NextAI (MGLV) Patok Rights Issue Diskon 42% di Rp 8.880, Potensi Dilusi 13,04%
PT NexAI Digital Infrastruktur Tbk (MGLV) akan melakukan penambahan modal melalui penerbitan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue. Perseroan akan menerbitkan maksimal 285,73 juta saham baru dengan target dana mencapai Rp 2,54 triliun.
Dalam prospektus ringkas yang diterbitkan, NexAI menetapkan harga pelaksanaan rights issue Rp 8.880 per saham. Jumlah saham baru yang ditawarkan sebanyak-banyaknya 285.732.512 saham atau setara 13,04% dari jumlah saham setelah aksi korporasi.
Harga pelaksanaan tersebut berada jauh di bawah harga saham MGLV di pasar. Berdasarkan data perdagangan Jumat (11/9) pukul 09.25 WIB, saham MGLV berada di level Rp15.400 per saham. Bila merujuk harga hari ini maka pelaksanaan right issue berada dengan diskon sekitar 42%.
Pada periode year to date (YtD), saham MGLV telah melonjak 536,36%, atau naik Rp 12.980. Saham MGLV pada perdagangan tersebut dibuka di Rp15.600, dengan level tertinggi Rp 15.700 dan terendah Rp 14.500. Sementara itu, level tertinggi dalam 52 minggu berada di Rp 16.000, sedangkan level terendahnya Rp 346 per saham.
Presiden Direktur NexAI Ahmad Zulfikar mengatakan, dana yang dihimpun melalui rights issue ini akan langsung mendukung pembangunan AI data center yang dirancang untuk standar tier III. Langkah ini sejalan dengan arah bisnis baru yang telah disetujui pemegang saham.
“Ini adalah langkah konkret bagi kami untuk merealisasikan visi transformasi Perseroan. Data center kami dirancang untuk mendukung kebutuhan hosting chip AI dengan teknologi terbaru yang tersedia di industri saat ini,” ujar Zulfikar seperti dikutip Jumat (11/9).
Dalam aksi ini, setiap pemegang 100 saham lama akan memperoleh 15 HMETD, sedangkan setiap satu HMETD memberikan hak untuk membeli satu saham baru. Sebaliknya, pemegang saham yang tidak melaksanakan haknya berpotensi mengalami penurunan persentase kepemilikan atau dilusi maksimum 13,04%.
Jumlah saham NexAI sebelum rights issue mencapai 1.904.883.411 saham. Jika seluruh saham baru terserap, jumlah saham yang dicatatkan di Bursa Efek Indonesia akan menjadi 2.190.615.923 saham.
Merujuk data perseroan, PT Nextier Datamate Center (NDC) saat ini menguasai 65,10% saham MGLV. Dalam surat pernyataan terbaru NDC menyatakan akan melaksanakan seluruh HMETD yang menjadi haknya, yakni sebanyak 186 juta HMETD dengan nilai sekitar Rp 1,65 triliun.
Dalam right issue ini, jumlah saham NDC akan meningkat dari 1,24 miliar menjadi 1,426 miliar saham. Namun, jika NDC mengeksekusi seluruh HMETD sementara pemegang saham masyarakat tidak menggunakan haknya, porsi kepemilikan NDC akan meningkat karena jumlah saham masyarakat relatif terdilusi.
Lalu, untuk apa dana Rp 2,54 triliun yang diperoleh dari right issue tersebut?
Mayoritas Dana untuk Data Center
NexAI menyatakan seluruh dana hasil rights issue, setelah dikurangi biaya emisi, akan digunakan untuk sejumlah kebutuhan. Porsi terbesar dialokasikan untuk setoran modal kepada anak usaha dan pengembangan fasilitas data center.
Pertama sekitar Rp 668,61 miliar akan digunakan untuk mengambil alih piutang NDC kepada dua anak usaha NexAI, yakni PT Nextier Askara Center (NAC) dan PT Nextier GenAi Center (NGC).
Piutang tersebut terdiri atas piutang NDC kepada NAC sebesar Rp 668,447 miliar dan piutang kepada NGC sebesar Rp 160 juta. Transaksi tersebut dilakukan berdasarkan Perjanjian Pengikatan Jual Beli Saham dan Piutang tanggal 2 Juli 2026.
Kedua, sekitar Rp 1,6 triliun akan disalurkan sebagai setoran modal kepada NAC dan NGC. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp 1 triliun akan disetor kepada NGC untuk pembangunan fasilitas data center di Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB), Jawa Tengah.
Dana tersebut akan digunakan untuk pembayaran cicilan sewa tanah, bangunan dan prasarana, serta mesin dan peralatan. NGC telah memiliki hak pemanfaatan lahan industri seluas 144.582 meter persegi berdasarkan perjanjian pemanfaatan tanah industri pada 27 April 2026. Pada saat prospektus diterbitkan, NGC belum beroperasi secara komersial.
Sementara sekitar Rp 600 miliar akan disetor kepada NAC untuk pengembangan fasilitas data center di Jababeka, Cikarang, Jawa Barat. Dana tersebut akan digunakan antara lain untuk pengadaan mesin dan peralatan, termasuk penggantian atau pengembalian biaya pengembangan yang sebelumnya telah dibayarkan NDC.
Setelah penyetoran modal, NexAI tetap akan memiliki 99,9% saham NAC. Berbeda dengan NGC, NAC telah beroperasi secara komersial ketika prospektus diterbitkan.
Selanjutnya sisa dana akan digunakan sebagai modal kerja untuk kebutuhan operasional sehari-hari. Penggunaannya meliputi biaya gaji dan tunjangan karyawan, jasa profesional seperti konsultan pajak, audit dan konsultan IT, biaya pajak, serta biaya keuangan.
Jika dihitung dari target dana maksimal Rp 2,537 triliun, alokasi Rp 668,61 miliar untuk pengambilalihan piutang setara sekitar 26,35%, sedangkan setoran modal Rp 1,6 triliun mencapai sekitar 63,06%. Dengan demikian, sekitar 89,41% dana rights issue diarahkan untuk transaksi piutang dan pengembangan bisnis melalui anak usaha, sementara sisanya sekitar Rp 268,7 miliar untuk modal kerja.
Transformasi ke Bisnis Data Center
Bila dilihat lebih jauh, pelaksanaan rights issue tidak terlepas dari perubahan arah bisnis NexAI. Perseroan sebelumnya bernama PT Mitra Anugrah Investama dan bergerak di bidang perdagangan besar peralatan dan perlengkapan rumah tangga.
Pada Februari 2026, terjadi perubahan pengendalian melalui pengambilalihan oleh NDC sebagai pemegang saham pengendali. Selanjutnya, melalui persetujuan RUPSLB pada 7 September 2026, NexAI mengubah fokus kegiatan usahanya menjadi aktivitas penyediaan infrastruktur komputasi, hosting dan aktivitas terkait, aktivitas perusahaan induk, serta aktivitas konsultasi manajemen dan bisnis lainnya.
Perubahan tersebut membuat data center menjadi salah satu fokus utama penggunaan dana rights issue. Selain mengandalkan hasil rights issue, NDC sebelumnya juga memberikan fasilitas pinjaman pemegang saham hingga Rp 4 triliun kepada NexAI.
Pinjaman tersebut memiliki tingkat bunga 7% per tahun dan ditujukan untuk pengembangan fasilitas pusat data di Jababeka, Cikarang, serta KEK Industropolis Batang, Jawa Tengah. Dengan demikian, aksi rights issue MGLV hadir di tengah transformasi besar perseroan menuju bisnis infrastruktur komputasi dan data center.
Di satu sisi, perseroan menawarkan saham baru dengan harga pelaksanaan Rp 8.880, jauh di bawah harga pasar. Di sisi lain, penerbitan 285,73 juta saham baru membuat pemegang saham yang tidak mengeksekusi HMETD menghadapi potensi dilusi maksimum 13,04%.
Sementara itu, sebagian besar dana hasil aksi korporasi akan diarahkan untuk memperkuat bisnis data center melalui NGC dan NAC. Perseroan juga masih memiliki fasilitas pinjaman pemegang saham hingga Rp4 triliun dari NDC untuk mendukung pembangunan pusat data.
Jadwal Penting Right Issue
- RUPSLB: 7 September 2026
- Tanggal efektif: 22 Oktober 2026
- Cum HMETD pasar reguler dan negosiasi: 30 Oktober 2026
- Ex HMETD pasar reguler dan negosiasi: 2 November 2026
- Cum HMETD pasar tunai: 3 November 2026
- Recording date untuk memperoleh HMETD: 3 November 2026
- Ex HMETD pasar tunai 4 November 2026
- Distribusi HMETD 4 November 2026
- Pencatatan HMETD di BEI 5 November 2026
- Perdagangan HMETD 5–18 November 2026
- Periode pelaksanaan HMETD 5–18 November 2026
- Periode distribusi saham hasil HMETD 9–20 November 2026