Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak volatil menjelang tanggal efektif rebalancing indeks MSCI hari ini Senin (31/8) dan mulai berlaku pada Selasa (1/9). Analis memandang, penyesuaian portofolio tersebut berpotensi memicu tekanan dana keluar dari sejumlah saham Indonesia. Lantas, apa yang perlu diperhatikan investor?

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan dampak rebalancing MSCI masih menjadi perhatian pelaku pasar. Dalam penyesuaian kali ini, saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) dikeluarkan dari kategori Global Standard Index.

Sementara itu, sembilan saham terdepak dari kategori Small Cap Index, yakni PT Bank Jago Tbk (ARTO), PT Bukalapak.com Tbk (BUKA), PT Essa Industries Indonesia Tbk (ESSA), PT MD Pictures Tbk (FILM), PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL), PT MNC Land Tbk (KPIG), PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU), PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) dan PT Transcoal Pacific Tbk (TCPI).

Pada pembukaan perdagangan hari ini, IHSG dibuka turun ke level 6.511 pukul 09.00 WIB. IHSG kemudian turun 0,35% ke level 6.495 pada pukul 09.33 WIB. Koreksi ini sejatinya sudah dimulai pada akhir pekan lalu, IHSG turun tipis 0,06% ke level 6.518.

Meski rotasi portofolio nilai efektif hari ini, Nafan menilai dampak pengumuman rebalancing tersebut sebagian besar telah diantisipasi pasar atau priced in sejak Agustus. 

“Mengingat MSCI tidak memberikan kejutan negatif tambahan serta telah membekukan penyesuaian Foreign Inclusion Factor (FIF) bagi saham Indonesia sejak awal Juli,” ujar Nafan dalam risetnya dikutip Senin (31/8).

Namun, Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata melihat tekanan jual berpotensi meningkat menjelang penutupan perdagangan Senin (31/8). Kondisi tersebut terjadi karena passive fund perlu menyesuaikan portofolionya dengan komposisi indeks MSCI yang baru.

Saham yang Terdampak Paling Besar dari Rebalancing

Berdasarkan estimasi Bloomberg, total net dana asing yang keluar secara pasif dari rebalancing MSCI mencapai sekitar US$ 753 juta atau setara Rp 13,33 triliun. Nilai tersebut terdiri atas sekitar US$ 684 juta dari kategori Standard Cap dan US$ 68 juta dari Small Cap.

GOTO diperkirakan menjadi saham dengan tekanan dana keluar terbesar, yakni sekitar US$ 407 juta. Sementara itu, CPIN berpotensi mengalami outflow sekitar US$ 177 juta dari Standard Cap. Namun, setelah masuk ke Small Cap, CPIN diperkirakan mendapat inflow sekitar US$ 50 juta sehingga net outflow menjadi sekitar US$ 127 juta.

“Untuk saham-saham yang didepak dari Small Cap, nilai nominal outflow memang lebih kecil, tetapi dampak ke harga tetap bisa tajam pada saham berlikuiditas terbatas, terutama jika estimasi flow-nya jauh lebih besar dibandingkan average daily trading value, seperti ARTO, HEAL, SMGR & BUKA,” ujar Liza.

Liza mengatakan seluruh tekanan jual tidak serta-merta baru muncul pada perdagangan Senin. Sebagian fund manager dan investor index arbitrage kemungkinan telah melakukan penyesuaian posisi sejak hasil review MSCI diumumkan pada 13 Agustus 2026.

Di sisi lain, rebalancing juga berpotensi mendorong rotasi dana ke saham yang tetap bertahan dalam kategori Standard Cap. Sejumlah saham, seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) diperkirakan mendapat tambahan passive inflow seiring kenaikan bobot relatifnya.

Investor Diminta Jaga Likuiditas

Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama memperkirakan IHSG akan bergerak volatil seiring adanya mechanical flow dari passive fund yang menyesuaikan portofolio mengikuti rebalancing MSCI.

Menurut dia, peluang stabilisasi dan technical rebound IHSG tetap terbuka setelah proses rebalancing selesai. Namun, kondisi tersebut bergantung pada perbaikan foreign flow dan terjaganya risk appetite investor.

Karena itu, investor disarankan menerapkan strategi yang lebih prudent dengan menjaga likuiditas dan tidak terlalu agresif mengejar harga menjelang penutupan perdagangan saat rebalancing. Investor juga dapat melakukan akumulasi secara bertahap setelah tekanan forced selling mulai mereda.

Sehingga jika diperhatikan lebih seksama, tekanan akibat rebalancing MSCI diperkirakan lebih terkonsentrasi pada saham-saham tertentu dan tidak serta-merta memicu aksi jual di seluruh IHSG. Setelah tekanan teknikal akibat rebalancing mereda, pergerakan saham diperkirakan kembali dipengaruhi oleh fundamental, valuasi dan prospek bisnis masing-masing emiten.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Karunia Putri