Tren Margin Bank Jumbo Makin Tipis Sepanjang 2026, Ini Penyebabnya
Margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) sejumlah bank jumbo kian menipis pada 2026. Kondisi ini terjadi di tengah kenaikan suku bunga kredit dan simpanan.
Salah satunya adalah PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang mencatat NIM secara individu sebesar 4,46% pada kuartal pertama 2026. Angka tersebut turun menjadi 4,34% pada kuartal kedua 2026 atau menyusut 12 basis poin (bps).
Sementara itu, NIM PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) tidak berubah secara kuartalan. NIM perseroan tetap berada di level 3,55% pada kuartal pertama dan kuartal kedua 2026.
Penurunan juga terjadi pada PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). NIM bank swasta raksasa itu turun 1 bps dari 5,33% pada kuartal pertama menjadi 5,32% pada kuartal kedua 2026.
Adapun PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mencatat NIM sebesar 6,53% pada kuartal pertama 2026. Dan perseroan belum lagi melaporkan kinerja keuangan kuartal kedua 2026 sehingga belum bisa dibandingkan.
| Bank | NIM | Selisih | |
| Kuartal I 2026 | Kuartal II 2026 | ||
| PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) | 6,53% | - | - |
| PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) | 4,46% | 4,34% | Turun 12 bps |
| PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) | 3,55% | 3,55% | Stagnan |
| PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) | 5,33% | 5,32% | Turun 1 bps |
(Sumber: laporan kuartalan masing-masing bank, diolah penulis)
Jika dibandingkan secara tahunan, tekanan terhadap NIM bank jumbo terlihat lebih jelas. Pada kuartal kedua 2026, NIM BMRI turun 27 bps dari 4,61% pada Juni 2025 menjadi 4,34% pada Juni 2026.
Tren serupa terjadi pada BBNI. NIM perseroan turun 28 bps secara tahunan dari 3,83% pada Juni 2025 menjadi 3,55% pada Juni 2026. Adapun NIM BBCA turun 46 bps dari 5,78% pada Juni 2025 menjadi 5,32% pada Juni 2026.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta Utama mengatakan, tren penurunan NIM pada perbankan jumbo tidak serta-merta menunjukkan bahwa bisnis utama perbankan sudah kurang menarik. Menurut dia, industri sektor keuangan ini tengah menghadapi tekanan spread dan cost of fund.
Hal tersebut terjadi karena suku bunga kredit sudah lebih dulu turun ketika BI melakukan pelonggaran pada 2025. Sementara ketika likuiditas mengetat, biaya dana atau deposito kembali meningkat dan penyesuaiannya lebih cepat daripada bunga kredit. “Kondisi ini yang membuat NIM tertekan,” kata Nafan kepada Katadata.co.id, Senin (24/8).
Secara industri, tekanan terhadap margin bunga perbankan memang terlihat dari penyempitan selisih antara suku bunga kredit dan simpanan. Berdasarkan data Uang Beredar (M2) Bank Indonesia (BI), rata-rata tertimbang suku bunga kredit pada Juni 2026 tercatat 8,79%, naik dari 8,70% pada Mei 2026.
Pada periode yang sama, suku bunga deposito juga meningkat. Bunga deposito tenor satu bulan naik menjadi 4,77% pada Juni 2026 dari 4,28% pada Mei. Sementara bunga deposito tenor tiga bulan meningkat menjadi 5,03% dari 4,73%, tenor enam bulan menjadi 4,95% dari 4,65%, dan tenor 12 bulan menjadi 5,44% dari 4,50%.
Alhasil, spread antara suku bunga kredit dan deposito tenor satu bulan menyempit menjadi 4,02 poin persentase pada Juni 2026, dari 4,42 poin persentase pada Mei. Artinya, spread tersebut menyusut sekitar 40 bps dalam sebulan.
Penyempitan spread menunjukkan tekanan yang semakin besar pada sisi pendanaan perbankan. Bank harus membayar bunga simpanan yang lebih tinggi, sementara penyesuaian suku bunga kredit tidak berlangsung dengan kecepatan yang sama.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga menunjukkan tekanan terhadap NIM industri perbankan. NIM perbankan turun menjadi 4,34% pada Juni 2026 dari 4,38% pada Maret 2026 atau menyusut 4 bps.
Kendati demikian, penurunan NIM tidak serta-merta berarti profitabilitas bank akan langsung tertekan. Pertumbuhan kredit, struktur pendanaan, komposisi dana murah atau current account saving account (CASA), serta pendapatan nonbunga turut menentukan kinerja laba masing-masing bank.
Tekanan terhadap margin perbankan terjadi setelah BI menaikkan BI-Rate secara bertahap hingga 5,75% pada Juni 2026. Sepanjang 2026, BI telah menaikkan BI Rate sebanyak 3 kali dari posisi awal tahun 4,75%. BI kemudian mempertahankan suku bunga acuan tersebut pada Juli dan Agustus.
Nafan mengungkapkan, selain tekanan spread dan cost of fund, kompetisi memperoleh dana murah semakin ketat di antara bank. Sementara pertumbuhan kredit tetap perlu dijaga.
Walaupun begitu, hingga Mei 2026 laba empat bank besar masih tumbuh sekitar 9%, dengan pendapatan bunga bersih naik 7,8%, sehingga secara fundamental bisnis bank masih bertumbuh. Menurut dia, yang berubah adalah profitabilitas per unit kreditnya, bukan hilangnya daya tarik bisnis perbankan.
“Saya melihat tekanan NIM ini lebih bersifat siklus dan kemungkinan sudah mendekati fase stabilisasi, terutama apabila kondisi likuiditas membaik dan biaya dana mulai turun,” kata dia.
Sementara itu, dari perspektif investasi, dia memandang valuasi yang sudah terkoreksi justru membuat big banks mulai menarik untuk akumulasi.
Penafian:
Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab investor. Artikel ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu.