Rupiah Diprediksi Fluktuatif, Kembali Dekati Rp 17.900 per Dolar AS Pagi Ini
Nilai tukar rupiah mengawali perdagangan hari ini dengan pergerakan yang cenderung stagnan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Rabu (3/6). Dilansir dari Bloomberg, rupiah membuka perdagangan di level Rp 17.863 per dolar AS, bergerak naik tipis dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya.
Meskipun begitu, pada pukul 09.10 mata uang nasional itu justru kembali melemah, berada di level Rp 17.899 per dolar AS turun 0,34% atau 61 poin. Adapun pada perdagangan sebelumnya rupiah ditutup di level Rp 17.839 per dolar Amerika Serikat melemah 0,19% atau 34 poin dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 17.805 per dolar AS.
Nilai tukar rupiah diproyeksikan bergerak fluktuatif pada perdagangan hari ini di tengah meningkatnya perhatian pasar terhadap perkembangan konflik Timur Tengah, khususnya hubungan Iran dan Amerika Serikat (AS).
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan, rupiah masih berpotensi melemah terhadap dolar AS akibat kekhawatiran pasar apabila Iran menghentikan perundingan damai dengan AS.
Kondisi tersebut dinilai dapat memicu kembali lonjakan harga minyak dunia dan meningkatkan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
“Rupiah berpotensi melemah terhadap dolar AS oleh kekhawatiran apabila Iran akan mengakhiri perundingan damai dengan AS menyebabkan harga minyak dunia kembali melonjak,” ujar Lukman kepada Katadata, Rabu (3/6).
Ia memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp 17.800 hingga Rp 17.900 per dolar AS.
Menurut Lukman, pasar saat ini sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik di Timur Tengah karena berkaitan langsung dengan stabilitas harga energi global. Jika negosiasi damai kembali terganggu, investor cenderung mencari aset aman seperti dolar AS sehingga menekan mata uang emerging market.
Sementara itu, Ekonom Senior KB Valbury Sekuritas, Fikri C Permana, melihat peluang rupiah mengalami apresiasi tipis pada perdagangan hari ini.
“Semoga ada apresiasi tipis ke Rp 17.850 per USD (dolar AS),” kata Fikri.
Ia menjelaskan, terdapat sejumlah faktor yang dapat menopang pergerakan rupiah, antara lain pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut Iran dan Hizbullah akan menghentikan aksi saling serang, meski di sisi lain Iran disebut menghentikan negosiasi.
Selain faktor geopolitik, Fikri menilai penurunan yield US Treasury pada perdagangan sebelumnya turut memberikan ruang penguatan bagi mata uang negara berkembang.
“Penurunan yield US Treasury tadi malam juga menjadi sentimen positif karena mengurangi tekanan terhadap arus modal keluar dari emerging market,” ujarnya.
Di sisi domestik, kata Fikri, fundamental eksternal Indonesia juga masih relatif terjaga. Hal itu tercermin dari surplus neraca perdagangan Indonesia yang terus berlanjut selama 72 bulan berturut-turut, meskipun nilainya mulai mengecil.
Surplus perdagangan dinilai masih menjadi bantalan penting bagi stabilitas rupiah karena membantu menjaga pasokan devisa di tengah tingginya kebutuhan dolar AS untuk impor energi, pembayaran utang luar negeri, dan repatriasi dividen.