Manuver PGEO Kejar Target Kapasitas 1 GW pada 2028, Laba Naik 15,4% Semester I

ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/aww.
Pekerja memeriksa pipa Pembangkit Listrik Tenaga Panas bumi (PLTP) di Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Karaha, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Selasa (29/10/2024).
Penulis: Karunia Putri
Editor: Ahmad Islamy
5/8/2026, 14.52 WIB

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) atau PGE memasang target ambisius dalam peta bisnisnya hingga dua tahun ke depan. Perseroan menargetkan kapasitas pembangkit listrik panas bumi mencapai 1 gigawatt (GW) pada 2028.

Target tersebut menjadi tahap awal perseroan menuju kapasitas terpasang lebih dari 3 GW. Hal itu sejalan dengan potensi sumber daya panas bumi yang dimiliki perusahaan.

Berdasarkan kinerja keuangannya, PGEO membukukan pendapatan sebesar US$ 235,03 juta atau sekitar Rp 4,2 triliun. Torehan itu naik 14,75% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 204,8 juta.

Pendapatan PGEO terutama berasal dari penjualan listrik dan uap ke PT PLN Indonesia Power dan PT PLN (Persero) di sejumlah wilayah operasi. Penjualan listrik terbesar berasal dari PLTP Kamojang senilai US$ 44,15 juta. Lalu diikuti Lumut Balai US$ 41,11 juta; Ulubelu US$ 36,31 juta; Kamojang untuk penjualan uap US$ 34,72 juta; Lahendong US$ 22,16 juta untuk listrik dan US$ 18,46 juta untuk uap, serta; Karaha US$ 5,92 juta. Perseroan juga memperoleh pendapatan dari production allowances sebesar US$ 9,3 juta.

Seiring dengan itu, perseroan mencatatkan laba bersih US$ 79,62 juta, naik 15,47% dari US$ 68,95 juta secara YoY.  

Direktur Utama PGEO, Ahmad Yani mengatakan, capaian semester pertama menjadi fondasi perseroan memasuki fase pertumbuhan berikutnya. Dia mengatakan, PGEO memiliki sumber daya panas bumi lebih dari 3 gigawatt (GW), salah satu portofolio terbesar di dunia saat ini. 

"Prioritas kami adalah mengubah potensi tersebut menjadi kapasitas pembangkit yang bermanfaat bagi masyarakat," ungkap Ahmad Yani dalam keterangan resmi, Rabu (5/8).

Dia menuturkan, perseroan menargetkan kapasitas terpasang mencapai 1 GW pada 2028, meningkat menjadi 1,8 GW pada 2033, sebelum terus bertambah hingga Indonesia menjadi negara dengan kapasitas panas bumi terbesar di dunia.

Untuk sepanjang 2026, PGEO membidik produksi listrik dan uap terkonsolidasi sebesar 5.255 gigawatt hour (GWh), atau tumbuh sekitar 3,14% dibandingkan tahun sebelumnya. Target tersebut berpotensi menjadi rekor produksi tertinggi perusahaan, didukung kontribusi penuh Lumut Balai Unit 2 serta berbagai program peningkatan keandalan pembangkit.

Produksi listrik PGEO mencapai 2.745 GWh pada paruh pertama 2026, tumbuh 13,62% dibandingkan 2.416 GWh pada periode yang sama tahun lalu.

Perseroan juga mencatatkan availability factor sebesar 99,71%, capacity factor 90,42% serta unplanned outage rate yang rendah di level 0,11%. Tingkat capacity factor tersebut jauh di atas rata-rata perusahaan panas bumi global yang umumnya berada di kisaran 75% hingga 80%.

Peningkatan produksi ditopang oleh hampir seluruh wilayah operasi, yakni Kamojang, Ulubelu, Lahendong, Karaha serta kontribusi penuh PLTP Lumut Balai Unit 2 yang mulai beroperasi secara komersial pada akhir Juni 2025. Produksi Lumut Balai Unit 1 dan 2 bahkan melonjak 108,2% secara tahunan berkat beroperasinya Unit 2 secara penuh dan meningkatnya permintaan listrik.

Saat ini, PGEO mengelola 15 wilayah kerja panas bumi (WKP) dengan total kapasitas terpasang 1.932 megawatt (MW). Dari jumlah tersebut, 727 MW dioperasikan langsung oleh PGEO, sedangkan 1.205 MW dikelola melalui skema kontrak operasi bersama.

Peluang ekspansi juga semakin terbuka setelah pemerintah melalui Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025–2034 menargetkan penambahan kapasitas pembangkit panas bumi sebesar 5,2 GW.

Sejalan dengan itu, tiga proyek strategis PGEO, yakni PLTP Lumut Balai Unit 3 (55 MW), Lumut Balai Unit 4 (55 MW), serta Lahendong Unit 7 dan 8 (50 MW) telah masuk dalam Green Book 2026 Kementerian PPN/Bappenas sehingga berpeluang memperoleh akses pendanaan internasional.

Direktur Eksplorasi dan Pengembangan PGEO, Edwil Suzandi mengatakan, fokus perseroan saat ini adalah memastikan seluruh proyek memiliki kesiapan dari sisi komersial, teknis, pendanaa hingga eksekusi. "Dengan portofolio sumber daya yang besar, pipeline proyek yang matang, dan eksekusi yang disiplin, PGE optimistis mencapai target pertumbuhan kapasitas," ujar dia.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Karunia Putri