MSCI mempertahankan status Indonesia sebagai negara emerging market berdasarkan hasil August 2026 Index Review yang diumumkan pada Rabu (12/8) waktu setempat.
Berdasarkan hasil 2026 Annual Country Review untuk MSCI Frontier Emerging Markets Index, MSCI tidak melakukan perubahan terhadap daftar negara dalam indeks tersebut. Status indonesia masih bertahan di emerging market.
“Tidak akan ada perubahan pada daftar emerging markets yang saat ini tercakup dalam Indeks MSCI Frontier Emerging Markets sebagai hasil dari tinjauan ini," tulis pengumuman MSCI, Kamis (13/8).
MSCI Frontier Emerging Markets Index merupakan indeks yang menggabungkan seluruh indeks negara dalam MSCI Frontier Markets Index dengan sejumlah indeks negara yang dipilih dari MSCI Emerging Markets Index.
MSCI melakukan peninjauan terhadap negara-negara berstatus Emerging Market yang masuk dalam indeks tersebut setiap tahun.
Saat ini, negara yang berstatus Emerging Market dalam klasifikasi MSCI, di antaranya Brasil, Cile, China, Kolombia, Republik Ceko, Mesir, Yunani, Hungaria, India, Indonesia, Korea Selatan, Kuwait, Malaysia, Meksiko, Peru, Filipina, Polandia, Qatar, Arab Saudi, Afrika Selatan, Taiwan, Thailand, Turki, dan Uni Emirat Arab.
Meski begitu, MSCI hingga saat ini masih membekukan atau freeze bursa Indonesia, seiring menunggu perbaikan aspek aksesibilitas dan transparansi pasar.
MSCI Depak 10 Saham RI
Di sisi lain, MSCI mendepak hingga 10 saham Indonesia dalam pengumumannya, yang berlaku efektif mulai penutupan perdagangan 31 Agustus 2026.
Pada MSCI Global Standard Indexes, indeks bergengsi ini mengeluarkan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO). Sementara itu, PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) diturunkan dari MSCI Global Standard Indexes ke MSCI Global Small Cap Indexes.
MSCI juga mendepak sembilan saham dari MSCI Global Small Cap Indexes. Kesembilan saham tersebut, yakni PT Bank Jago Tbk (ARTO), PT Bukalapak.com Tbk (BUKA), PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA), PT MD Entertainment Tbk (FILM), dan PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL). Kemudian ada PT MNC Tourism Indonesia Tbk (KPIG), PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU), PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR), dan PT Transcoal Pacific Tbk (TCPI) dari MSCI Global Small Cap Indexes.
Keputusan itu akan berlaku setelah penutupan perdagangan 31 Agustus 2026, dengan tanggal efektif pada 1 September 2026. Selanjutnya, MSCI akan mengumumkan hasil November 2026 Index Review pada 11 November 2026, yang akan berlaku efektif pada 1 Desember 2026.
“Semua perubahan akan berlaku mulai penutupan pada 31 Agustus 2026. Tanggal berlaku: 1 September 2026,” tulis MSCI dalam pengumumannya, Kamis (13/8).
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebelumnya berharap MSCI segera mencabut pembekuan atau freeze terhadap saham Indonesia pada rebalancing berikutnya. Pencabutan kebijakan tersebut dinilai dapat membuka kembali peluang saham-saham Indonesia untuk masuk ke dalam indeks MSCI. OJK pun memprediksi dampak rebalancing periode ini akan lebih ringan dibanding sebelumnya.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Hasan Fawzi mengatakan, BEI dan OJK telah melakukan berbagai perbaikan untuk meningkatkan transparansi pasar modal Indonesia. Menurut dia, perbaikan tersebut perlu menjadi pertimbangan MSCI dalam mengevaluasi kebijakan freeze.
"Kami harapkan nanti secara fair mereka dapat melihat dan menilai, memperbandingkan tingkat transparansi pasar kita. Bahkan, rasanya sudah jauh lebih bagus dibanding pasar-pasar lainnya," kata Hasan ketika ditemui seusai acara Musyawarah Anggota Asosiasi Emiten Indonesia 2026 di Jakarta, Selasa (11/8).
Hasan berharap perbaikan transparansi yang sudah dilakukan otoritas BEI dapat menjadi dasar bagi MSCI untuk memberikan relief atau mencabut pembekuan. Dengan begitu, saham-saham Indonesia yang berpotensi dapat kembali dinilai untuk masuk ke dalam indeks MSCI.
Hasan mengatakan, dampak rebalancing pada periode Agustus 2026 diperkirakan tidak akan sebesar rebalancing mayor pada Mei yang berdampak pada Juni lalu. Berdasarkan perhitungan OJK dan BEI, saham-saham Indonesia yang masih bertahan dalam indeks MSCI dinilai masih layak untuk dipertahankan.
“Kalaupun ada yang keluar, rasanya dari perhitungan kami sementara ini tidak akan sebesar atau lebih signifikan dibanding keputusan rebalancing yang mereka lakukan di Bulan Mei yang lalu,” kata dia.
Menurut dia, kedalaman transaksi bursa serta peran investor aktif dan investor domestik, termasuk investor ritel, membantu pasar tetap resilien menghadapi tekanan tersebut. Hasan berharap kondisi serupa kembali terjadi pada rebalancing Agustus ini. Dia menilai, dampaknya tidak akan terlalu signifikan sehingga pasar masih memiliki daya tahan untuk menghadapinya.
Hasan bahkan melihat ada peluang yang akan muncul jika MSCI mencabut kebijakan freeze yang telah berlangsung sejak pengumuman pada Januari lalu. Menurut dia, investor seharusnya sudah memperhitungkan risiko dari kebijakan tersebut. Karena itu, pencabutan freeze justru berpotensi menjadi katalis positif bagi pasar saham Indonesia.
“Kami berharap justru upside-nya ada pada saat freeze itu diangkat,” ujar Hasan.