AKRA Targetkan Proyek LNG Terapung Beroperasi 2029, Investasi hingga Rp 7,9 T

Dokumentasi AKRA
PT AKR Corporindo Tbk
8/9/2026, 15.13 WIB

PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) menargetkan proyek terminal gas terapung atau Floating Storage and Regasification Unit (FSRU) di Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE), Gresik, dapat mulai commercial operation date (COD) pada semester kedua 2029. 

Head of Investor Relations AKR Corporindo Ignatius Teguh Prayoga mengatakan nilai investasi proyek tersebut diperkirakan mencapai US$ 400 juta hingga US$ 450 juta atau sekitar Rp 7,05 triliun–Rp 7,93 triliun  dengan asumsi kurs Rp 17.630 per dolar AS. Adapun pembiayaan dengan skema perusahaan patungan atau joint venture (JV).

Sejalan dengan target tersebut, ia mengatakan AKRA melalui perusahaan patungannya dengan BW LNG FSRU 7, anak usaha BW LNG Global, telah memulai tahapan pembangunan fasilitas FSRU. 

Pada awal Juli 2026, perusahaan menandatangani kontrak pembangunan kapal atau shipbuilding contract dengan Hyundai Heavy Industries. Kontrak tersebut mencakup pembangunan FSRU berkapasitas 170 ribu meter kubik yang nantinya akan mendukung infrastruktur LNG di kawasan JIIPE.

“Dan kami harapkan FSRU ini bisa mensupport LNG terminal kami di paruh kedua tahun 2029,” kata Ignatius dalam paparan publik 2026, Selasa (8/9). 

Ia mengatakan, pada segmen kawasan industri, AKRA mencatat sejumlah transaksi sepanjang semester pertama 2026. Transaksi tersebut berasal dari perusahaan kimia asal Tiongkok, perusahaan manufaktur perkakas asal Tiongkok, dan perusahaan pengolahan gandum dalam negeri. Selain itu, pendapatan dari segmen utilitas tumbuh 37% secara tahunan atau year-on-year (yoy).

“Hal ini menegaskan keberhasilan strategi diversifikasi klien pada kawasan industri KEK JIIPE,” ucapnya. 

Selain itu, Ignatius mengatakan AKRA terus mengintensifkan pemasaran kawasan industri di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) JIIPE Gresik untuk memperkuat ekosistem industri. Pengembangan JIIPE untuk meningkatkan pendapatan berlang atau recurring income, terutama dari segmen utilitas seiring bertambahnya aktivitas tenant.

Kembangkan Tiga Ekosistem

Saat ini, JIIPE memiliki tiga ekosistem industri utama yang telah beroperasi maupun masih dalam tahap pengembangan, yakni tembaga dan logam, kaca, dan kimia. Pada ekosistem tembaga dan logam, PT Freeport Indonesia mengoperasikan smelter tembaga berkapasitas pengolahan 1,8 juta ton konsentrat per tahun. Produk dari fasilitas tersebut akan digunakan sejumlah tenant, termasuk PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Hailiang.

Sementara itu, ekosistem kaca dikembangkan Xinyi Group dengan nilai investasi yang telah mencapai lebih dari US$ 700 juta. Ekosistem tersebut memproduksi kaca untuk kebutuhan industri otomotif, berbagai keperluan, hingga panel surya.

Adapun ekosistem kimia menjadi salah satu yang memiliki tenant terbanyak, dengan lebih dari 60 perusahaan. Ia mengatakan dengan adanya pelabuhan terintegrasi, hal itu memudahkan tenant mengangkut bahan baku maupun mendistribusikan produk ke pasar domestik dan ekspor. 

Selain itu, jaringan transmisi gas dari PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) mendukung kebutuhan pasokan gas bagi industri kimia di kawasan tersebut.

Seiring berkembangnya aktivitas tenant, Ignatius menyebut pendapatan utilitas JIIPE terus meningkat. Pendapatan segmen tersebut melonjak 129% sepanjang 2025 dan kembali tumbuh 37% secara tahunan pada semester pertama 2026.

“Kami melihat penambahan tenant khususnya industri padat modal dengan kebutuhan utilitas yang tinggi diharapkan turut mendorong pendapatan utilitas JIIPE,” tulis Ignatius. 



Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nur Hana Putri Nabila