IHSG Berpotensi Turun, Analis Rekomendasikan DEWA, ICBP hingga SSIA
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi turun pada perdagangan Kamis (20/8). Seiring dengan itu, analis merekomendasikan saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) hingga PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA).
Analis Binaartha Sekuritas Ivan Rosanova menyatakan IHSG berpotensi turun hari ini. Katanya, IHSG akan kembali mencoba untuk mencapai resisten Fibonacci di level 6.545 setelah koreksi yang relatif terbatas yang terjadi kemarin.
Penembusan di bawah 6.267 dan di bawah garis SMA-20 diperkirakan menjadi awal dari kemungkinan tren turun yang akan datang. “Indikator MACD menunjukkan adanya momentum bullish,” tulis Ivan dalam risetnya dikutip Kamis (20/8).
Adapun level support IHSG berada di level 6.267, 6.042 dan 5.887 sementara level resistance di level 6.545, 6.700 dan 6.835.
Support merupakan area harga saham tertentu yang diyakini sebagai titik terendah pada satu waktu. Saat menyentuh support, harga umumnya akan kembali naik karena peningkatan pembelian.
Sedangkan resistance adalah tingkat harga saham tertentu yang dinilai sebagai titik tertinggi. Setelah saham menyentuh level ini, biasanya akan ada aksi jual cukup besar sehingga laju kenaikan harga tertahan.
Untuk perdagangan hari ini, Ivan merekomendasikan saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA) dengan target harga ke Rp 484, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) dengan target harga ke Rp 7.950.
Lalu PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) dengan target harga ke Rp 845, PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) dengan target harga ke level 540 serta PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dengan target harga ke Rp 1.510.
Sementara itu, tim riset BRI Danareksa memproyeksikan IHSG bergerak terbatas di kisaran 6.330–6.490. Secara teknikal, terbentuk shooting star di area resistance 6.490 setelah dua kali rejection di zona 6.400–6.450, mengindikasikan potensi konsolidasi atau profit taking lanjutan.
Namun, IHSG masih bertahan di atas MA20 dengan MACD yang tetap positif, sehingga bias jangka pendek belum berubah menjadi bearish. Fokus pasar selanjutnya tertuju pada dampak FOMC Minutes terhadap yield US Treasury, dolar AS, dan appetite investor terhadap aset berisiko.
Dari domestik, pasar merespons keputusan BI mempertahankan BI Rate di 5,75% sesuai ekspektasi, sementara keputusan FTSE menunda penambahan konstituen baru Indonesia hingga Desember 2026 menjadi perhatian terhadap potensi foreign flow.
Dari global, kenaikan harga minyak ke sekitar US$91 per barel akibat ketidakpastian pembukaan Selat Hormuz dan tensi AS-Iran kembali meningkatkan risiko inflasi serta volatilitas kebijakan moneter.
Tim riset BRI Danareksa merekomendasikan saham PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL), PT Karya Pacific Energy Tbk (IATA) dan PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA).