Rupiah Dibuka Menguat Pagi Ini di Tengah Harapan De-Eskalasi Peran Iran - Israel
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada Rabu (4/3) diproyeksikan menguat ke Rp 16.880 di tengah sentimen yang membaik oleh harapan deeskalasi perang di Timur Tengah. Berdasarkan Bloomberg, kurs rupiah dibuka menguat 7 poin atau 0,04% ke level 16.885 per dolar AS. Rupiah pun perlahan bergerak naik ke level 16.882 per dolar AS hingga pukul 09.15 WIB.
“Kemungkinan ada ruang apresiasi hari ini ke Rp 16,880 per US dolar,” kata Senior Ekonom KB Valbury Sekuritas Fikri C Permana Rabu (4/3).
Adapun pada penutupan perdagangan hari sebelumnya, rupiah ditutup melemah di level Rp 16.892 per dolar Amerika Serikat (AS). Ini membuat rupiah melemah 0,12% dibanding penutupan hari sebelumnya di Rp 16.972 per dolar AS. Kemudian dibuka menguat pada perdagangan pagi ini.
Di tengah meningkatkan risiko konflik regional yang lebih luas, sejumlah pemimpin dunia mulai mendorong jalur diplomasi sebagai upaya meredakan ketegangan dan membuka peluang de-eskalasi konflik. Sekretaris Jenderal António Guterres menegaskan bahwa penggunaan kekuatan militer hanya akan memperburuk situasi dan mengancam stabilitas global.
“Saya mengutuk eskalasi militer yang terjadi di Timur Tengah. Penggunaan kekuatan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, serta tindakan balasan Iran di seluruh kawasan, merusak perdamaian dan keamanan internasional,” ujarnya dalam pernyataan resmi.
Laporan lain menyebut sejumlah pejabat intelijen Iran disebut membuka kemungkinan pembicaraan dengan CIA untuk membahas cara mengakhiri perang, meskipun kabar ini dibantah oleh sebagian pihak di Iran.
Selain harapan adanya perdamaian di Timur Tengah Fikri juga menyebutkan faktor lainnya yang akan mempengaruhi Rupiah hari ini, misalnya tarif impor AS 15% yg akan segera berlaku.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump baru-baru ini mengumumkan tarif global sebesar 15%. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent mengatakan bahwa tarif tersebut kemungkinan mulai diberlakukan pada pekan ini.
Besaran tarif dasar tersebut naik dari sebelumnya yang ditetapkan sebesar 10%. Bessent juga memperkirakan bahwa pada Agustus mendatang, tarif Amerika Serikat secara efektif akan kembali ke tingkat yang berlaku sebelum Mahkamah Agung baru-baru ini membatalkannya.
Selain itu, di dalam negeri isi mengenai mulai terhentinya net sell Asing di pasar saham domestik serta penurunan outlook Indonesia oleh Fitch Rating kemarin juga ikut mempengaruhi rupiah.