BEI Hitung Dampak Saham HSC Keluar dari IHSG, Apa Pengaruhnya ke Market Cap?

Katadata/Fauza Syahputra
Layar digital menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (23/10/2026).
Penulis: Karunia Putri
Editor: Ahmad Islamy
27/10/2026, 11.40 WIB

Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan pengecualian 81 saham yang terkonsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC) dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tidak akan menurunkan total kapitalisasi pasar bursa. Padahal, kapitalisasi pasar 81 emiten tersebut mencapai 30% dari total kapitalisasi pasar BEI.

Direktur Pengembangan BEI Iding Pardi menjelaskan, bobot saham HSC dalam IHSG hanya sekitar 18%. Menurut dia, penghapusan saham-saham tersebut dari IHSG tidak akan mengurangi total kapitalisasi pasar bursa karena perhitungannya tetap mencakup seluruh saham, termasuk emiten HSC.

“Adapun market cap (kapitalisasi pasar) dihitung dari semua saham, termasuk HSC,” ungkap Iding dalam keterangannya dikutip Selasa (27/10).

Berdasarkan data BEI secara intraday pada pukul 10.50 WIB, kapitalisasi pasar bursa mencapai Rp 9.441 triliun. Sementara itu, IHSG turun 0,22% dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya ke level 5.361.

Secara terpisah, Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan, bursa telah melakukan backtest untuk mengukur dampak penghapusan saham HSC terhadap pergerakan IHSG. Hasilnya, penghapusan tersebut diperkirakan tidak akan memicu penurunan indeks secara drastis.

Jeffrey menjelaskan, bobot saham yang dikeluarkan dari indeks akan didistribusikan kembali ke saham-saham lain yang masih menjadi konstituen IHSG. Dengan demikian, pergerakan indeks selanjutnya akan bergantung pada perubahan harga saham-saham yang tersisa.

“Kami sudah melakukan backtest bahwa dengan pengeluaran saham-saham HSC tidak akan mengakibatkan lonjakan, tetapi dapat mengakibatkan IHSG kita yang lebih kredibel,” kata Jeffrey dalam konferensi pers di Gedung BEI, Senin (26/10).

Menurut Jeffrey, langkah tersebut diharapkan membuat IHSG menjadi acuan yang lebih kredibel bagi investor dalam melacak kinerja pasar saham Indonesia.

Selain menghapus saham HSC dari indeks, BEI juga akan mengumumkan indikasi awal dimulainya investigasi terhadap dugaan pelanggaran di pasar modal. Dalam proses tersebut, bursa dapat mengambil tindakan pengawasan dengan berkoordinasi bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK), termasuk membatasi atau menghentikan sementara aktivitas rekening efek tertentu.

BEI juga memiliki kewenangan untuk memeriksa anggota bursa, termasuk transaksi yang dilakukan melalui perantara tersebut. Jeffrey mengatakan, langkah pengawasan itu segera dilakukan dan diharapkan mulai berjalan pada awal bulan depan.

Bursa akan mulai mengeluarkan saham-saham yang masuk dalam daftar HSC dari perhitungan IHSG per 2 November 2026. 

Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, memproyeksikan IHSG berpotensi naik ke level 5.925 dalam jangka panjang. Proyeksi tersebut mengacu pada level IHSG di kisaran 4.997 pada penutupan perdagangan Senin (19/10).

Harry menilai saham-saham HSC selama ini memberikan tekanan terhadap indeks. Karena itu, pengeluaran saham-saham tersebut dari perhitungan IHSG berpotensi membuat pergerakan indeks terlihat lebih baik.

“Kan HSC stocks drop-nya paling banyak, jadi kalau dikeluarkan, indeks kita naik. Saham HSC paling besar menurunkan indeks,” ujar Harry.

Analis pasar modal Hendra Wardana menjelaskan, kebijakan itu dapat membuat IHSG lebih mencerminkan pergerakan saham yang likuid dan memiliki distribusi kepemilikan lebih luas. Sebab, saham yang hanya dimiliki segelintir pihak dan memiliki porsi saham publik terbatas dinilai lebih rentan mengalami pergerakan harga yang tajam.

Jika saham-saham semacam itu memiliki bobot besar dalam indeks, pergerakan IHSG berisiko lebih dipengaruhi oleh perubahan harga pada sejumlah saham, bukan semata-mata kondisi pasar secara keseluruhan.

BEI menyebut bobot saham HSC mencapai sekitar 18% terhadap IHSG. Sebelumnya, bursa juga telah mengeluarkan saham-saham HSC dari sejumlah indeks unggulan, seperti IDX30, LQ45 dan IDX80.

Kendati demikian, Hendra mengingatkan bahwa indeks yang lebih representatif tidak serta-merta membuat harga saham menjadi lebih wajar. Saham HSC tetap diperdagangkan sehingga risiko pergerakan harga yang terkoordinasi tidak otomatis hilang. Perubahan ini hanya membatasi dampak pergerakan saham tersebut terhadap IHSG.

Hendra juga menyoroti perbedaan angka dalam informasi mengenai bobot saham HSC. Infografis yang beredar menyebut 80 saham HSC mencakup sekitar 28,78% dari total kapitalisasi pasar per 16 Oktober 2026. Sementara BEI menyatakan bobot saham HSC terhadap IHSG cuma sekitar 18%.

Ia menduga perbedaan tersebut berkaitan dengan basis perhitungan yang berbeda, yakni kapitalisasi pasar total dibandingkan bobot dalam indeks setelah penyesuaian saham beredar. Namun, ia menegaskan, dugaan tersebut bukan penjelasan resmi sehingga BEI perlu memerinci lagi metodologi perhitungannya.

Hendra mengidentifikasi sejumlah risiko dari kebijakan tersebut. Dalam jangka pendek, penyesuaian komposisi indeks dapat memicu gejolak teknis, termasuk ketika pengelola dana yang mengikuti indeks perlu menata ulang portofolionya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Karunia Putri