Kredit Tumbuh 10,5%, BNI Catat Laba Rp 15,11 Triliun

Dok. BNI
Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan mengatakan, kinerja perusahaan tetap tangguh seiring penguatan kualitas portofolio dan efisiensi pendanaan yang disiplin.
24/10/2025, 10.06 WIB

Emiten perbankan pelat merah PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) atau BNI membukukan laba bersih sebesar Rp 15,11 triliun sepanjang hingga kuartal ketiga 2025, turun 7,3% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Laba turun meski penyaluran kredit tumbuh mencapai 10,5% menjadi Rp 8112 triliun. 

Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan mengatakan, kinerja perusahaan tetap tangguh seiring penguatan kualitas portofolio dan efisiensi pendanaan yang disiplin. "Keberhasilan ini menunjukkan kemampuan BNI untuk tetap adaptif dalam menghadapi tantangan, sambil terus mendorong pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan," ujar Putrama dalam keterangan tertulis.

Ia menjelaskan, kualitas aset pun tetap terjaga. Rasio kredit bermasalah (NPL gross) berada di kisaran 2,0%, sementara Loan at Risk (LAR) membaik ke level 10,4%, mencerminkan keberhasilan BNI menjaga kualitas aset melalui penerapan manajemen risiko yang kuat dan strategi ekspansi bisnis yang sehat dan prudent.

BNI juga mencatat rasio permodalan yang solid, dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) mencapai 21,1%, termasuk Tier-1 Capital yang tetap kuat. Likuiditas juga berada pada level aman dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 86,9%, Liquidity Coverage Ratio (LCR) 167,4%, dan Net Stable Funding Ratio (NSFR) 142,1%.

Kredit Tumbuh Dua Digit, CKPN Diperkuat

Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena menjelaskan, pertumbuhan kredit hingga semester I 2025  merata di seluruh segmen bisnis.  Kredit korporasi naik 12,4% secara tahunan menjadi Rp450,7 triliun, ditopang peningkatan pembiayaan kepada korporasi swasta, BUMN, dan institusi.

Sementara itu, kredit segmen menengah tumbuh 14,3% secara tahunan, dan kredit UMKM non-KUR meningkat 13,9% secara tahunan menjadi Rp46,3 triliun.

Segmen konsumer juga menunjukkan kinerja positif dengan pertumbuhan 9,6% secara tahunan menjadi Rp150,2 triliun, ditopang pembiayaan KPR, personal loan, dan kartu kredit. Sinergi dengan anak perusahaan turut memperkuat ekosistem bisnis BNI, tercermin dari pertumbuhan kredit usaha di level grup yang naik 15,3% secara tahunan menjadi Rp 17,4 triliun.

Meski kredit tumbuh kencang, pendapatan bunga bersih konsolidasi tercatat turun dari Rp 29,43 triliun menjadi  Rp 29,25 triliun. Pendapatan bunga tercatat Rp 51,16 triliun dan beban bunga sebesar Rp 21,91 triliun. 

Di sisi lain, perseroan juga memperkuat ketahanan keuangannya melalui pembentukan cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) yang solid dan disiplin.

Hingga akhir kuartal III 2025, CKPN BNI tercatat sebesar Rp 34,7 triliun, dengan rasio cakupan terhadap kredit bermasalah (NPL coverage ratio) mencapai 222,7%. Penguatan cadangan yang dilakukan secara selektif ini menegaskan komitmen BNI dalam mengantisipasi potensi risiko kredit serta menjaga ketahanan keuangan yang berkelanjutan.

"Kami terus memperkuat kualitas portofolio kredit dan menerapkan risk-based provisioning untuk memastikan ketahanan jangka panjang," kata Paolo.

CASA dan Fee Income

Direktur Treasury & International Banking Abu Santosa Sudradjat menuturkan, strategi digital transaction banking yang agresif telah menciptakan pertumbuhan yang kuat. BNI mencatat Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 21,4% secara tahunan menjadi Rp 934,3 triliun, dengan CASA naik 13,3% secara tahunan menjadi Rp 613,4 triliun.

"Porsi dana murah ini memperkuat struktur pendanaan dan menekan biaya dana (cost of fund), menjaga profitabilitas tetap sehat," ujar Abu.

Selain peningkatan DPK khususnya CASA, strategi digital transaction banking yang agresif juga menghasilkan pertumbuhan fee-based income sebesar 11% secara tahunan dan berkontribusi sebesar 30% dari total fee-based income BNI hingga akhir kuartal III tahun 2025.

Likuiditas BNI juga terpantau longgar dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) tercatat di level 86,88%,

Di sisi lain, BNI juga terus memperkuat posisi sebagai pelopor keuangan berkelanjutan di Indonesia.  Direktur Risk Management BNI David Pirzada menjelaskan bahwa langkah ini menjadi bukti komitmen BNI dalam mempercepat transisi menuju ekonomi hijau.

"Seluruh dana hasil penerbitan Sustainability Bond dialokasikan untuk proyek-proyek hijau yang memenuhi kriteria lingkungan. Kami ingin memastikan pembiayaan tidak hanya berdampak ekonomi, tetapi juga sosial dan lingkungan," katanya.

Hingga akhir September 2025, portofolio berkelanjutan BNI mencapai Rp192,4 triliun atau 24% dari total kredit, terdiri dari pembiayaan sosial-ekonomi dan pembiayaan hijau.

 
 
 
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nur Hana Putri Nabila