Krakatau Steel (KRAS) Cetak Laba Rp 164 M Imbas Transformasi, Masuk Fortune 100
Emiten industri baja pelat merah PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) melanjutkan transformasi bisnis dengan membukukan kinerja moncer pada paruh pertama 2026. Tak hanya itu perseroan juga menduduki peringkat ke-78 dalam Fortune Indonesia 100 sebagai salah satu perusahaan terbesar di Indonesia.
Kinerja positif itu diperoleh KRAS setelah mendapatkan dukungan pendanaan modal kerja dari Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) sebesar Rp 4,93 triliun.
“Dukungan pendanaan modal kerja dari Danantara menjadi faktor yang mendorong kelancaran pasokan bahan baku, peningkatan utilisasi produksi, serta perbaikan efisiensi struktur pendanaan Perseroan,” kata Plt. Corporate Secretary KRAS Rachman Hidayat dikutip dari keterangan resmi, Rabu (2/9)
KRAS membukukan laba bersih sebesar US$ 9,17 juta atau setara Rp 164,2 miliar (dengan kurs Rp 17.899 per dolar AS). Torehan tersebut berbalik dari rugi pada periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 107,11 juta.
Hingga akhir Juni 2026 KRAS membukukan pendapatan usaha sebesar US$ 622,74 juta atau setara Rp 11,15 triliun, meningkat 35,1% dibandingkan dengan pendapatan usaha pada periode yang sama tahun 2025 sebesar US$ 460,83 juta.
Perseroan juga mencatat keuntungan atas penyelesaian kewajiban dipercepat dengan keringanan (haircut) atas utang restrukturisasi sebesar US$ 27,19 juta. Restrukturisasi tersebut turut menekan beban keuangan perseroan yang turun 32,7% menjadi US$ 47,35 juta dari US$ 70,35 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Selain itu, Perseroan membukukan pendapatan atas divestasi entitas asosiasi dan aset keuangan sebesar US$ 14,23 juta sebagai bagian dari strategi optimalisasi portofolio investasi dan aset perseroan.
Memasuki paruh kedua 2026, Krakatau Steel akan berfokus pada peningkatan kinerja operasional, penguatan struktur keuangan, optimalisasi aset serta pengembangan bisnis.
Perseroan menargetkan langkah tersebut dapat menopang pertumbuhan yang berkelanjutan sekaligus memberikan nilai tambah bagi pemangku kepentingan, dengan tetap mengedepankan tata kelola perusahaan dan manajemen risiko.