Membaca Arah Baru DSSA di Balik Perubahan Pemegang Saham, Bersiap Lepas Treasuri

PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA)
PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), emiten grup Sinarmas
Penulis: Ira Guslina Sufa
4/8/2026, 06.55 WIB

PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) mulai merealisasikan rencana pengalihan saham hasil pembelian kembali (buyback) di tengah restrukturisasi grup dan penguatan bisnis digital. Langkah ini dilakukan ketika struktur kepemilikan emiten Grup Sinar Mas tersebut semakin terkonsentrasi setelah serangkaian aksi korporasi sepanjang tahun ini.

Perseroan mengumumkan akan mengalihkan sebanyak-banyaknya 9,63 miliar saham treasury atau sekitar 5% dari seluruh saham yang telah diterbitkan melalui mekanisme penjualan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pelaksanaan pengalihan dijadwalkan berlangsung mulai 10 Agustus 2026 hingga selesai dengan menunjuk PT Sinarmas Sekuritas sebagai anggota bursa pelaksana.

Dalam keterbukaan informasi, manajemen menjelaskan saat ini DSSA masih memiliki 37,91 miliar saham treasury yang berasal dari program pembelian kembali saham dan realisasi pengalihan saham sebelumnya. Perseroan menyebut rencana tersebut merupakan pelaksanaan ketentuan POJK Nomor 29 Tahun 2023, yang mewajibkan saham hasil buyback dialihkan paling lambat tiga tahun setelah pembelian kembali selesai.

"Untuk memenuhi POJK 29/2023, Perseroan bermaksud melaksanakan pengalihan saham melalui mekanisme penjualan saham di BEI, yang dapat dilakukan tanpa persetujuan rapat umum pemegang saham," tulis manajemen DSSA seperti dikutip Selasa (4/8). .

Harga pengalihan nantinya akan mengikuti ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Hal yang menarik, rencana pelepasan saham treasury muncul ketika struktur pemegang saham DSSA mengalami perubahan signifikan.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia per 31 Juli 2026, PT Sinar Mas Tunggal tercatat sebagai pemegang saham terbesar dengan kepemilikan 115,38 miliar saham atau sekitar 59,9%. Di sisi lain, DSSA sendiri masih menguasai 37,91 miliar saham treasury atau sekitar 19,68% dari modal ditempatkan. Kepemilikan tersebut menjadikan saham treasury sebagai porsi terbesar kedua setelah pemegang saham pengendali.

Adapun investor institusi asing masih menguasai sebagian saham perseroan, di antaranya UOB Kay Hian Pte Ltd sebesar 3,76%, Fitzgerald & Wilkinson Investments Ltd sebesar 3,45%, dan Citibank Hong Kong S/A PBG Clients HK sebesar 2,97%. Komposisi tersebut menunjukkan kendali Grup Sinar Mas terhadap DSSA semakin kuat, sementara ruang kepemilikan publik relatif terbatas.

Di saat yang sama, DSSA juga telah mengumumkan akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 10 September 2026. Pemegang saham yang berhak menghadiri rapat adalah mereka yang tercatat dalam daftar pemegang saham pada penutupan perdagangan 11 Agustus 2026.

Belum dijelaskan agenda yang akan dibahas dalam rapat tersebut. Namun waktunya berdekatan dengan dimulainya pelaksanaan pengalihan saham treasury.


PT Dian Swastatika Tbk (DSSA) (PT Dian Swastatika Tbk (DSSA))

Restrukturisasi BMT Jadi Petunjuk Arah Baru

Di luar perubahan struktur kepemilikan, DSSA juga tengah merampungkan restrukturisasi anak usaha strategis. Dalam jawaban kepada Bursa Efek Indonesia terkait transaksi afiliasi PT Bali Media Telekomunikasi (BMT), perseroan menyatakan BMT kini telah menjadi entitas anak yang dikendalikan penuh. 

Setelah transaksi kini seluruh laporan keuangannya dikonsolidasikan ke dalam laporan keuangan grup. Manajemen juga memastikan seluruh instrumen convertible debt yang sebelumnya dimiliki DSSA terhadap BMT telah diselesaikan.

"Perseroan tidak lagi memiliki investasi dalam bentuk convertible debt terhadap BMT dan BMT tidak lagi memiliki kewajiban berupa convertible debt kepada Perseroan," tulis DSSA dalam tanggapan kepada Bursa.

Setelah transaksi efektif pada 6 Juli 2026, BMT kemudian menerbitkan 8,54 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp 1.000 per saham. Dana hasil penambahan modal sebesar Rp 8,54 triliun digunakan sepenuhnya untuk memperkuat struktur permodalan perusahaan.

Menurut DSSA, langkah tersebut bukan merupakan transaksi pemindahan aset, melainkan untuk meningkatkan kapasitas pendanaan dan fleksibilitas keuangan BMT. Manajemen juga menjelaskan tidak ada dana yang dialirkan kepada entitas anak, entitas asosiasi, maupun pihak lain. 

“Seluruh dana yang telah diperoleh BMT sebesar Rp 8.54 triliun telah dipergunakan untuk memperkuat struktur permodalan dan memastikan kapasitas pendanaan dan fleksibilitas kemampuan finansial BMT,” tulis manajemen. 

Persiapan Mesin Pertumbuhan Baru

Restrukturisasi tersebut menjadi bagian dari transformasi DSSA yang kini semakin agresif mengembangkan bisnis di luar batu bara. Presiden Direktur DSSA L. Krisnan Cahya sebelumnya mengatakan perseroan mengarahkan investasi pada infrastruktur digital, energi rendah karbon, pusat data, hingga teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI).

"Melalui investasi pada energi rendah karbon, konektivitas digital, pusat data, komputasi berbasis AI, dan teknologi masa depan lainnya, DSSA berkomitmen memperkuat daya saing sekaligus mendukung transformasi digital dan transisi energi di Indonesia," ujar Krisnan.

Strategi tersebut mulai tercermin pada kinerja perusahaan. Pada kuartal I 2026, pendapatan segmen infrastruktur digital dan teknologi tumbuh sekitar 50% secara tahunan menjadi US$69,1 juta. Perseroan juga memperkuat ekosistem digital melalui merger MyRepublic Indonesia dengan PT Mora Telematika Indonesia Tbk, pembangunan pusat data berbasis AI, hingga akuisisi BMT yang memberikan kepemilikan tidak langsung di PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL).

Sementara itu pendapatan dari sektor energi terbarukan juga meningkat menjadi US$ 35,72 ribu dari US$ 28,62 ribu secara tahunan. Pertumbuhan pendapatan juga ditopang dari merger PT Eka Mas Republik (MyRepublic Indonesia) dan PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) menjadi PT Ekamas Mora Republik (MoraRepublic). Entitas baru tersebut kini mengoperasikan jaringan serat optik lebih dari 166 ribu km, menjangkau sekitar 12,7 juta homepass, serta melayani lebih dari dua juta pelanggan ritel dan lebih dari 17 ribu pelanggan bisnis.

Di sisi pusat data, DSSA melalui PT SMPlus Digital Investama (SM+) mempercepat pengembangan fasilitas yang dirancang untuk mendukung kebutuhan komputasi AI. Setelah menyelesaikan tahap topping off pusat data SMX01 di Jakarta pada Mei 2026, perseroan menargetkan fasilitas berstandar Tier IV dengan kapasitas lebih dari 18 megawatt itu mulai beroperasi pada kuartal keempat 2026.

Selain itu, SM+ juga mengembangkan 25 edge data center untuk mendukung komputasi berlatensi rendah yang dibutuhkan sektor telekomunikasi, bisnis hingga aplikasi AI. Ekosistem tersebut diperkuat melalui pembentukan PT Brilian Teknologi Sejahtera, perusahaan patungan DSSA dengan perusahaan teknologi asal Cina, iFLYTEK. Kerja sama itu difokuskan pada pengembangan solusi machine learning dan AI bagi berbagai sektor industri.

Langkah serius menjajaki bisnis pusat data lainnya dilakukan DSSA dengan mengakuisisi PT Bali Media Telekomunikasi (BMT), perusahaan yang memiliki 24,57% saham PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL). Melalui transaksi senilai sekitar Rp 4 triliun tersebut, DSSA memperoleh kepemilikan tidak langsung di EXCL sekaligus memperkuat bisnis telekomunikasi sebagai salah satu mesin pertumbuhan jangka panjang.

Tak berhenti di situ, DSSA juga baru saja mencaplok perusahaan telekomunikasi PT Ketrosden Triasmitra Tbk (KETR). Pengambilalihan 994,44 juta saham itu dilakukan perusahaan terafiliasi Grup Sinar Mas yaitu PT Inti Mas Bangun Sejahtera (IMBS). Ke depan, DSSA akan menjadi pemegang manfaat akhir KETR. 

KETR adalah perusahaan yang bergerak di bidang infrastruktur jaringan telekomunikasi, jasa pemeliharaan dan pengelolaan kabel komunikasi serta penyedia sistem komunikasi kabel serat optik laut dan darat.

Diversifikasi Bisnis hingga Energi Terbarukan

Sepanjang 2025 hingga awal 2026, perseroan telah merealisasikan sejumlah langkah transformatif besar. Salah satunya melalui implementasi prinsip berkelanjutan di hulu pertambangan. 

PT Borneo Indobara (BIB) meluncurkan program elektrifikasi alat tambang terbesar di Indonesia. Inisiatif hijau ini telah memobilisasi sebanyak 176 unit kendaraan listrik dan hybrid hingga Mei 2026 sebagai bagian dari peta jalan strategis menuju pencapaian target emisi net zero pada periode 2028–2029. 

Krisnan menjelaskan komitmen terhadap energi baru dan terbarukan (EBT) ini juga diperkuat melalui peresmian pabrik manufaktur sel dan modul surya terintegrasi berkapasitas 1 GW per tahun di Kendal. Selain itu jalinan kemitraan strategis bersama PT FirstGen Geothermal Indonesia, entitas anak First Gen Corporation asal Filipina yang memperluas portofolio panas bumi Perseroan dengan potensi kapasitas awal mencapai 440 MW di enam wilayah strategis Indonesia.

Di balik agresivitas ekspansi ke digital, struktur pendapatan DSSA masih sangat bergantung pada batu bara. Direktur DSSA, Daniel Cahya  mengatakan secara struktur, DSSA terbagi dalam dua pilar besar, yakni Sinarmas Energy & Infrastructure serta Sinarmas Communication & Technology.

Pilar pertama mencakup tambang batu bara melalui Golden Energy Mines (GEMS), energi baru terbarukan (EBT), hingga sektor kimia. Sementara pilar kedua mengelola aset telekomunikasi dan digital, termasuk MyRepublic Indonesia serta konsolidasi kepemilikan di PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk (EXCL).

Lebih lengkap mengenai jejaring bisnis Dian Swastatika dapat dilihat dari gambar berikut: 


Jejaring bisnis Dian Swastatika Sentosa (Paparan DSSA)

 

 

Dengan diversifikasi yang luas, ketimpangan kontribusi pendapatan pun masih mencolok. Pada 2025, GEMS menyumbang sekitar 89% dari total pendapatan DSSA dengan nilai mencapai US$2,48 miliar. Angka ini menegaskan bahwa mesin utama perusahaan masih bertumpu pada komoditas.

Daniel mengakui dominasi tersebut masih akan berlanjut dalam jangka pendek. Namun, ia menegaskan arah diversifikasi perusahaan mulai bergeser. 

“Yang kami harapkan, bisnis infrastruktur digital dan energi akan naik signifikan dalam 3-4 tahun ke depan dan kontribusi ke revenue bisa tumbuh dua digit,” ujar Daniel.

Ambisi menyeimbangkan pendapatan antara batu bara dan nonbatu bara dalam 3-4 tahun ke depan bukan tanpa tantangan. Ketergantungan pada batu bara membuat DSSA rentan terhadap fluktuasi harga komoditas global.

Manajemen DSSA mengakui tekanan harga masih terjadi, meskipun volume produksi meningkat. Di sisi lain, ekspansi ke digital dan EBT menuntut belanja modal besar dengan periode pengembalian yang lebih panjang. 

Tantangan lain juga muncul dalam ekosistem digital. DSSA kini mengintegrasikan berbagai lini usaha mulai dari backbone fiber sepanjang puluhan ribu kilometer, layanan broadband, hingga pengembangan data center Tier IV dan inisiatif AI. Kombinasi ini membentuk model bisnis end-to-end, dari infrastruktur hingga layanan ke pengguna akhir.

DI sisi lain meski batu bara masih menjadi fondasi jangka pendek, arah strategis DSSA mulai bergeser. Kontribusi energi fosil secara bertahap akan diseimbangkan dengan pertumbuhan bisnis digital dan EBT.

Wakil Presiden Direktur DSSA, Lokita Prasetya, menjelaskan bahwa dominasi GEMS akan terdilusi oleh ekspansi segmen baru.  Meski begitu, Lokita menyatakan sektor energi tetap menjadi fondasi bisnis Perseroan dengan fokus pada operasional yang efisien dan berkelanjutan.

“Strategi ini diwujudkan melalui penguatan sustainable mining practices, mulai dari peningkatan efisiensi energi hingga pengelolaan lingkungan yang terintegrasi,” ujar Lokita dalam temu media pada Kamis (2/4). 

Lokita mengatakan, perusahaan saat ini mengebut akselerasi elektrifikasi armada operasional (EV fleets) di PT Borneo Indobara (BIB). Inisiatif tersebut tidak hanya memangkas biaya operasional, tetapi juga memelopori transisi menuju green mining di sektor pertambangan. 

Dengan adopsi teknologi ini, Perseroan memastikan operasional tetap relevan dengan kebutuhan energi masa depan sekaligus secara aktif menekan emisi karbon. Selain itu DSSA secara bertahap juga memperkuat portofolio Energi Baru Terbarukan (EBT), terutama pada sektor panas bumi dan tenaga surya. 

“Langkah ini menjadi strategis mengingat Indonesia memiliki sekitar 40% potensi panas bumi global, yang merupakan sumber baseload energi hijau paling andal dalam jangka panjang,” ujar Lokita. 

Ia menjelaskan, komitmen ini diwujudkan melalui pengoperasian pabrik panel surya terintegrasi 1 GW di KEK Kendal serta pengembangan proyek panas bumi melalui PT DSSR Daya Mas Sakti. Dengan total potensi mencapai 440 MW, Perseroan kini tengah mengakselerasi eksplorasi di enam wilayah strategis mulai dari Cisolok dan Cipanas di Jawa Barat, hingga Sumatera, Flores, dan Sulawesi Tengah. 


Sebaran geothermal dan solar panel Dian Swastatika DSSA (Katadata)

Guna memperkuat kapabilitas teknis dan operasional, DSSA juga menjalin kemitraan strategis dengan PT FirstGen Geothermal Indonesia yang merupakan anak usaha Energy Development Corporation (EDC). Sejalan dengan itu, DSSA juga terus memperkuat penerapan praktik yang lebih hijau, efisien, dan berkelanjutan.

“Pendekatan kami adalah menjaga keandalan pasokan energi saat ini, sekaligus secara bertahap mengembangkan sumber energi yang lebih rendah emisi sebagai bagian dari strategi jangka panjang Perseroan.” ujar Lokita lagi. 

Menurut Lokita, langkah ini merupakan bagian dari komitmen DSSA untuk mencapai carbon neutrality pada tahun 2050 melalui pendekatan transisi yang dilakukan secara bertahap dan terukur.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.