Sentimen Negatif Masih Dominan, Rupiah Pagi Ini Tembus Rp 18.000 per Dolar AS

Katadata/Fauza Syahputra
Petugas menunjukkan pecahan mata uang rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran uang asing di Jakarta, Rabu (18/5/2026).
4/6/2026, 10.04 WIB

Pelemahan nilai tukar rupiah menembus level psikologis Rp 18.000 terhadap dolar Amerika Serikat (AS), pada Kamis (4/6). Analis menilai sentimen negatif dari eksternal maupun internal masih mendominasi dan menekan pergerakan rupiah.

Melansir dari Bloomberg, rupiah membuka perdagangan di level Rp 17.981 per dolar AS, sedangkan jelang tengah malam hingga menuju pagi rupiah berfluktuasi berkisar Rp 19.000 hingga Rp 18.000 per dolar AS.

Menurut pantauan Katadata.co.id, hingga pukul 09.22 rupiah kembali melemah, berada di level Rp 18.014 per dolar AS melemah 0,27% atau 48 poin. Pada perdagangan sebelumnya rupiah ditutup di level Rp 17.967 per dolar AS atau melemah 0,70% dibandingkan penutupan Rabu (3/6) yang berada di posisi Rp 17.839 per dolar AS.

Rupiah diproyeksikan masih berada dalam tekanan pada perdagangan hari ini di tengah penguatan dolar AS dan meningkatnya tensi geopolitik global.

Analis Doo Financial, Lukman Leong, mengatakan pelemahan rupiah dipicu oleh kombinasi sentimen eksternal yang kembali mendukung penguatan dolar AS.

“Rupiah diperkirakan akan melemah terhadap dolar AS yang menguat di tengah tensi geopolitik yang meningkat di Timur Tengah. Data pekerjaan AS Automatic Data Processing (ADP) dan Intitute for Supply Management (ISM) Jasa yang lebih kuat dari perkiraan juga ikut mendukung dolar AS,” ujar Lukman, kepada Katadata.co.id Kamis (4/6).

Menurut Lukman, rupiah diperkirakan bergerak pada rentang Rp 17.950 hingga Rp 18.100 per dolar AS. Ia menilai sentimen pasar saat ini masih cenderung negatif, meski pelemahan rupiah kemungkinan akan tertahan karena Bank Indonesia (BI) diperkirakan kembali melakukan intervensi agresif.

“Sentimen memang masih buruk, namun rupiah kembali mendekati level psikologis baru, kemungkinan BI akan mengintervensi secara agresif,” katanya.

Data Ekonomi AS Membuat Dolar AS Menguat

Senior Ekonom KB Valbury Sekuritas Fikri C Permana memperkirakan rupiah masih berpotensi ditutup melemah tipis di sekitar Rp 18.020 per dolar AS pada sore hari nanti.

Menurut Fikri, terdapat sejumlah faktor yang menekan rupiah hari ini, terutama dari sisi data ekonomi AS dan sentimen domestik.

“Data US ADP Nonfarm Employment Change pada Mei membaik dan mencapai level tertinggi sejak Januari 2025. Selain itu, meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada Desember ke level 85% juga memperkuat dolar AS,” ujar Fikri.

Selain faktor global, ia menilai pelemahan rupiah juga dipengaruhi kondisi domestik, termasuk menyusutnya surplus perdagangan Indonesia pada April 2026.

Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya mencatat surplus perdagangan April hanya sebesar US$ 89,1 juta, turun tajam dibandingkan Maret yang mencapai US$ 3,32 miliar. Kondisi ini dinilai mengurangi bantalan pasokan dolar dari ekspor.

Di sisi lain, pasar juga dibayangi rumor penghentian impor batu bara oleh Cina akibat kebijakan ekspor satu pintu melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Hal ini berpotensi menekan prospek penerimaan devisa ekspor Indonesia.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nuzulia Nur Rahmah