Menilik Kinerja Bisnis KOTA kala Saham Melonjak 306% Menjelang Rights Issue

Katadata/AI
Ilustrasi aksi korporasi berupa rights issue oleh emiten.
Penulis: Karunia Putri
Editor: Ahmad Islamy
1/9/2026, 10.53 WIB

Harga saham PT DMS Propertindo Tbk (KOTA) meroket 306,90% sejak awal tahun. Lonjakan itu terjadi terjadi di tengah rencana perseroan menggelar rights issue jumbo untuk membiayai ekspansi bisnis.

Pada pembukaan perdagangan hari ini, Selasa (1/9), saham KOTA kembali melanjutkan penguatan. Harganya melonjak 15,74% ke level Rp 250 per saham pada pukul 09.00 WIB. Volume transaksi mencapai 14,51 juta lot dengan nilai transaksi sekitar Rp 341,78 miliar.

Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), antrean beli saham KOTA mencapai 2,51 juta lot dengan 8.924 kali transaksi. Sementara itu, antrean jual tercatat sekitar 222,62 juta saham. Pada perdagangan sebelumnya, Senin (31/8), investor asing tercatat melakukan pembelian bersih saham KOTA sekira Rp 135 miliar.

Lonjakan saham KOTA terjadi menjelang rencana rights issue jumbo perseroan. Berdasarkan prospektus, KOTA berencana menerbitkan hingga 100 miliar saham baru dengan target dana yang dihimpun mencapai Rp 4,4 triliun.

Dana tersebut sebagian besar akan digunakan untuk mengakuisisi dua perusahaan yang memiliki lahan di Surabaya, Jawa Timur, dan Maja, Banten. Sekitar Rp 1,2 triliun dialokasikan untuk mengambil alih 99,99% saham PT ADI yang dimiliki PT Michel Energi (ME).

Sementara itu, sekitar Rp 3,2 triliun akan digunakan untuk mengakuisisi 99,99% saham PT MGP yang juga dimiliki ME.

Dengan demikian, total dana sekitar Rp 4,4 triliun akan digunakan untuk aksi akuisisi tersebut. Sementara sisa dana akan digunakan untuk modal kerja, kegiatan operasional dan pengembangan usaha perseroan.

Jumlah saham baru yang akan diterbitkan setara sekitar 90,46% dari modal ditempatkan dan disetor penuh KOTA setelah rights issue. Besarnya penerbitan saham baru tersebut berpotensi menyebabkan dilusi signifikan bagi pemegang saham lama yang tidak mengambil haknya.

Kendati demikian, manajemen KOTA menyatakan aksi korporasi tersebut tidak akan mengubah pengendali perseroan.

Incar Land Bank 571 Ha

Melalui akuisisi ADI dan MGP, KOTA akan memperoleh akses terhadap land bank atau persediaan tanah mentah dengan total luas sekitar 571 hektare. Perinciannya, sekitar 23 hektare berada di Surabaya dan sekitar 548 hektare berada di Maja.

Manajemen menilai pengambilalihan tersebut dapat memperkuat basis aset sekaligus memperluas pijakan bisnis perseroan melalui penguasaan lahan di lokasi strategis.

Lahan di Surabaya berpotensi dikembangkan menjadi kawasan mixed-use, industri ringan, maupun properti premium. Pengembangannya dapat mencakup apartemen, pusat perdagangan, hotel, perkantoran, area kuliner, pergudangan, fasilitas logistik hingga kawasan hunian terpadu.

Sementara itu, luas lahan di Maja memungkinkan perseroan mengembangkan kawasan berskala besar, seperti kota mandiri, kawasan industri dan logistik, pergudangan, perumahan serta kawasan komersial.

Manajemen memperkirakan akuisisi tersebut dapat memperbesar total aset dan nilai buku perseroan serta meningkatkan kapasitas leverage. Dari sisi pendapatan, pengembangan land bank tersebut diharapkan menghasilkan potensi margin pembangunan, capital gain, dan pendapatan berulang atau recurring income.

Profil Bisnis KOTA

Mengutip laman resminya, KOTA perusahaan yang bergerak di bidang pengembangan properti dan manajemen perhotelan yang berbasis di Jakarta. Emiten ini mengembangkan bisnis melalui sejumlah proyek properti, terutama di kawasan Jabodetabek.

Salah satu proyek KOTA adalah Accola Park Serpong yang berlokasi di Jalan Raya Ps. Jengkol, Buaran, Serpong, Tangerang Selatan, Banten. Proyek tersebut dikembangkan di atas lahan seluas 18.000 meter persegi dengan luas bangunan mencapai 10.092 meter persegi.

KOTA juga memiliki proyek Accola Residence di kawasan Ciater, Serpong, Tangerang Selatan. Proyek itu dikembangkan di atas lahan seluas 14.000 meter persegi dengan luas bangunan mencapai 61.233 meter persegi. 

PT ADI memiliki akses terhadap lahan sekitar 23 hektare di Surabaya, sedangkan PT MGP menguasai lahan sekitar 548 hektare di Maja. Dengan tambahan land bank tersebut, KOTA berpeluang mengembangkan proyek properti dengan skala yang lebih besar dibandingkan portofolio yang telah dimilikinya saat ini.

Selain itu, KOTA juga memiliki bisnis hospitality management, melalui perusahaan sendiri maupun entitas anak. 

Kinerja Keuangan KOTA

Sementara bila dilihat dari kinerja keuangan, perseroan membalikkan rugi menjadi laba pada semester pertama 2026. Perseroan mencatatkan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 16,04 miliar. Di periode yang sama tahun sebelumnya perseroan mencatatkan rugi sebesar Rp 14,12 miliar.

Turnaround itu terjadi seiring dengan lonjakan pendapatan perseorangan. KOTA membukukan pendapatan Rp 67,29 miliar hingga akhir Juni 2026, melonjak dari Rp 17,36 miliar pada periode yang sama 2025.

Pundi-pundi rupiah itu diperoleh KOTA dari bisnis hotel yang menyumbang Rp 41,92 miliar dan tanah sebesar Rp 25,37 miliar.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Karunia Putri