BRI Siapkan Rp 1 Triliun untuk Buyback Saham hingga Januari 2027

Katadata/Fauza Syahputra
Ilustrasi Bank Rakyat Indonesia (BRI).
Editor: Ahmad Islamy
27/10/2026, 09.34 WIB

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menyiapkan dana maksimal Rp 1 triliun untuk melanjutkan aksi pembelian kembali saham atau buyback tahap II. Aksi korporasi itu dijadwalkan berlangsung pada 22 Oktober 2026 hingga 21 Januari 2027.

Corporate Secretary BRI Dhanny mengatakan, pelaksanaan buyback secara bertahap merupakan bagian dari strategi perseroan untuk mengoptimalkan nilai bagi pemegang saham. Dalam menjalankan aksi tersebut, BRI tetap mempertimbangkan kondisi keuangan dan ketentuan yang berlaku.

“Langkah buyback saham ini mencerminkan keyakinan BRI terhadap fundamental bisnis dan prospek pertumbuhan jangka panjang. Perseroan tetap mengedepankan kecukupan permodalan, prinsip kehati-hatian, serta penerapan tata kelola perusahaan yang baik sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” ungkap Dhanny dalam keterangan tertulis, Selasa (27/10).

Berdasarkan keterbukaan informasi pada 22 Oktober 2026, alokasi dana maksimal Rp 1 triliun tersebut merupakan kelanjutan dari program buyback yang telah dilakukan BRI pada tahun ini. Sebelumnya, pada 12 Juni lalu, BRI mengalokasikan dana maksimal Rp 500 miliar untuk buyback tahap I yang berlangsung hingga 11 September 2026. 

Adapun pemegang saham telah menyetujui program buyback dengan nilai maksimal Rp 3 triliun dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) BBRI pada 24 Maret 2025.

Dhanny menjelaskan, keputusan untuk melanjutkan buyback turut mempertimbangkan dinamika pasar global. Mulai dari ketidakpastian ekonomi, ketegangan geopolitik, pergerakan harga komoditas, hingga arus modal yang memengaruhi volatilitas pasar keuangan Indonesia.

Menurut dia, fundamental bisnis dan prospek pertumbuhan jangka panjang menjadi pertimbangan perseroan dalam menjalankan strategi tersebut.

Dari sisi kinerja keuangan, BBRI membukukan laba bersih Rp 31,2 triliun hingga akhir triwulan II 2026. Total aset perseroan tumbuh 11,7% secara tahunan menjadi Rp 2.352 triliun.

Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) meningkat 6,7% secara tahunan menjadi Rp 1.581 triliun. Penyaluran kredit dan pembiayaan juga tumbuh 16,2% menjadi Rp 1.646 triliun.

Kinerja tersebut ditopang oleh rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) sebesar 21,5%. Adapun rasio kredit terhadap dana pihak ketiga atau loan to deposit ratio (LDR) tercatat sebesar 90,8%.

Dhanny mengatakan, posisi permodalan dan likuiditas tersebut memberikan ruang bagi BRI untuk menjalankan fungsi intermediasi sekaligus menjaga pertumbuhan bisnis secara sehat dan berkelanjutan.

“Ke depan, BRI akan tetap berfokus pada penguatan kinerja bisnis dan mendorong pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan. Dengan fundamental dan permodalan yang kuat, kami optimistis BRI memiliki ruang untuk terus bertumbuh serta memberikan hasil yang optimal bagi pemegang saham dalam jangka panjang,” ucapnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nuzulia Nur Rahmah