Wall Street Menguat, S&P 500 Naik 0,70% di Tengah Optimisme Saham AI
Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street ditutup menguat pada perdagangan Senin (26/10). Kebangkitan saham kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) disebut menjadi katalis.
Indeks S&P 500 naik 0,70% atau 53,17 poin ke level 7.676,85. Indeks Dow Jones Industrial Average juga menguat 0,28% atau 146,42 poin ke level 52.361,58. Sementara Nasdaq Composite menguat +0,82% menjadi 26.169,38.
Dilansir dari Bloomberg, penguatan Wall Street ditopang kebangkitan kembali saham-saham terkait AI. Hal ini menyusul langkah Anthropic PBC yang mengajukan penawaran umum perdana saham alias initial public offering (IPO).
Investor juga mencermati laporan kinerja keuangan sejumlah raksasa teknologi dan keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed) yang akan diumumkan pekan ini.
Saham-saham produsen cip terkemuka menguat dan mendorong indeks sektor semikonduktor naik 2,8%. Sementara itu, indeks Nasdaq 100 naik 1,1%.
Pengajuan IPO Anthropic menjadi salah satu perhatian pasar karena dapat menguji kembali minat investor terhadap industri AI. Optimisme terhadap teknologi tersebut sebelumnya menjadi salah satu pendorong reli pasar saham selama empat tahun terakhir.
Perusahaan pengembang chatbot Claude itu berencana mencatatkan sahamnya di Nasdaq Global Select Market dengan kode saham ANT.
“ANT jelas telah membangkitkan kembali antusiasme terhadap segala hal yang berkaitan dengan AI, yang sempat menghilang dari sentimen pasar selama beberapa pekan terakhir,” kata Steve Sosnick dari Interactive Brokers.
Menurut dia, IPO tersebut akan menjadi ujian penting untuk melihat sikap dan minat investor terhadap saham-saham yang berkaitan dengan AI.
Selain IPO Anthropic, investor juga menantikan laporan keuangan Alphabet, Microsoft, dan Amazon yang dijadwalkan terbit pekan ini. Ketiga perusahaan tersebut merupakan pembelanja besar dalam pengembangan teknologi AI.
Pelaku pasar akan mencermati proyeksi belanja AI perusahaan-perusahaan tersebut serta sejauh mana investasi yang telah dilakukan mampu menghasilkan keuntungan.
“Fokus utama adalah berapa banyak yang diperkirakan akan dibelanjakan perusahaan-perusahaan ini untuk AI ke depannya dan apakah belanja tersebut masih dapat dibiayai dari arus kas, atau apakah penerbitan saham dan utang akan diperlukan,” kata Richard Saperstein dari Treasury Partners.
Di sisi lain, perhatian investor juga tertuju pada keputusan suku bunga The Fed. Kevin Warsh akan menghadapi tantangan untuk meyakinkan pasar bahwa bank sentral AS tetap berkomitmen menekan inflasi apabila suku bunga dipertahankan.
Saperstein memperkirakan The Fed tidak akan menaikkan suku bunga pada Rabu. Menurut dia, pasar obligasi telah lebih dahulu memperketat kondisi kredit sejak pertemuan terakhir bank sentral AS tersebut.
“Kami memperkirakan akan ada pernyataan tegas mengenai inflasi, tetapi tindakan yang diambil cenderung lunak,” ujarnya.
Seema Shah dari Principal Asset Management menilai siklus pengetatan moneter kali ini kemungkinan relatif terbatas. Hal tersebut karena para pembuat kebijakan terutama merespons tekanan inflasi akibat kenaikan harga energi dan dinamika nilai tukar, bukan karena perekonomian mengalami pemanasan berlebihan secara signifikan.
Shah menambahkan, The Fed berpotensi menaikkan suku bunga pada Desember dan kembali menaikkannya pada 2027.