Danantara Ungkap Misi di Balik Ambisi Jadi Pemegang Saham BEI lewat IPO

Katadata/Yuliawati
Seorang perempuan berjalan di depan logo Danantara Indonesia di Jakarta (ilustrasi).
Penulis: Karunia Putri
Editor: Ahmad Islamy
13/8/2026, 18.18 WIB

Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) membeberkan misi di balik rencananya menjadi pemegang saham PT Bursa Efek Indonesia (BEI) setelah BEI melakukan demutualisasi dan penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO). Misi tersebut adalah meningkatkan kapitalisasi pasar saham Indonesia.

Ke depan, Danantara akan masuk sebagai pemegang saham bursa lewat entitas anaknya, Danantara Investment Management (DIM).

Managing Director Finance DIM, Djamal Attamimi mengatakan, besaran kepemilikan saham BEI yang akan dibeli Danantara masih belum ditentukan. Menurut dia, porsinya akan mempertimbangkan kebutuhan permodalan dan pengembangan infrastruktur BEI.

“Penentuan persentasenya itu juga melihat kebutuhan permodalan, pengembangan infrastruktur yang perlu dilakukan supaya kapitalisasi pasarnya bisa meningkat,” ujar Djamal di Gedung BEI, Jakarta, Kamis (13/8).

Menurut dia, kapitalisasi pasar yang besar dapat membawa investor dari luar negeri lebih banyak dan juga dari partisipasi investor dalam negeri. Selain itu, dia juga belum mengungkapkan dana yang disiapkan Danantara untuk membeli saham BEI. Besaran investasi akan bergantung pada valuasi bursa dan persentase saham yang nantinya dimiliki.

Djamal menuturkan, salah satu tujuan investasi tersebut adalah mendorong peningkatan kapitalisasi pasar BEI, terutama jika dibandingkan dengan gross domestic product (GDP) atau produk domestik bruto (PDB) Indonesia.

“Objektif (tujuan) utamanya itu adalah bagaimana kita bisa meningkatkan kapitalisasi pasar terutama dibandingkan dengan GDP,” katanya.

Dia menyebut kapitalisasi pasar Indonesia saat ini masih berada di kisaran 50%-60% dari PDB. Sementara di Malaysia dan India, kapitalisasi pasar telah mencapai sekitar 100%-120% dari PDB. Karena itu, dia menilai masih terdapat ruang untuk meningkatkan kapitalisasi pasar Indonesia.

Ketika ditanya apakah ada kemungkinan Danantara menjadi pemegang saham pengendali BEI, Djamal mengatakan hal tersebut masih bergantung pada ketentuan dan kesepakatan dengan pemegang saham lainnya.

“Itu juga tergantung dari terms and conditions yang akan disetujui bersama dengan para anggota bursa yang lainnya,” ujarnya.

Sebelumnya, Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan, sejauh ini sudah ada pihak yang menyampaikan minat menjadi pemegang saham BEI, yakni Danantara melalui DIM.

“Yang sudah menyampaikan minat Danantara, yang mengirimkan surat ke kami adalah DIM,” kata Jeffrey seusai RUPSLB BEI di Jakarta, Rabu (12/8). 

Namun apakah nanti Danantara menjadi pemegang saham mayoritas di BEI, Jeffrey mengaku belum melihat sinyal itu. “Belum tahu,” ucap Jeffrey. 

Seiring dengan itu, kata dia, komunikasi dengan pihak-pihak terkait akan terus dilakukan seiring menunggu terbitnya peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) yang akan mengatur mekanisme kepemilikan saham BEI pascademutualisasi.

Ia mengatakan, BEI juga telah melakukan kajian dan studi banding terhadap sejumlah bursa yang telah lebih dulu melakukan demutualisasi. Di antaranya yaitu bursa Hong Kong, Singapura, Australia, dan Malaysia. 

Adapun perkembangan persiapan demutualisasi BEI merupakan upaya memperkuat tata kelola dan independensi bursa efek, sejalan dengan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2026 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK).

Jeffrey mengatakan, Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, dan Danantara diperbolehkan menjadi pemegang saham BEI. Kendati demikian, kepemilikan saham oleh pihak-pihak tersebut tetap harus mempertahankan independensi BEI.

Selain Danantara, dia menyebut saat ini juga terdapat investor potensial yang menyatakan minat untuk berinvestasi di BEI dalam rangka pelaksanaan demutualisasi Bursa sesuai dengan UU P2SK.

"Atas penyampaian minat tersebut, BEI telah berkoordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan, berkomunikasi dengan pemegang saham, dan melakukan hal-hal persiapan yang diperlukan," ujar Jeffrey.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Karunia Putri