Wall Street Bangkit Usai Sepekan Bergejolak, Saham Teknologi Melonjak hingga 13%
Indeks bursa saham Wall Street di Amerika Serikat ditutup naik pada perdagangan pekan lalu, Jumat (25/9). Saham-saham AS rebound setelah sepekan mengalami gejolak karena kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury yang turut memengaruhi pasar keuangan.
Indeks S&P 500 naik 0,51% menjadi 7.743,41. Sementara itu, Nasdaq Composite bertambah 0,5% menjadi 27.068,72. Dow Jones Industrial Average tumbuh 478,64 poin atau 0,93% ke level 51.828,62.
Presiden The Wealth Alliance Eric Diton mengatakan, sentimen investor mulai turun seiring kenaikan imbal hasil obligasi. Sementara itu sentimen bearish atau pesimis meningkat tajam dibandingkan dua pekan sebelumnya.
Kendati demikian, Diton menilai pasar masih menunjukkan ketahanan yang kuat menghadapi berbagai perkembangan tersebut. Indeks S&P 500 dan Nasdaq saat ini berada sekitar 1% di bawah level tertingginya baru-baru ini.
"Jika suku bunga terus naik, dampaknya terhadap kinerja pasar pada akhirnya akan semakin besar," ujar Diton dikutip dari CNBC, Senin (28/9).
Adapun Akamai Technologies menjadi salah satu saham yang mencatat kenaikan terbesar pada perdagangan kemarin. Saham perusahaan teknologi itu naik 3% setelah mengumumkan kerja sama multiyears dengan Anthropic.
Sementara itu saham-saham teknologi seperti Meta Platforms melonjak hampir 13% dalam sepekan karena antusiasme terhadap agen kecerdasan buatan (AI) miliknya bernama Muse. Sektor teknologi informasi naik 3,1% sepekan dan menjadi sektor dengan kenaikan terbesar di antara seluruh sektor dalam indeks S&P 500.
Sentimen pasar juga terkerek oleh penurunan harga minyak di tengah kabar Selat Hormuz bisa kembali dibuka. Iran telah meminta AS untuk kembali pada nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) yang disepakati pada Juni, tetapi gagal mengakhiri konflik di Timur Tengah.
Kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 2,33% menjadi US$ 92,41 per barel. Sementara itu, kontrak berjangka minyak mentah Brent, yang menjadi acuan internasional, turun 2,14% menjadi US$104,32 per barel.
Di lain sisi, gejolak di pasar obligasi terus berlanjut. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun naik ke level tertinggi sejak 2007, sedangkan imbal hasil tenor 30 tahun mencapai level tertinggi sejak 2004. Keduanya terakhir tercatat naik tipis masing-masing menjadi 5,163% dan 5,488%.
Kenaikan imbal hasil obligasi sepanjang pekan ini dipicu oleh pernyataan hawkish Gubernur Federal Reserve Michael Barr, harga energi yang terus tinggi akibat perang Iran serta laporan aktivitas bisnis sektor manufaktur dan jasa atau purchasing managers index (PMI) yang menunjukkan kondisi kuat.
Kontrak berjangka suku bunga The Fed menunjukkan sekitar 64% kemungkinan kenaikan suku bunga pada Oktober, berdasarkan CME FedWatch Tool.