Visa Indonesia Bidik Kerja Sama dengan BPD yang Ingin Akses Jaringan Global
Perusahaan sistem pembayaran, Visa Indonesia, membidik kerja sama dengan bank-bank pembangunan daerah (BPD) yang ingin memperluas jangkauan sistem pembayarannya hingga ke luar negeri. Kerja sama co-branding ini sudah berjalan dengan beberapa BPD, seperti PT Bank Jakarta dan PT Bank Sumsel Babel.
"Visa membantu BPD untuk terus meningkatkan peran strategisnya untuk memberikan layanan digital untuk financial inclusion dan menjangkau lebih banyak provinsi supaya ekonomi Indonesia lebih maju," ujar Vira Widiyasari, Country Manager Visa Indonesia, dalam konferensi pers 'Bringing The World Closer, Taking Indonesia Further' di Jakarta, Jumat (6/2).
Vira mencontohkan kerja sama yang dilakukan perusahaannya dengan Bank Jakarta dengan meluncurkan kartu debit Visa-Bank Jakarta pada 5 Januari 2026. Kerja sama tersebut memungkinkan nasabah Bank Jakarta mengakses transaksi di luar negeri dengan memanfaatkan jaringan Visa. Misalnya, ketika ingin bertransaksi dengan kartu debit saat melaksanakan ibadah umrah di Makkah.
"Bank Jakarta ingin IPO dan ingin lebih relevan dengan konsumen. Ke depan, ada banyak opportunity yang kami garap dengan bank-bank BPD," kata Vira.
Ia mengatakan tidak ada kriteria khusus bagi BPD yang ingin bekerja sama dengan Visa untuk mengakses jaringan sistem pembayaran global. Dalam kerja sama tersebut, Visa Indonesia akan melakukan pendampingan dan transfer pengetahuan kepada sumber daya manusia di BPD.
Buka Kerja Sama dengan Fintech
Selain kerja sama dengan BPD, Visa Indonesia juga bekerja sama dengan bank digital dan perusahaan teknologi finansial (fintech) yang ingin meluncurkan kartu debit atau kartu kredit digital Visa. Vira menyebut salah satu bank digital yang telah bekerja sama dengan Visa Indonesia adalah PT Bank Jago Tbk.
"Bank Jago telah mengeluarkan kartu debit Visa dengan co-branding. Kami juga ada kerja sama dengan fintech seperti Xendit dan Yap!," kata Vira.
Vira menilai pasar sistem pembayaran nontunai (cashless) di Indonesia masih memiliki ruang untuk tumbuh mengingat masih banyak masyarakat yang menggunakan uang tunai. Ia mengatakan Visa Indonesia tidak bersaing dengan sistem pembayaran lain, seperti QRIS.
"Kami tidak bersaing dengan QRIS, Visa menjadi komplementer karena banyak juga yang bertransaksi dengan QRIS tetapi sumber dananya dari kartu debit atau kartu kredit Visa," ujarnya.