Semester I 2019 Laba BRI Hanya Tumbuh 8%, Terbebani Danareksa

Bank BRI KATADATA | Agung Samosir
BRI raih laba bersih sebesar Rp 16,16 triliun sepanjang semester I 2019. Capaian tersebut tumbuh 8,19% secara tahunan dibandingkan periode yang sama 2018.
Penulis: Ihya Ulum Aldin
14/8/2019, 13.45 WIB

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) berhasil membukukan laba bersih secara konsolidasi pada semester I 2019 sebesar Rp 16,16 triliun, tumbuh 8,19% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu (year on year). Kendati demikian, capaian pertumbuhan laba BRI tersebut lebih lambat dibandingkan pertumbuhan di semester I 2018 yang mencapai 11%.

Direktur Utama BRI Suprajarto mengatakan, melambatnya pertumbuhan laba BRI karena terbebani oleh Danareksa Sekuritas yang baru saja mereka akuisisi. "Banyak masalah di sana, tapi itu sudah dalam perhitungan valuasi pada saat kami ambil (akusisi)," kata Suprajarto saat memaparkan kinerja semester I 2019 di kantornya, Jakarta, Rabu (14/8).

Meski begitu, Suprajarto meyakinkan saat ini BRI sedang berupaya melakukan perbaikan dan yakin pada akhir tahun ini dapat selesai. Tidak hanya Danareksa Sekuritas, anak usaha lainnya yaitu BRI Agro dan BRI Syariah juga sedang dalam tahap pembenahan.

(Baca: BRI Raih Laba Bersih Rp 8,2 Triliun pada Kuartal I 2019)

"Kami bersihkan semua. Saya tidak mau ada yang disembunyikan NPL-nya (non-performing loan/kredit bermasalah)," kata Suprajarto. Dengan target selesai dibenahi pada akhir tahun ini, Suprajarto meyakini anak-anak usahanya tersebut bisa memberikan kontribusi pendapatan yang cukup baik buat induk secara kondsolidasi.

Kredit BRI Tumbuh 11,8%

Terkait kinerja pada enam bulan pertama tahun ini, BRI mampu menyalurkan kredit senilai Rp 888,32 triliun. Pencapaian ini meningkat 11,84% di bandingkan penyaluran pada periode yang sama tahun sebelumnya. Penyaluran kredit BRI masih didominasi oleh penyaluran ke segmen UMKM yaitu sebesar 76,72% atau senilai Rp 681,50 triliun, tumbuh 13% year on year.

Suprajarto menjelaskan, pencapaian tersebut selaras dengan strategi perseroan yang terus memperbesar porsi penyaluran kredit ke segmen UMKM. Dia mengatakan, BRI terus meningkatkan komposisi kredit UMKM dibandingkan dengan kredit korporasi.

"Kami targetkan, di 2022 komposisi penyaluran kredit UMKM BRI mencapai 80% dari total portofolio kredit BRI," kata Suprajarto.

(Baca: Kinerja Keuangan Triwulan I-2019 Bank Pelat Merah, BRI Paling Cuan)

BRI juga melakukan pembiayaan kepada para pelaku UMKM melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR). Hingga akhir Juni 2019, penyaluran KUR BRI telah mencapai Rp 50,29 triliun kepada lebih dari 1,2 juta debitur. Capaian itu setara dengan 57,8% dari target KUR yang diberikan kepada BRI oleh Pemerintah di 2019 sebesar Rp 86,97 triliun.

Di sisi lain, penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) BRI sepanjang semester I mencapai Rp 945,05 triliun atau tumbuh 12,78%. Proporsi DPK BRI masih didominasi oleh dana murah (CASA) berupa tabungan dan giro dengan komposisi mencapai 57,35%. DPK BRI tumbuh jauh di atas pertumbuhan DPK industri perbankan di semester I 2019 yang hanya 7,42% secara tahunan berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Catatan lainnya pada kinerja BRI pada semester I 2019 yaitu NPL gross BRI tercatat sebesar 2,51% dengan NPL coverage 175,57%. Sementara rasio pinjaman terhadap simpanan alias loan to deposit ratio (LDR) BRI sebesar 94%, sedangkan rasio kecukupan modal alias capital adequacy ratio (CAR) berada pada level 21,04%.

(Baca: BRI Siap Suntik Rp 1 Triliun untuk Penyertaan Modal ke Finarya)

Reporter: Ihya Ulum Aldin