Kredit Menganggur di Perbankan Capai Rp 2.500 T, Apa Penyebabnya?
Bank Indonesia mencatat, kredit menganggur atau undisbursed loan perbankan hingga Maret 2026 masih mencapai Rp 2.527,46 triliun atau lebih dari 20% total plafon. Kondisi ini dinilai tak lepas dari masih lesunya minat dunia usaha untuk melakukan ekspansi di tengah kondisi perekonomian yang dinilai belum sepenuhnya stabil.
Ekonom dari CELIOS Nailul Huda menilai, banyak perusahaan yang masih sangat berhati-hati dalam melakukan ekspansi saat ini untuk menghindari risiko kerugian. "Survei Apindo menunjukkan sekitar 50% perusahaan tidak ingin ekspansi, bahkan 63% tidak berencana merekrut tenaga kerja baru,” ujarnya kepada Katadata, Selasa (28/4).
Indikator lain juga menunjukkan perlambatan aktivitas industri. Data PMI manufaktur Indonesia pada Maret 2026 berada di kisaran 50 poin dan diperkirakan turun di bawah level tersebut pada April. Kondisi ini mencerminkan aktivitas manufaktur yang cenderung stagnan.
“Kalau pasar lemah, perusahaan pasti menahan produksi dan tidak ekspansi. Jadi ini upaya mereka untuk bisa bertahan in this economy. Bertahan aja mereka syukur, tidak perlu ada ekspansi,” kata Huda.
Di sisi lain, menurut Huda, perbankan secara umum juga lebih hati-hati dalam menyalurkan kredit. Hal ini seiring meningkatnya risiko kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL).
Huda pun menyoroti, NPL di segmen UMKM yang mendekati 5% sehingga membuat bank bersikap selektif. Padahal, permintaan kredit dari UMKM dinilai masih tinggi karena banyak pelaku usaha membutuhkan tambahan modal untuk bertahan di tengah tekanan ekonomi.
“Permintaan ada, tapi bank menahan karena risiko gagal bayar meningkat,” ujarnya.
Selain itu, faktor nonekonomi juga turut memengaruhi. Huda menyinggung adanya kekhawatiran di kalangan perbankan terkait potensi kriminalisasi terhadap bankir dalam proses penyaluran kredit.
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti sebelumnya menyebut, tingginya kredit menganggur menjadi pekerjaan rumah bersama. Ia menekankan masih besarnya potensi penyaluran kredit di sektor-sektor produktif seperti pertanian, konstruksi, jasa usaha, dan transportasi.
“Kami lihat rasio undisbursed loan masih di atas 20%. Ini menunjukkan ruang penyaluran kredit masih besar dan perlu dioptimalkan,” ujarnya.
BI pun mendorong bank swasta, bank asing, serta kantor cabang bank luar negeri agar lebih agresif dalam menyalurkan kredit, mengingat selama ini pertumbuhan lebih banyak ditopang oleh bank-bank Himbara.
Adapun penyaluran kredit hingga Maret 2026 masih tumbih di level satu digit, yakni sebesar 9,49 % secara tahunan. Meski masih rendah, angka ini sedikit meningkat dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 9,37%.
Pertumbuhan kredit tersebut terutama ditopang oleh kredit investasi yang tumbuh 20,85%, diikuti kredit konsumsi sebesar 5,88% dan kredit modal kerja 4,38%.
BI memproyeksikan pertumbuhan kredit sepanjang 2026 berada di kisaran 8–12%, tergantung pada dinamika permintaan dan penawaran.