Pencipta Ethereum Jadi Miliarder, Ini Penyebab Harganya Naik Terus

PXHERE.com
Bitcoin masih menguasai pangsa pasar uang kripto global.
Editor: Yuliawati
5/5/2021, 12.10 WIB

Mata uang kripto Ethereum atau Ether menjadi sorotan karena harganya yang terus menanjak. Kenaikan harga yang pesat ini membuat pencipta mata uang ini, Vitalik Buterin (27) menjadi seorang miliarder.

Berdasarkan laporan Forbes, Buterin memiliki 333.520 koin ethereum. Dengan jumlah koin itu, kekayaan Buterin diperkirakan sekitar US$ 1,1 miliar atau sekitar Rp 15,86 triliun.

Koin dengan kode ETH pada Rabu (5/5) kembali menyentuh rekor tertinggi yakni US$ 3.523 per koin atau sekitar Rp 50,821 juta per keping. Mengutip laman coinmarketcap.com, pukul 10.35 WIB pergerakan harga Ether mencatatkan kenaikan 1,12% dengan volume perdagangan naik 11,16% dalam 24 jam ke level US$ 3.289 per eth.

Ether saat ini penguasa pangsa pasar terbesar kedua setelah Bitcoin, dengan dominasi kapitalisasi pasar uang kripto dunia sebanyak 16,89%.
Posisi pertama ditempati Bitcoin dengan menguasai 45,78% pangsa pasar uang kripto global.

Minat masyarakat Indonesia terhadap Ethereum menunjukkan peningkatan. COO Tokocrypto Teguh Kurniawan Harmanda menyatakan ETH menjadi salah satu aset kripto favorit yang diperjual belikan di Tokocrypto setelah Bitcoin.

Pertumbuhan transaksi ETH di Tokocrypto per April 2021 kurang lebih mencapai US$ 25 juta (sekitar Rp 360 miliar) atau naik 1.437,5% dibandingkan Desember 2020 yang baru sekitar US$ 2 juta. Lonjakan kenaikan tersebut turut didukung maraknya proyek kripto yang dibangun di atas smart contract Ethereum.

Salah satunya penggunaan Ethereum dalam sistem non-fungible token atau NFT. NFT merupakan sistem teknologi blockchain yang berfungsi sebagai sertifikat keaslian digital yang akan menjamin kepemilikan resmi pihak yang memiliki aneka karya virtual seperti foto, video, animasi dan lain sebagainya melalui teknologi blockchain.

"Non-fungible token (NFT) juga diserbu banyak orang penting, mulai dari CEO, artis hingga atlet, hype nya di luar sana juga mulai merambah ke Indonesia. Penggunaan sistem pelelangan non-fungible (NFT) juga menggunakan jaringan Ethereum dan menggunakan kriptonya," kata Harmanda kepada Katadata.co.id, Selasa (4/5).

Harmanda menjelaskan, banyak orang yang menggunakan Ethereum untuk menjalankan DApps atau Decentralized Exchange Apps dengan tujuan untuk memotong perantara dalam industri. DApps tersebut mengandalkan smart contract dan Ethereum adalah pelopor smart contract dan yang terbesar di blockchain.

"Yang bisa dinikmati dari DApps sendiri seperti pinjaman langsung yang menghasilkan bunga, pembayaran langsung, streaming lagu di mana royalti langsung diterima oleh artis yang bersangkutan, bukan ke platform streaming atau label rekaman, lelang seni tanpa juru lelang, pasar untuk NFT, hingga permainan online," kata dia.

Selain itu, Harmanda mengungkapkan banyak alasan di balik kenaikan harga Ethereum. Pertama, harga Ethereum dan sebagian besar crypto assets utama di pasar mengikuti harga Bitcoin bergerak naik dan turun.

Ethereum sudah bertahun-tahun di belakang Bitcoin dalam segala hal kecuali harga dan ketenaran. Belakangan, pamor Ethereum meningkat, ditunjukkan Bank Investasi Eropa mengeluarkan penjualan obligasi digital pertamanya di jaringan blockchain Ethereum. Bloomberg melaporkan penjualan tersebut akan dipimpin oleh Goldman Sachs, Banco Santander, dan Societe Generale.

Meningkatnya transaksi Ethereum dalam beberapa bulan terakhir juga dipicu melonjaknya minat dari investor institusional utama. Ditambah lagi, pasokan Ethereum telah menurun di tengah meningkatnya permintaan dan bisnis telah berinvestasi di startup yang berputar di sekitar Ethereum, termasuk nama-nama besar seperti Mastercard, UBS, dan JPMorgan.

Dengan berkaca pada kondisi saat ini, dia optimistis 2021 akan menjadi tahun untuk Ether. "Saya sendiri cenderung masih berkutat pada BTC dan Ether saja, lantaran kedua uang kripto tersebut masih jadi yang paling kuat dan paling likuid saat ini," ungkapnya.

Sementara itu, Co-founder CryptoWatch Christopher Tahir menilai potensi harga Ether menuju level US$ 6.000 per eth masih cukup terbuka. Harapannya, dengan diupgradenya jaringan Ethereum menjadi Ethereum 2.0 dengan menggunakan algoritma konsensus Proof of Stake, maka biaya transaksi ke depan bisa ditekan.

Selain itu, proses transaksi diprediksi bisa lebih cepat dengan skalabillitas ekosistem yang terakselerasi. "Dengan begitu Ether akan terakselerasi lebih jauh lagi," ujar Chris.

Chris memandang belum banyak institusi yang berinvestasi ke uang kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar kedua di dunia tersebut. "Saya melihatnya ETH dijadikan tempat untuk diversifikasi mengingat akan likuiditasnya yang juga mumpuni," katanya.