Tips Bijak Mengelola Dana THR di Tengah Ketidakpastian Global

Pixabay
Ilustrasi tunjangan hari raya (THR) yang diterima seorang karyawan menjelang Idulfitri.
Penulis: Karunia Putri
Editor: Ahmad Islamy
6/3/2026, 13.35 WIB

Menjelang lebaran Idulfitri, tunjangan hari raya atau THR menjadi salah satu pemasukan tambahan yang paling dinantikan. Tatkala waktu pencairannya tiba, masuknya dana itu ke rekening membawa kebahagiaan tersendiri bagi para karyawan, baik ASN maupun swasta.

Tahun ini, masyarakat menerima THR dalam bayang-bayang ketidakpastian ekonomi. Baik itu karena konflik geopolitik hingga perlambatan ekonomi dunia. Jika tidak dikelola dengan baik, dana THR bisa jadi cuma “numpang lewat” saja.

Oleh sebab itu, pengelolaan THR menjadi hal yang penting agar dana tambahan yang diterima setahun sekali tersebut tidak sekadar menguap tanpa tujuan yang jelas. Sebagian dana sebaiknya dialokasikan secara lebih bijak agar memberikan manfaat jangka panjang bagi kondisi keuangan.

Perencana keuangan independen, Andy Nugroho mengatakan, sesuai namanya sebagai tunjangan hari raya, penggunaan THR memang wajar jika sebagian besar dialokasikan untuk kebutuhan lebaran.

“Contoh untuk kebutuhan membeli snack dan makanan lebaran, baju lebaran bila perlu, angpau untuk sanak saudara dan tetangga, dan untuk kebutuhan mudik atau bersilaturahmi ke kerabat bila memang akan melakukannya,” kata Andy kepada Katadata.co.id, Jumat (6/3).

Kendati demikian, Andy mengingatkan agar sebagian dana tetap disisihkan untuk tabungan dan cadangan setelah hari raya. Lantas, bagaimana cara mengelola dana THR dan ke mana saja sebaiknya dana tersebut dialokasikan?

Andy menyarankan pembagian THR dengan skema sederhana, yakni sekitar 80% untuk kebutuhan lebaran, 10% untuk tabungan dan 10% untuk cadangan kebutuhan setelah lebaran.

Menurut dia, skema tersebut tentu saja bukan harga mati. Pengelolaan THR masih bisa diatur ulang sesuai kebutuhan dan kondisi masing–masing pengguna. Misalnya, jika seseorang tidak melakukan mudik, maka anggaran lebaran dapat dikurangi dan dialihkan ke tabungan atau dana cadangan.

Bukan 'Uang Bebas Habis Pakai'

Sementara Perencana Keuangan Finante.id, Rista Zwestika mengatakan, THR sebaiknya tidak diperlakukan sebagai uang bebas yang langsung dihabiskan. Ia menilai THR justru bisa menjadi momentum untuk memperkuat kondisi finansial keluarga.

Rista membagi penggunaan THR ke dalam tiga fungsi utama. Pertama, fungsi ibadah dan sosial. Ramadan dan Lebaran adalah momentum berbagi, sehingga sebagian THR dapat dialokasikan untuk zakat, sedekah serta berbagi kepada orang tua dan keluarga.

Kedua, fungsi kebutuhan hari raya, seperti biaya mudik, makanan lebaran, pakaian seperlunya hingga pemberian uang kepada anak atau keponakan.

Ketiga, fungsi masa depan. Pos ini sering kali terabaikan, padahal sebagian THR sebaiknya tetap dialokasikan untuk tabungan, dana darurat, maupun investasi.

“Karena di tengah situasi global yang tidak pasti, mulai dari konflik geopolitik, inflasi pangan, hingga ketidakpastian ekonomi THR justru harus membantu memperkuat cash flow setelah lebaran, bukan malah membuat kondisi keuangan melemah,” ujar Rista.

Contoh Alokasi THR Setara UMR Jakarta

Agar lebih mudah dipahami, Rista mencontohkan alokasi dana THR mengacu pada upah minimum regional (UMR) Jakarta sebesar sekitar Rp 5,72 juta. Rista memberikan gambaran alokasi THR yang relatif sehat bagi penerima yang memperoleh THR setara satu bulan gaji.

Dia memaparkan, sebanyak 20% atau sekitar Rp 1,14 juta dapat dialokasikan untuk kebutuhan ibadah dan berbagi, seperti zakat, sedekah atau membantu orang tua dan keluarga.

Selanjutnya, sekitar 40% atau Rp 2,28 juta dapat digunakan untuk kebutuhan Lebaran, termasuk biaya mudik, makanan hari raya, pakaian maupun pemberian THR kepada keluarga.

Kemudian sekitar 25% atau sekitar Rp 1,43 juta dapat disisihkan untuk tabungan atau dana darurat. Pos ini dinilai penting karena pengeluaran rumah tangga biasanya meningkat setelah lebaran.

Sebesar 10% atau sekitar Rp 572 ribu dapat dialokasikan untuk investasi, misalnya pada emas atau reksa dana pasar uang.

Sementara itu, sekitar 5% atau sekitar Rp 286 ribu dapat digunakan sebagai hadiah untuk diri sendiri atau self reward, seperti makan bersama keluarga atau membeli sesuatu untuk diri sendiri.

Meskipun demikian, Rista menekankan, pembagian tersebut tetap perlu disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing keluarga. “Tapi pembagian ini disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi keluarga masing-masing ya,” kata dia.

Hindari Pengeluaran Berlebihan saat Lebaran

Rista juga mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap lebaran sebagai “bulan bebas boros” karena terpaku pada ungkapan “lebaran kan cuma setahun sekali”. Padahal, kata Rista, yang sering terjadi adalah lebaran berlangsung satu minggu, sementara dampak keuangannya bisa terasa sampai tiga bulan.

Ia menyarankan agar pengeluaran lebaran idealnya tidak melebihi 30% hingga 40% dari total THR. Jika melebihi batas tersebut, biasanya setelah lebaran muncul masalah seperti tagihan kartu kredit yang menumpuk atau tabungan yang terkuras.

Selain itu, masyarakat juga perlu mewaspadai tekanan sosial yang kerap muncul saat lebaran, seperti gengsi membeli baju baru, mengirim hampers mahal, atau mentraktir acara buka puasa bersama.

Ia juga mengingatkan agar masyarakat menyisakan sebagian THR untuk kebutuhan setelah Lebaran, seperti biaya sekolah anak, kebutuhan rumah tangga, atau cicilan rutin.

“Lebaran boleh meriah, tapi keuangan tetap harus sehat. Karena tujuan THR sebenarnya bukan hanya merayakan hari raya, tetapi juga memastikan keluarga tetap kuat secara finansial setelah Lebaran berlalu,” kata Rista.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Karunia Putri