Waspadai Aksi Goreng Saham seusai BYAN, JARR, PGUN, TEBE Anjlok Berjemaah
Saham tambang batu bara Low Tuck Kwong, PT Bayan Resources Tbk (BYAN), anjlok pada pembukaan perdagangan hari ini Rabu (19/8). Tak hanya itu, saham-saham yang terafiliasi dengan crazy rich Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam juga ambruk.
Penurunan "berjemaah" itu terjadi seusai manajemen BYAN membantah rumor yang beredar soal rencana Haji Isam mengakuisisi 62,2% saham emiten batu bara itu. Merujuk data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) harga saham BYAN anjlok 14,91% ke Rp 14.700 setelah melonjak dua hari berturut-turut.
Begitu pula dengan saham-saham yang terafiliasi dengan Haji Isam, seperti PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) yang rontok 14,74% ke Rp 2.140. Lalu, PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) merosot 14,17% ke level 7.875; PT Dana Brata Luhur Tbk (TEBE) merosot 14,87% ke Rp 1.460, dan; PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST) melorot 14,72% ke level 452.
Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah. Elandry Pratama mengatakan, anjloknya BYAN, JARR, PGUN TEBE dan saham-saham yang dikaitkan dengan Haji Isam lebih mencerminkan normalisasi ekspektasi pasar setelah BYAN memberikan klarifikasi bahwa tidak ada rencana akuisisi seperti yang sebelumnya beredar.
Dia menjelaskan, ketika rumor tersebut tidak mendapat konfirmasi resmi, investor yang sebelumnya masuk karena speculative sentiment cenderung melakukan profit taking. Akibatnya, ttekanan jual ikut merambat ke saham-saham yang dianggap terkait.
“Untuk investor, sebaiknya tidak menjadikan rumor atau nama besar tertentu sebagai dasar utama keputusan investasi,” kata Elandry kepada Katadata.co.id, Rabu (19/8).
Selain itu, dia menyebut lebih penting melihat keterbukaan informasi, fundamental, valuasi dan likuiditas saham. Bila kenaikan harga jauh lebih cepat dibanding perubahan fundamentalnya, risk appetite juga perlu lebih dijaga agar tidak terjebak dalam aksi spekulatif atau “goreng-menggoreng” saham.
Pada Selasa (18/8) kemarin, Sekretaris Perusahaan Bayan Resources, Jenny Quantero menyatakan, perseroan tidak mengetahui adanya rencana pengambilalihan atau akuisisi sekitar 62,2% saham BYAN oleh Haji Isam maupun pihak yang terafiliasi dengannya, sebagaimana informasi yang beredar.
“Namun pemegang saham pengendali BYAN telah menyampaikan kepada kami bahwa dari waktu ke waktu, sebagai investor Haji Isam dapat saja mempertimbangkan berbagai kesempatan dan peluang untuk memaksimalkan investasi mereka di BYAN,” kata Jenny.
Rumor akuisisi itu muncul usai pertemuan antara Low Tuck Kwong dan Norman Joesoef di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Noerman adalah pendiri sekaligus chairman dari Republikorp, perusahaan swasta Indonesia yang bergerak di bidang industri pertahanan strategis dan teknologi militer.