Saham TOBA Melonjak 30% di Tengah Arah Baru Bisnis, Ada Apa ?
Saham PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) melaju kencang di tengah perubahan arah bisnis perseroan. Dalam sebulan terakhir, saham emiten yang dulu lekat dengan bisnis batu bara itu melonjak sekitar 30,43%, seiring transformasi TBS ke lini bisnis yang lebih hijau.
Perubahan itu mulai terlihat dari sumber pendapatannya. Dalam laporan Indonesia’s Coal Sector: Outlook, Risks, and Mitigation Strategies edisi Agustus 2026, riset Energy Shift Institute (ESI) mencatat kontribusi bisnis non-batu bara TBS telah menembus lebih dari 60% pada kuartal pertama 2026. Torehan itu ditopang bisnis pengelolaan limbah, kendaraan listrik, dan energi terbarukan.
Analis Kiwoom Sekuritas, Abdul Azis menilai perkembangan itu menjadi indikator penting dalam proses diversifikasi TOBA, mengingat dampak transformasi bisnis membutuhkan waktu untuk tercermin dalam kinerja keuangan. Menurutnya, perubahan arah bisnis TBS kini mulai terlihat dari bauran pendapatan atau revenue mix perusahaan.
“Artinya, perusahaan sudah bergerak dari tahap membangun narasi dan aset baru menuju fase di mana bisnis non-coal mulai memberikan kontribusi yang semakin nyata terhadap pendapatan,” ujar Abdul Azis, dalam analisisnya, Kamis (27/8).
Ketiga bisnis TOBA juga menunjukkan pergeseran portofolio perseroan menuju sektor yang terkait dengan transisi energi dan pengelolaan lingkungan. Meski bauran pendapatannya mulai berubah, transformasi tersebut belum sepenuhnya tercermin pada profitabilitas.
Berdasarkan pemetaan ESI, TBS masih masuk kategori high diversification–low operating margin, dengan margin laba operasional atau operating profit margin (OPM) berada di kisaran negatif.
Menurut Aziz, kondisi itu membuat tahap berikutnya menjadi krusial, yakni monetisasi bisnis-bisnis baru. Setelah kontribusi pendapatan non-batu bara meningkat, pasar akan menilai TOBA dapat memperbesar skala bisnis sekaligus memperkuat margin dan kontribusinya terhadap laba.
“Investor akan melihat apakah energi terbarukan, kendaraan listrik, dan pengelolaan limbah mampu meningkatkan skala, memperbaiki margin, dan pada akhirnya memberikan kontribusi laba yang lebih besar,” katanya.
Di samping itu, Aziz mengatakan perubahan bauran pendapatan TOBA telah memasuki tahap kelima dari tujuh tahapan diversifikasi dalam kerangka ESI. Dua tahap berikutnya yakni dampak terhadap margin atau margin impact dan pengurangan risiko atau risk reduction.
Menurutnya, transformasi TOBA kini mulai tercermin dalam struktur pendapatan. Namun, ia melihat TOBA masih perlu membuktikan kemampuan bisnis non-batu bara dalam menghasilkan margin sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap batu bara. Transformasi itu akan semakin kuat apabila kenaikan kontribusi bisnis non-batu bara diikuti dengan perbaikan margin.
“Pada titik itu, diversifikasi tidak hanya terlihat dari perubahan revenue mix, tetapi juga dari kualitas laba dan kemampuan perusahaan mengurangi risiko bisnis batu bara,” ujar Abdul Azis.
Dari lantai bursa, saham TOBA pada perdagangan saham hari ini, Kamis (27/8) melonjak 12,15% ke Rp 600. Volume yang diperdagangkan tercatat 30,97 juta dengan nilai transaksi Rp 17,89 miliar dan kapitalisasi pasarnya Rp 4,99 triliun.
Apabila menilik performanya, meskipun merosot 18,92% secara year to date (ytd) saham TOBA melonjak 30,43% dalam tiga bulan terakhir. Tak hanya itu, dalam seminggu terakhir sudah naik 17,65%.