Manuver Besar Telkom (TLKM) 2026, Bidik 6 Divestasi hingga Tutup 4 Lini Bisnis
PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) tengah mempercepat langkah restrukturisasi portofolio bisnis pada tahun ini. Berdasarkan Stockbit Sekuritas, manajemen emiten telekomunikasi pelat merah itu disebut menargetkan perampungan enam divestasi, dua aksi merger, dan menutup empat lini bisnis hingga akhir 2026.
Adapun hingga akhir kuartal kedua 2026, TLKM telah menyelesaikan dua divestasi, dua merger, dan menutup delapan bisnisnya. Sebut saja divestasi AdMedika dan Telkomedika yang menghasilkan keuntungan setelah pajak sekitar Rp 429 miliar.
Stockbit Sekuritas mengungkapkan, pada bisnis fiber, TLKM menargetkan penyelesaian fase kedua transfer aset Infranexia pada paruh kedua 2026. Seiring dengan itu, TLKM saat ini juga sedang dalam proses menghadirkan mitra strategis. Manajemen menyampaikan, milestone penting akan diumumkan pada akhir kuartal III 2026, dengan target implementasi dimulai pada kuartal IV 2026.
Adapun untuk bisnis data center, TLKM masih mencari mitra strategis dengan target proses value unlocking selesai pada akhir 2026.
Manajemen TLKM juga menyampaikan belum akan mengubah guidance 2026. Meski pertumbuhan pendapatan pada semester pertama 2026 mencapai 4% secara tahunan (YoY), melampaui target 1%-3% YoY, manajemen memperkirakan divestasi yang akan dilakukan pada paruh kedua 2026 dapat memberikan tekanan moderat terhadap pertumbuhan pendapatan.
“Beberapa bisnis yang akan dijual berpotensi menahan pengembangan proyek baru, sehingga pertumbuhan pendapatannya menjadi lebih terbatas,” tulis Stockbit Sekuritas dalam analisisnya, dikutip pada Rabu (5/8).
Di sisi lain, Telkom Indonesia telah merealisasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp 10,8 triliun pada semester I 2026. Sebagian besar dana tersebut dialokasikan untuk memperkuat bisnis seluler, infrastruktur digital, dan bisnis internasional, sejalan dengan strategi transformasi TLKM 30.
Investasi ini juga memungkinkan untuk semakin mempercepat pemanfaatan tambahan spektrum yang diperoleh Telkomsel dalam lelang frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz pada tahun ini.
Dalam laporan keuangan semester I 2026 yang berakhir pada 30 Juni 2026, Telkom mencatat pendapatan konsolidasi sebesar Rp 75,9 triliun, naik 3,9% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
EBITDA perseroan juga tumbuh 3,8% menjadi Rp 37,5 triliun dengan margin 49,4%, sedangkan laba bersih meningkat 1,4% menjadi Rp 10,6 triliun. Adapun laba bersih yang dinormalisasi mencapai Rp 11,3 triliun atau tumbuh 6,2% secara tahunan, didorong oleh pemulihan bisnis mobile.
Dari sisi likuiditas, Telkom membukukan arus kas operasional sebesar Rp 34,9 triliun, naik 7% dibandingkan semester I tahun lalu. Posisi kas dan setara kas juga meningkat menjadi Rp 54,6 triliun hingga akhir Juni 2026, memberikan ruang yang lebih besar bagi perusahaan untuk mendanai ekspansi jaringan dan infrastruktur digital.