjin. Hal itu tercermin dari membaiknya strip ratio menjadi 7,5 kali dari 8,1 kali, yang menunjukkan perusahaan mampu menghasilkan lebih banyak batu bara tanpa peningkatan signifikan pada volume pengupasan tanah penutup (overburden).
Hingga akhir semester pertama 2026, realisasi penjualan batu bara BUMI telah mencapai sekitar separuh target tahunan sebesar 82–84 juta ton. Sementara itu, harga jual rata-rata sebesar US$ 62,9 per ton juga berada di kisaran atas proyeksi perusahaan untuk sepanjang tahun, yakni US$ 60–62 per ton. Perseroan menargetkan biaya produksi tetap terjaga di kisaran US$ 42–44 per ton serta melanjutkan strategi diversifikasi, termasuk integrasi aset yang baru diakuisisi di Australia.
Sementara itu, BRMS membukukan penurunan penjualan menjadi US$ 95,79 juta. Nilai tersebut turun 20,7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 120,85 juta. Pelemahan penjualan turut menekan profitabilitas perusahaan. Laba bruto menyusut 23,3% YoY menjadi US$ 55,40 juta dari US$ 72,22 juta.
Laba bersih periode berjalan anjlok 41,3% menjadi US$ 13,28 juta dibandingkan US$ 22,27 juta pada periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk merosot 43,8% menjadi US$ 12,92 juta dari US$ 22,97 juta pada semester pertama 2025.
Di luar dua emiten tambang itu, PT Amman Mineral Tbk (AMMN) dan PT Medco Energi International Tbk (MEDC) hingga Senin (3/8) ini belum menyampaikan menyampaikan kinerja keuangan mereka di semester pertama.
Kinerja DCII
Perusahaan pusat data Salim bersama konglomerat Otto Toto Sugiri, PT DCI Indonesia Tbk (DCII) juga telah melaporkan kinerja finansialnya ke publik. Di emiten tersebut, Anthoni Salim menggenggam 11,12% saham atau setara 265,03 juta lembar saham beredar.
Hingga semester pertama 2026, DCII Indonesia membukukan kinerja yang tetap tumbuh. Pendapatan perseroan naik 33,2% YoY menjadi Rp 1,78 triliun dari Rp 1,33 triliun. Kenaikan pendapatan tersebut diikuti pertumbuhan laba bruto sebesar 21,2% menjadi Rp 963,7 miliar dari Rp 795 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Seiring dengan itu, laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tumbuh 18,7% YoY menjadi Rp 732,5 miliar dari periode sebelumnya Rp 616,9 miliar.